Love Story: Derajat Makin Tinggi, Makin Jago Poligami

0
223
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Desi (39), nama samaran, hanya bisa terpaku melihat suaminya Doni (40), juga nama samaran, kawin lagi untuk kesekian kali. Bahkan, Desi tak tahu lagi sudah berapa kali dimadu. Doni yang tak pernah puas berpoligami, kini jejaknya pun hilang ditelan bumi. Ow ow ow, kemana tuh si Doni?

Kehidupan rumah tangga wanita asal Pandeglang itu dengan Doni awalnya baik-baik saja. Terlebih, Doni saat itu masih berstatus pengangguran, hanya bisa pasrah dengan keadaan dan mengandalkan Desi yang mencari nafkah dari berjualan asongan. Sampai akhirnya, Doni diangkat menjadi tenaga honorer di sebuah instansi. Dengan penghasilan seadanya, keduanya menjalani biduk rumah tangga dengan bahagia berikut dua anaknya.

“Meskipun hanya makan nasi sama garam, saya bahagia waktu itu, karena Mas Doni begitu sayang dan perhatian,” ujar Desi.

Seiring waktu, setelah dikaruniai anak ketiga, kehidupan mereka berubah. Desi sukses dengan usahanya berdagang, disusul Doni yang tak lama diangkat menjadi pegawai negeri. Ekonomi mereka pun meningkat dan mulai mampu membeli tanah serta membangun rumah, meski sederhana. Namun, dari situ pula keretakan rumah tangga Desi bermula.

Semakin tinggi derajat Doni di pemerintahan, semakin membuatnya terbuai dengan harta yang dimilikinya. Sejak itu, gelagat menyimpang Doni pun terlihat. Diawali dengan membawa wanita muda, sebut saja Denok (22), ke rumah dengan alasan untuk membantu mengurus rumah tangga. Awalnya, Desi tak curiga karena memang di rumahnya kebetulan membutuhkan pembantu untuk mengurus ketiga anaknya ketika keduanya bekerja. Namun, kecurigaan itu timbul juga ketika mendapat laporan dari anak-anaknya yang sudah pada besar bahwa Doni jadi sering pulang cepat di tempat kerjanya.

“Pas anak-anak pulang sekolah, pasti sudah ada bapaknya di rumah. Biasanya enggak gitu, anak-anak biasanya tiba lebih dulu daripada bapaknya yang pulang ngantor,” terang Desi.

Bagus dong Mbak, suami jadi betah di rumah daripada di kantor. “Iya kalau betah karena anak istri, kalau karena ada pembantu muda di rumah, lain ceritanya,” cetusnya.

Benar saja, kecurigaan Desi selama ini terbukti, setelah mendapat laporan dari anak-anaknya yang juga sudah menaruh curiga. Suatu hari, anak-anak Desi yang memang sengaja tidak pergi sekolah atas perintah ibunya mencoba menjebak Doni. Ketiga anaknya, hanya pura-pura berangkat, padahal masih berada di dalam kamar tanpa sepengetahuan Doni dan pembantunya. Mengintip di belakang pintu kamar, anak-anak Desi berhasil memergok Doni yang pulang cepat dari kantor dan langsung bermesraan dengan si pembantu. Kemesraan keduanya ditunjukan dengan cara si pembantu duduk dipangkuan Doni di tengah rumah, Astaga, pantasan betah di rumah.

Sang anak yang merasa takut dimarahi hanya bisa diam. Mereka lebih memilih menunggu ibunya pulang dan melaporkannya. Alangkah terkejutnya Desi ketika mendapat laporan dari sang anak.

“Saya enggak langsung marahi Mas Doni sebelum melihat dengan mata kepala sendiri. Saya hanya diam saja, tetapi Mas Doni juga malah ikut diam seolah enggak peduli, kesal saya,” akunya.

Keesokan hari, giliran Desi yang menjebak Doni. Desi yang terbiasa pergi pagi memulai usahanya, batal pergi hanya untuk memastikan kelakuan bejat Doni. Ternyata, kali ini kelakuan Doni makin parah. Sehabis pulang ngantor, Doni langsung menuju kamar tidur Denok. Tentu saja, Desi langsung naik pitam dibuatnya dan langsung menuju kamar si Denok. Ternyata, eng ing eng! Doni dan Denok sedang bergumul mesra berduaan dengan busana setengah terbuka. Ngapain tuh Mbak?

“Mas tahu lah mereka lagi ngapain. Emang mau ngapain lagi,” ungkap Desi menghela napas panjang.

Desi tak menyangka akan tingkah bejat Doni, karena selama ini Doni orangnya terbilang baik, pendiam, jarang bicara, dan selalu menuruti keinginan anak-anaknya. Desi yang terlanjur sayang, akhirnya hanya mengusir Denok keluar dari rumah. Sementara Doni hanya dimaki-maki. Tapi, pengakuan Denok yang sudah berbadan dua akibat perbuatan Doni, membuat Desi tak sanggup lagi menahan amarah. Terjadilah perang dunia kedua. Duaarrr.

Endingnya, Desi tetap menerima dipoligami setelah menyadari bahwa perbuatan suaminya merupakan akibat dirinya juga yang jarang melayani karena terlalu sibuk usaha. “Saya memang sudah jarang begituan sama suami. Capek soalnya, pergi pagi pulang malam kerjanya,” bela Desi. Pantas saja Doni cari pelampiasan. “Tapi, enggak pembantu juga kali Mas,” sanggahnya.

Desi pun mencoba berubah dan mulai meluangkan banyak waktu untuk Doni demi mempertahankan keutuhan rumah tangga, terlebih anak sudah tiga.

Namun, penilaian Desi terhadap sikap Doni ternyata salah. Bukannya menyadari kesalahannya, sikap buaya Doni justru semakin menjadi dan terus menjalankan aksinya berselingkuh. Bahkan, sampai dinikahi. Dengan rekan kerjanya lah, dengan tetangganya lah, sampai menikung istri temannya. Pokoknya, sudah tidak terhitung. Alamak, pejantan tangguh juga nih Doni. Setiap wanita yang dijumpai Doni dan sekiranya memenuhi kriteria pasti diembatnya.

Saking seringnya Doni nikah siri, sampai-sampai Desi lupa sudah berapa wanita yang menjadi korban poligami Doni. Habis sudah kesabaran Desi.

“Itu kan gila Mas. Bahkan, sekarang Mas Doni susah dicari, entah tinggal di istri keberapa, dihubungi juga sudah susah,” keluhnya.

Diakui Desi bahwa sifat Doni merupakan turunan orangtuanya yang juga berpoligami. Kini, Desi sudah tak ingin lagi mempertahankan rumah tangganya dengan Doni yang sudah seperti Bang Toyib, tidak pernah pulang-pulang. Sikap Desi pun mendapat dukungan dari anak-anaknya. Hanya saja, sampai saat ini dirinya tidak pernah bertemu Doni lagi hanya untuk sekadar menyampaikan kata ‘talak’.

“Malu kalau diteruskan, tetangga sudah pada tahu kelakuan Doni. Pokoknya trauma lah. Sekarang, bodo amat dia ada dimana, yang penting anak-anak ikut saya,” katanya.

Desi pun berpesan kepada semua perempuan agar tidak tergoda dengan sikap dan penampilan. Belum tentu yang pendiam itu baik, contohnya Doni yang diam-diam menghanyutkan. “Masih mending yang keliatan buaya aja. Jelas ketahuan, mungkin juga hanya sebatas itu saja nakalnya,” tutupnya. Wih boleh. Ya saya dukung deh pernyataan Mbak. (Nizar S/Radar Banten)