Love Story: Ekonomi Terjepit, Jadi Pengutil

0
549 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

APA yang dilakukan Mimin (35), bukan nama sebenarnya, mungkin tak pantas ditiru. Wanita berkulit hitam manis ini sempat menjadi pengutil dadakan, baik di pasar maupun pusat perbelanjaan.

Hal itu dipicu kehidupan rumah tangga Mimin yang mengalami kesenjangan sosial dan ekonomi pada pernikahan keduanya dengan lelaki pengangguran, sebut saja Juhdi (36). Perilaku buruk Mimin itu muncul tiba-tiba. Tentunya, terdesak kebutuhan yang tak bisa dipenuhi Juhdi. Padahal, secara kasat mata, kondisi kehidupan Mimin tidak begitu miskin, masih ada jaminan yang bisa dibanggakan. Yaitu rumah yang lumayan megah yang masih dihuni, belum lagi beberapa kontrakan warisan orangtuanya.

Kisah rumah tangga Mimin ini diceritakan bibinya, sebut saja Nani (45). “Tadinya sih, Mimin lahir dari keluarga berada. Bapaknya pengusaha. Apapun kemauannya, sudah pasti terpenuhi,” terang Nani.

Apalagi, Mimin merupakan anak bungsu dan satu-satunya perempuan dari tiga bersaudara. Situasi itu, membuat Mimin menjadi anak kesayangan orangtuanya. Apalagi, ketiga saudaranya memang sudah berumah tangga. Karena terlalu dimanja, akhirnya Mimin terbuai oleh harta orangtuanya sehingga membuatnya lupa daratan.

Di lingkungannya, Mimin mulai memamerkan kesombongannya. Berbicara juga suka tidak keruan terhadap orang lain. Berbicara seenaknya saja karena merasa orang paling terpandang di kampungnya. Terlebih, Mimin dan tiga saudaranya difasilitasi kendaraan roda empat oleh orangtuanya. Tak ingin menurunkan derajat keluarga, membuat kedua orangtua Mimin harus benar-benar pilih-pilih dalam hal mencari pasangan untuk anak bungsunya tersebut.

“Cari jodoh, keluarga kakak saya itu enggak lihat tampang, yang penting banyak uang. Si Mimin ikut-ikutan. Mau saja dijodohkan sama yang tampangnya pas-pasan,” sesalnya. Mungkin pikirnya berumah tangga itu enggak butuh cinta, ujung-ujungnya uang.

Diceritakan Nani, semasa keluarga Mimin masih kaya, keluarga Nani tak pernah dianggap atau sekadar ditanya ketika berkunjung ke rumahnya. Seolah-olah tidak pernah ada. Karena memang diakui Nani, setiap datang kakaknya itu, yakni orangtua Mimin, Nani memang kerap mengharapkan pinjaman. Lantaran itu, keluarga Mimin selalu underestimate (memandang rendah) dan merasa jijik setiap kali melihat keluarga Nani. Tentu saja, situasi demikian sempat membuat Nani merasa sakit hati bukan kepalang.

Beruntung, Nani bukan pendendam, selalu memaafkan kesalahan kakaknya dan Mimin yang tak jarang menghinanya setiap kali datang ke rumah. Menghina bagaimana tuh Bu?

“Masih ingat saya pas dihina si Mimin. ‘Ngapain sih Bi, datang bisanya cuma minta uang. Kerja dong,’ begitu. Coba, bagaimana enggak sakit hati diperlakukan seperti itu sama keponakan sendiri? Kalau sama kakak saya sih, saya maklumkan,” jelasnya. Widih, hati-hati tuh, mulutmu harimaumu.

Beruntung, ocehan Mimin hanya dianggap angin lalu oleh Nani. Nani menganggap sikap Mimin belum menunjukan kedewasaan. Buktinya, kerjaan Mimin sehari-hari hanya hura-hura, mengikuti pergaulan bebas, dan main ke tempat hiburan malam. Pokoknya, doyan menghabiskan uang orangtuanya untuk sekadar berfoya-foya. Situasi yang sama, pernah dilakukan ketiga kakaknya sebelum mereka menikah.

