Love Story: Demi Cinta, Kesal tapi Setia

0
540 views
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

INI bukan kisah asmara pasangan muda, dewasa, apalagi remaja. Melainkan, pasangan lansia yang kisah rumah tangganya kerap didera prahara, tetapi mampu dipertahankan sampai tua.

Nah, kisah pasangan kakek nenek ini mungkin bisa menjadi inspirasi, bagaimana caranya mempertahankan rumah tangga sampai tua. Mereka adalah Abah dan Ambu yang usianya sudah menginjak di atas 70 tahun, keduanya nama samaran. Bukan masalah perselingkuhan atau pun masalah ekonomi yang dihadapi mereka, tetapi masalah lainnya. Yakni, kaitan si Ambu yang mempunyai kebiasaan buruk yang selama ini selalu membuat kesal Abah. Beruntung, Abah orangnya setia dan mengaku siap mempertahankan rumah tangganya dengan Ambu sampai mati. Oh so sweet.

Si nenek (panggilan istrinya-red) itu, senang belanja yang enggak penting. Asal dia senang, pasti dibeli. Makanya, lebih dari 50 tahun rumah tangga, kita enggak punya rumah yang bisa diwariskan ke anak cucu. Itu saja yang Abah sayangkan,” aku Abah.

Lantas, rumah yang ditempati sekarang rumah siapa Bah? “Itu rumah kita. Tapi, lahannya milik orang, kita menumpang. Kalau suatu saat lahannya mau dipakai, ya terpaksa dibongkar,” tukasnya.

Kehidupan Ambu yang dulunya glamor, membuat Abah susah menabung untuk masa depan. Namun, Abah tak bisa menolak semua permintaan Ambu, di mana semasa gadisnya Ambu menjadi incaran Abah. Sampai akhirnya, Abah mampu merebut hati Ambu dan berjanji untuk setia sehidup semati. Padahal, selama berumah tangga Abah tahu bahwa Ambu orangnya rewel dan bawel. Namun, tak pernah dihiraukan Abah yang memang patuh terhadap ajaran agama.

Abah selalu bersabar menghadapi Ambu karena merasa banyak kenangan indah dengan Ambu yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Terutama, saat sulitnya berjuang dan sudah banyak pengorbanan untuk mendapatkan hati seorang Ambu.

“Jujur saja Abah mah sayang sama si Nenek. Dulu, Nenek itu paling cantik loh di kampung, sekarang saja peot,” ujarnya sambil cengengesan. Ya elah, soal peot mah jangan ditanya Bah, namanya juga nenek-nenek.

Lantaran itu, Abah tidak bisa meninggalkan Ambu. Saat ini, mereka sudah dikaruniai sembilan anak dan semuanya sudah berkeluarga. Sudah pada mandiri, tinggallah Abah dan Ambu sendiri di rumah yang sederhana.

Yang bikin kesal Abah, Ambu gemar mengoleksi barang-barang bekas. Semua barang yang pernah dibelinya, masih suka dikumpulin di rumah. Makanya, kondisi rumah Abah saat ini sesak karena banyak tumpukan barang yang tidak penting. Mending barang antik, ini hanya pakaian dan perabotan rumah tangga saja. Sudah seperti gudang.

“Kalau sudah benar-benar buluk dan enggak bisa dipakai lagi, baru dibuang. Rumah sudah kayak tempat sampah saja,” ujarnya kesal.

Lantaran itu, setiap harinya keadaan rumah Abah tidak pernah beres. Soalnya, banyak tumpukan di mana-mana. Rumah sesak dengan perabotan yang berlipat-lipat ganda dan tak terawat. Seperti lemari, yang sudah bolong kacanya saja masih dibiarkan di dalam rumah, bukannya dibuang. Lainnya, kursi yang sudah tidak ada bantalannya juga, masih terpajang di ruang tamu. Belum lagi, tumpukan-tumpukan pakaian yang tergeletak dan tergantung hampir di setiap penjuru rumah. Begitu pula situasi di kamar mandi. Segala bentuk ember dan jeriken, sampai yang sudah belah memadati ruang kamar mandi yang sempit.

“Mau mandi saja susah. Jongkok salah, berdiri juga salah. Soalnya sempit, terlalu banyak perabotan. Nyamuk juga makin banyak,” keluhnya.

Lantaran itu, Abah kerap protes karena situasi demikian bisa membuat orang tidak betah di rumah. Ruangan di dalam rumah tampak kumuh dan jorok. Kondisi itu juga kerap diprotes anak-anaknya Abah. Namun, tak pernah digubris sama si Ambu.

“Kalau dikasih tahu sama Abah, si Nenek mah suka bendu (marah-red). Makanya, Abah biarin sajalah, terserah mau bagaimana juga,” terangnya.

Kalau dinasihati, yang ada Abah malah cekcok dengan Ambu. Sifat Ambu itu pun sudah dipahami betul semua anak-anaknya sehingga sampai saat ini, apa yang dilakukan Ambu tak pernah ditegur. Abah hanya memandang sisi positifnya. Yakni, Ambu pintar mengurus anak-anak sampai mereka dewasa dan bisa mandiri.

Abah juga bersyukur Ambu bisa mengatur keuangan di rumah sehingga bisa menghidupi kesembilan anak-anaknya, sampai sebagian anaknya bisa merasakan bangku kuliah. Abah sendiri, pensiunan pegawai negeri yang pendapatannya pas-pasan.

“Waktu zaman Abah jadi pegawai negeri mana ada yang mau. Gajinya kecil. Buat sendiri saja kurang. Tapi, si nenek mah pintar mengaturnya. Pokoknya, duit Rp20 ribu saja dulu Abah sama anak-anak masih bisa makan. Si nenek juga bisa beli perabotan di rumah,” katanya. Bagus dong, Bah?

“Iya, nenek pandai berhemat. Hanya, kalau sudah suka sama barang tertentu, pasti dibeli. Saya bilang, ‘Uangnya dari mana?’ Jawabnya, ‘Nenek ada kok simpanan.’ begitu. Pokoknya ada saja, alhamdulillah-lah enggak kekurangan,” jelasnya. Simpanan apa dulu tuh Bah. Hehehe.

Alasan Abah tidak meluapkan kekesalan sehingga bisa mempertahankan rumah tangga karena bangga dengan Ambu. Dari dulu Ambu tak pernah malu jalan sama Abah, meskipun Abah berasal dari keluarga biasa dan hanya memiliki motor butut saja.

“Diajak jalan-jalan pakai motor butut juga, si nenek mah mau saja. Malah, kalau Abah ke mana juga, maunya ikut saja. Ya, Abah mah senang-senang saja. Lagian, nenek enggak pernah jajan macam-macam di jalan, yang murah-murah saja,” ungkapnya.

Hanya saja, Abah merasa risih dengan menumpuknya barang dan aksesori di rumah yang membuat keadaan rumah terlihat kumuh. Abah pun bertahan dengan kondisi demikian selama berpuluh-puluh tahun. Sampai saat ini, Abah sudah tak pernah lagi mempermasalahkan hobi aneh Ambu itu, meskipun apa yang dilakukan Ambu kerap menjadi buah bibir anak-anaknya dan tetangga.

“Ya, walau bagaimana pun itu istri Abah. Walaupun sering kesal sama Nenek, tapi Abah mah tetap cinta. Kalau kita pikir negatif saja, pasti enggak akan akur,” tegasnya. Syukur deh Bah. (Nizar S/Radar Banten)