Love Story: Digoda Kawan, Rumah Tangga Berantakan

0
725 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

HATI-hati dalam memilih kawan karena orang terdekat lah yang akan menjadi penyelamat, atau mungkin menjerumuskan ke dalam lubang hitam yang sangat dalam.

Hal itu pula yang dirasakan Saep (31), bukan nama sebenarnya. Gara-gara mengikuti gaya sohibnya, sebut saja Toing (32), yang doyan main ke tempat hiburan malam, Saep pun terbawa arus. Pria berperawakan kurus ini akhirnya terpengaruh perilaku buruk Toing. Yakni, gemar mengonsumsi minuman keras serta main perempuan di tempat hiburan malam.

“Tadinya enggak pernah mau diajak Toing. Cuma waktu itu, pas Toing ngajakin, kebetulan gue lagi capek dan jenuh sama kerjaan. Akhirnya, ikut saja, siapa tahu bisa ngilangin capek,” akunya. Yaelah Kang, istirahat saja kalau capek, bukannya keluyuran malam-malam.

Awalnya, Saep mengaku kaget melihat suasana di tempat hiburan malam pada saat pertama kali diajak Toing. Maklum, Saep belum pernah coba-coba masuk ke tempat begituan. Yang Saep jalani sehari-hari semenjak bujangan sampai menikah, ya hanya kerja dan cari duit. Saep termasuk tipikal pria yang perfeksionis. Ketika masih bujangan, cara berpikir Saep hanya bagaimana mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri.

Pasca menikah dan berkeluarga, mindset (pola pikir) pria berambut cepak itu berubah, yakni bagaimana mencari nafkah untuk menghidupi anak istri. Singkatnya, perjalanan hidup Saep berjalan normatif. “Kemarin-kemarin, cara berpikir gue berubah lagi, bagaimana cari duit buat hiburan,” ujarnya. Astaga!

Sejak itu, dunia Saep mulai berubah 180 derajat. Dari yang tadinya rajin ibadah, sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Kemudian yang tadinya pulang kerja cepat, mulai sering telat. Bahkan, pernah pria asal Serang itu tak pulang semalaman. Perubahan sikap itu sempat dipertanyakan sang istri, sebut saja Siti (28). Masalah utamanya, karyawan salah satu perusahaan di Serang ini sudah mengurangi jatah bulanannya. Kondisi itu kerap dikeluhkan Siti karena bisa berdampak pada jatah makan dan kebutuhan sehari-hari. Terlebih, Siti curiga karena Saep tidak pernah menjelaskan secara utuh soal berkurangnya gaji setiap bulan. Situasi itu membuat mereka sering terlibat selisih paham.

“Kalau saja kasih gajinya enggak kurang, istri kayaknya enggak bakalan marah deh,” ucap Saep yakin. Enggak begitu juga kali.

Bagaimana gaji bulanan Saep tidak berkurang, acara bepergian ke tempat hiburan bersama Toing dijadikannya agenda rutin. Hal itu tentu didorong Saep yang mulai menikmati asyiknya dunia hiburan malam. Ia tak sadar kalau apa yang menjadi kebiasaan barunya itu akan berdampak negatif. Malah, sejak itu Saep seperti tidak mengenal waktu. Setiap mempunyai uang lebih, pasti dibelanjakannya untuk kegiatan nyanyi-nyanyi di tempat karaoke bersama Toing, sewa perempuan untuk sekadar menemani, serta minum-minuman keras, diikuti perilaku layaknya orang tidak waras. Tidak ada sesuatu yang lucu pun, Saep dan Toing tetap saja haha hihi.

“Intinya, gue sempat terbuai sama ajakan Toing. Gue juga enggak munafik, gue nikmati karena asyik saja sih,” akunya. Asyik saja apa asyik banget? Hehehe.

Saep mengaku kaget pas pertama kali menginjakkan kaki ke ‘tempat begituan’. Selain berisik, suasana gelap gulita, di dalam ruangan dipenuhi lelaki ‘hidung belang’ yang ditemani wanita berpenampilan tak senonoh. Namun, hasutan Toing tampaknya mampu memengaruhi pikiran Saep. Diawali dengan pengenalan terhadap minuman beralkohol, Saep mulai coba-coba. Malu disebut enggak gaul, akhirnya Saep terjerumus mengikuti gaya Toing yang selengean, serta sedikit nakal dengan perempuan. Kejadiannya belum lama, sekira setahun silam.

“Memang asyik, tapi menguras kantong. Pusingnya enggak di tempat, tapi pas pulang ke rumah tuh, mengeluh kalau dompet jebol. Namanya, di tempat begitu, semua serbamahal, enggak cukup Rp500 ribu,” keluhnya. Mending beli beras, Bang.

Sejak itu, Saep ketagihan yang membuatnya sering menghambur-hamburkan uang tak keruan. Situasi itu membuat rumah tangganya semakin kacau balau karena gaji bulanan yang seharusnya bisa dinikmati anak istri dalam sekejap jatuh ke tangan wanita lain. Padahal, hanya dinikmati sesaat. Berkat kebiasaan buruk yang dijalaninya selama enam bulan, keluarga Saep mulai terlilit utang. Itu karena Saep terus dipengaruhi ajakan Toing dan selalu tak kuasa menolak, padahal sedang terdesak utang.

“Sadar utang makin numpuk terus rumah tangga mulai enggak kondusif, gue akhirnya sadar, ceritanya tobat begitu,” katanya. Betulan tuh, apa sesaat? “Benar dong, buktinya sekarang rumah tangga gue kembali normal. Cuma tidak seperti dulu saja,” sanggahnya. Maksudnya?

Maksudnya, kehidupan Saep dan Siti tidak senyaman dulu. Selama enam bulan setelah Saep mulai bertobat, Saep mulai menceritakan kelakuan buruknya kepada istri. Beruntung Siti, istri Saep sabar dan bisa mengerti kekhilafan suami, serta mau memaafkan Saep.

Sejalan dengan itu, Saep sedikit demi sedikit mulai mencicil utangnya dan menjauhi Toing. Nah, begitu dong. Mahligai rumah tangga Saep dan Siti mulai kembali normal. Saep mulai sadar bahwa tidak ada wanita lain yang lebih baik daripada istri.

“Beruntung gue punya istri pengertian. Kenikmatan di dunia ini cuma sesaat, Bung. Sebaiknya, jangan coba-coba. Kalau enggak, tanggung sendiri akibatnya,” ujar Saep mengingatkan. Syukur deh. (Nizar S/Radar Banten)