Melihat kondisi itu, Nani tidak memungkiri jika dirinya pernah mendoakan kakaknya, termasuk Mimin, agar diberikan hidayah. Seiring waktu, Mimin yang baru lulus kuliah di universitas ternama di Serang ini pun menikah dengan lelaki yang jauh lebih dewasa, sebut saja Juned. Lelaki itu tak lain pilihan orangtuanya, sama-sama anak pengusaha kontraktor. Namun, bahtera rumah tangga mereka tidak bertahan lama.

Juned merasa tidak tahan dan selalu mengeluhkan perilaku kasar Mimin selama menjalin rumah tangga. Bahkan, mau berhubungan intim saja sampai ditakar. Artinya, semaunya Mimin atau menunggu dia dalam kondisi bagus. Dari keluhan Juned yang diceritakan kepada Nani, Juned menikmati rumah tangganya hanya seminggu pertama. Selanjutnya, Juned tidak diperlakukan Mimin sebagai suami, melainkan babu. Selalu disuruh-suruh.

Membantah sekali saja, Mimin bisa uring-uringan ke mana-mana dan tak sungkan untuk mengeluarkan kata-kata binatang kepada Juned. Astaga. Namun Juned masih sabar, karena berpikir ingin punya keturunan dari pernikahan pertamanya.

“Jangankan jadi Juned yang merasakan langsung ada di keluarga itu, lihatnya saja enggak tahan. Suami sehebat apapun, kalau terus-terusan dihina, mana tahan?” ujarnya.

Apalagi pas masa kehamilan, Mimin semakin jemawa dan seenaknya menyuruh-nyuruh Juned. Juned pun hanya bisa bertahan sampai kelahiran anak pertama mereka. Menyadari Mimin bukan istri yang baik, Juned yang mulai tak tahan, langsung mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Mimin pun harus rela menerima statusnya berubah menjadi janda anak satu. Anaknya, dibawa Juned.

Sejak itu, kehidupan Mimin semakin tak karuan. Apalagi tak lama kemudian, ayah Mimin mendadak sakit parah sampai akhirnya meninggal dunia. Setelah bapaknya wafat, kehidupan Mimin mulai berubah. Ternyata, bapaknya yang seorang pengusaha, selama menjalankan usahanya tak lepas dari utangnya yang tersebar di mana-mana.

Akhirnya, satu per satu harta Mimin dan keluarganya terkuras. Mereka jual semua harta bendanya sampai tidak tersisa. Karena tak punya tumpuan lagi, keluarga Mimin pun mulai kesulitan ekonomi. Untuk menyangga kehidupan keluarga, akhirnya Mimin menikah lagi dengan sembarang pria, sebut saja Juhdi (36).

Itu dilakukan Mimin karena melihat kondisi ekonomi keluarganya yang sudah mulai menurun. Tak sadar kalau Juhdi ternyata pengangguran. Bukannya membantu ekonomi keluarga, malah menambah beban. Kondisi itu pun memaksa Mimin yang tadinya biasa memegang banyak uang, sekarang harus pas-pasan dan mulai mencari cara untuk mendapatkan apa yang dia mau seperti dulu. Salah satunya dengan mengutil di mal-mal yang sering ia kunjungi semasa kejayaannya.

Awal-awalnya masih aman. Sampai pada akhirnya, Mimin ketahuan dan ditahan, setelah dijebak satpam yang sering melihat Mimin mengutil di tempat perbelanjaan yang ia jaga.

“Ya, malunya setengah mati kan. Pikir saja, gara-gara ekonomi terjepit jadi pengutil. Kebiasaan lama yang ingin apa-apa biasa terpenuhi, sudah enggak bisa lagi,” terangnya. Enggak sebegitunya juga kali.

Dalam kondisi demikian, baik suami, saudara, maupun ibunya pun, tak sanggup menyelamatkan Mimin dari jerat hukum. Melihat kondisi itu, hati Nani yang kehidupan keluarganya mengalami kemajuan tergerak untuk membantu Mimin. Nani pun menjamin Mimin agar dibebaskan dari jerat hukum. Yakni, dengan cara mengganti semua kerugian akibat perbuatan Mimin.

“Saya jamin tuh si Mimin, alhamdulilah punya rezeki lah. Bagaimanapun, dia tetap keponakan saya. Tapi, kelakuannya itu, sampai sekarang masih saja sombong dan sok kaya,” keluhnya. Sabar Bu, nanti juga tobat sendiri. (Nizar S/Radar Banten)