Love Story: Heran, Anak Kok Mirip Tetangga

0
985 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

IMPIAN Didin (27) untuk menikahi Siti (22), keduanya nama samaran, memang terwujud. Kebahagiaan sempat dirasakan pria bertubuh kurus itu. Bagaimana tidak, Didin pastinya beruntung bisa menikahi Siti yang dikenal sebagai kembang desa, putri sulung dari tokoh masyarakat di desanya. Belum lagi, dinilai dari segi fisik, Siti patut dibanggakan. Selain muda, cantik, kulit putih mulus, etika Siti terhadap suami juga patut ditiru.

Wanita lulusan SMA itu patuh terhadap suami, servisnya juga sebagai seorang istri pun optimal. Maklum, namanya gadis desa, selalu menuruti petuah orangtua. Belum lagi didikan agamanya yang punya komitmen tinggi, membuat Siti tak pernah membangkang.

Bukan hanya perhatian dan kepedulian serta cara Siti memperlakukan suami yang luwes dan terpelajar, kebutuhan biologis Didin juga selalu terpenuhi. “Kalau masalah itu jangan ditanya. Jujur saja, istri selalu bisa bikin puas,” tegasnya membanggakan istri seraya menambahkan, pada awalnya Siti tidak pintar memenuhi kebutuhan di ranjang, tapi lama-lama dia bisa beradaptasi dengan baik.

Pokoknya, menikahi Siti serasa dunia milik berdua, yang lain mengontrak. Padahal, Didin sendiri yang tinggalnya masih mengontrak, bersebelahan dengan kontrakan yang dihuni orangtua. Singkat cerita, bahtera rumah tangga pasangan itu berjalan dua tahun. Namun, tak sedikit pun tanda-tanda kahamilan ditunjukkan Siti. Situasi itu, membuat Didin cemas bercampur malu. Khawatir, rekan, tetangga, kerabat, maupun keluarga menganggap Didin lah yang tidak perkasa.

Padahal, kedua pihak keluarga termasuk keturunan produktif. Buktinya, Siti tiga bersaudara, begitu pula dengan Didin yang bekerja sebagai pramuniga di sebuah minimarket di Serang ini, anak pertama dari empat bersaudara.

“Alasan ingin punya anak, bukan karena malu saja, tapi ingin mengikat Siti juga supaya enggak kemana-mana. Saya enggak ingin rasa cinta Siti luntur. Terus terang Kang, banyak yang bilang saya bisa dapatkan Siti itu, anugerah,” terangnya bangga. Iya, buat Siti musibah. Hehehe, bercanda.

Lantaran itu, Didin selalu berusaha menyenangkan Siti meski pendapatannya pas-pasan. Banyaknya tetangga dan rekan Didin yang memuji Siti, membuat Didin harus lebih waspada dan menjaga istrinya secara ekstra. Termasuk, melarang Siti yang ingin mencari kerja untuk menopang perekonomian keluarga. Sebegitunya? “Iya Kang, takut saja Siti digebet cowok lain. Tahu sendiri, usia Siti kan masih belasan pas saya nikahi. Masih segar,” akunya. Ehmm yummi.

Beruntung, Siti orangnya penurut sehingga tidak terpengaruh pergaulan modern di luar sana. Siti tidak keberatan hanya diperbolehkan Didin bergaul sebatas antartetangga, tidak lebih. Namun, larangan Didin tak menyurutkan Siti yang mudah dikenal banyak tetangganya. Termasuk, anak-anak muda sekitar lingkungan. Apalagi, pria hidung belang yang sudah beristri. Pastinya, jelalatan dan mudah tergoda dong dengan tampilan Siti yang aduhai. Semakin banyak yang mengenal Siti, membuat Didin semakin bersikap overprotective.

Beruntung, Siti tidak mudah tergoda. “Anaknya tahu dosa. Namanya juga gadis besar di kampung, agamanya kuat. Tapi, tetap kita perlu waspada. Waktu itu sih, enggak ada gerak-gerik Siti yang mencurigakan,” ucapnya seraya menyampaikan jika Siti tidak pernah neko-neko atau banyak tuntutan ekonomi. Bagus dong, lantas masalahnya apa?

“Di sini nih pokok masalahnya,” kata Didin. Apa tuh Kang? Seiring berjalan waktu, Didin mendengar isu jika Siti mulai akrab dengan suami tetangga, sebut saja Dedi. Selain mapan, Dedi dikenal supel dan ngocol sehingga memudahkannya akrab bergaul dengan siapa pun. Pokoknya, sosok Dedi sempurna dan suami idaman wanita. Apalagi, Dedi juga mempunyai jabatan di perusahaan tempatnya bekerja. Dedi juga sudah punya rumah sendiri, meski masih tipe sederhana.

Tunggangan baru sebatas roda dua juga, tak mengurangi pesona Dedi untuk bisa merebut hati banyak wanita. Yang pasti, kehidupan Dedi jauh lebih baik ketimbang Didin. Terlebih, Dedi juga dikenal sebagai tokoh pemuda di lingkungan kontrakan Didin di Serang. Situasi itu pun, cukup membuat Didin waswas dan galau.

“Sekali waktu, saya pura-pura berangkat kerja, padahal libur. Ingin pergoki saja, benar enggak isu tetangga itu. Eh, ternyata benar, saya pergoki Siti lagi asyik mengobrol sama si Dedi. Kaget juga,” kesalnya. Terus terus?

Setelah ditanyakan langsung kebenarannya, Siti membantah kalau dia sering menjalin komunikasi dengan Dedi. Pengakuannya, hanya sekali itu saja, itu juga tidak disengaja. Didin yang dibakar api cemburu, tidak begitu saja percaya dengan ucapan Siti. Hanya, Didin masih mampu meredam emosi sehingga perselisihan dapat dihindari.

Tahun ketiga berumah tangga, kecurigaan Didin makin menguat. Didin mendapat kabar kalau Siti positif hamil. Hal itu disadari Didin, setelah melihat Siti kerap mual-mual dan banyak maunya layaknya ibu hamil yang lagi ngidam. Yang tidak habis pikir, Siti minta dibelikan ponsel baru.

“Ya, Siti mulai banyak minta yang aneh-aneh. Pernah minta dibelikan anggur, saya belikan sekilo, tapi malah dimakan satu biji doang,” ujarnya. Ya bagus dong, disisakan buat Akang.

Namun, berita bahagia itu tak lantas membuat Didin bahagia. Justru, pikiran Didin semakin tak karuan. Lantaran itu, menunggu kelahiran si jabang bayi, Didin malah harap-harap cemas, campur antara perasaan senang dengan takut. Didin tak bisa membayangkan, jika bayi yang dikandung Siti bukan darah dagingnya. “Ya, saya merasa enggak enak hati. Merasa Siti ada main sama si Dedi,” tukasnya. Astaga, istigfar Kang. Apalagi, nuduh bayi yang enggak berdosa, enggak baik tuh.

Sampailah pada hari kelahiran sang jabang bayi. Mula-mula perasaan Didin senang-senang saja. Bahkan, sampai mengumumkan kabar gembira itu kepada seluruh teman, kerabat, tetangga, hingga keluarga sambil menerka-nerka kemiripan wajah si jabang bayi berjenis kelamin laki-laki itu.

“Waktu bayi, belum kelihatan anak mirip siapa. Tapi, makin besar, pas usianya dua tahun, bikin heran. Kok, enggak mirip saya atau mamanya begitu,” ungkap Didin keheranan. Lantas mirip siapa Kang, tetangga? “Ya, begitu deh,” yakinnya.

Mungkin perasaan Akang saja kali. “Mudah-mudahan sih. Ya, bayangkan saja. Kita dua tahun enggak punya anak, tiba-tiba pas dia akrab sama Dedi, dua bulan kemudian ada berita kehamilan Siti. Semoga saja, perasaan saya ini salah,” harapnya. Amin. (Nizar S/Radar Banten)