Love Story: Heran, Suami Enggak Ada Kapoknya

0
790 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

SOMANTRI (30), bukan nama sebenarnya, memang tak tahu diri. Punya istri sebaik Sumi (28), nama samaran, masih saja doyan selingkuhan. Padahal, Sumi orang baik, sabar, dan perhatian. Bahkan, untuk menambah ekonomi keluarga, Sumi rela bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pekerjaan serabutan lainnya asalkan menghasilkan uang. Belum lagi harus mengurus anak serta mertua yang sudah tua renta.

Di kala Somantri sakit, Sumi selalu siaga merawat suaminya. Di kala suami lelah sehabis pulang kerja, Sumi pasti memberikan pijat refleksi. Hmm. Namun, jerih payah yang Sumi lakukan terhadap Somantri selama berumah tangga, seolah tak ada artinya apa-apa bagi suami.

“Saya kurang bagaimana! Berapa kali saya memergoki dia selingkuh, tapi saya maafin. Maunya apa sih? Saya juga enggak mengerti,” keluhnya. Sabar ya, Teh. Emang bagaimana sih orangnya?

Sumi pun mulai menceritakan sosok Somantri dan kisah cintanya dengan pria yang berprofesi sebagai karyawan di sebuah perusahaan di bidang leasing itu. Dari awal memang Sumi juga salah, yakni merebut Somantri yang tak lain status calon suami orang.

Tinggal seminggu lagi Somantri hendak melangsungkan pernikahan, tiba-tiba Sumi datang bak pahlawan mengalihkan perhatian Somantri dari pandangan calon istrinya. Kejadian itu berlangsung sekira lima tahun silam, di mana Somantri statusnya masih bujang, begitu pula dengan Sumi.

Tak sengaja keduanya berpapasan di pusat keramaian di Serang. Waktu itu, Somantri sedang jalan-jalan dengan temannya, sama halnya dengan Sumi. Di pusat keramaian itulah, mereka saling curi-curi pandang.

“Enggak tahu, ya Kang, tiba-tiba pas dia (Somantri-red) mandang-mandang terus, saya jadi kegeeran,” terangnya.

Memang Somantri tampan ya orangnya? “Ah enggak juga, biasa saja. Cuma tatapannya itu loh, mengandung makna. Pokoknya, bikin salah tingkah deh,” jelasnya. Ow ow ow.

Melewati hari itu, keduanya tak sengaja bertemu kembali di sebuah rumah makan bakso. Merasa pernah bertemu, Sumi memberanikan diri menanyakan ke Somantri jika mereka pernah ketemu. Sapaan Sumi direspons Somantri yang langsung mengiyakan.

Nah, dari situ awal perkenalan mereka hingga berlanjut ke hubungan lebih jauh. Setelah keduanya saling tukar nomor ponsel, mereka jadi sering bercanda, tertawa, dan berkeluh kesah lewat telepon. Situasi itu membuat keduanya merasa nyaman.

Merasa ada kecocokan, Sumi dan Somantri pun coba menjalin hubungan ke arah lebih serius. Meski sebetulnya Sumi sudah tahu dari awal kalau Somantri merupakan calon suami orang.

“Iya, pas awal kita curhat-curhatan. Mas Somantri terus terang kok, kalau dia sudah punya pacar dan mau nikah. Tapi, katanya dia enggak bahagia. Soalnya, dijodohkan,” kata Sumi menirukan alasan Somantri. Mau saja dikadali buaya. Itu kan trik orang ingin berselingkuh, tapi aman.

Sumi tak sadar kalau dia sudah jatuh ke tangan pria hidung belang. Seminggu kemudian, Somantri mengaku sudah membatalkan rencana pernikahan dengan calon istrinya dan lebih memilih menikah dengan Sumi. Tentu saja kabar itu membuat Sumi senang bukan kepalang. Merasa kalau dia lebih menarik ketimbang calon istri Somantri.

Tak berapa lama, mereka merencanakan acara menuju pelaminan. Singkat cerita, mereka menikah dan mulai membangun bahtera rumah tangga pada 2011. Sumi menerima cinta Somantri karena orangnya humoris, terbuka, dan bicara apa adanya.

“Waktu itu, saya senang banget bisa menikah sama Kang Somantri. Apalagi, saya salut sama dia, bisa menjaga kehormatan saya selama pacaran,” akunya. Masa sih?

Awal-awal rumah tangga masih baik-baik saja. Somantri sok perhatian dan sayang kepada Sumi. Namun, sikap Somantri itu hilang seketika, di saat anak mereka lahir. Somantri mulai sering pulang kerja tengah malam dengan alasan ada jadwal piket.

Tak hanya itu, Somantri juga mulai tertutup. Seperti ponsel saja, selalu disembunyikan di saku celana. Kadang sengaja digeletakkan dalam kondisi HP mati dengan cara lepas baterai setiap hendak tidur, seolah tidak ingin terganggu.

“Kalau tidak ada apa-apa, ngapain ditutup-tutupin? Kalau saya tanya, pasti marah dan gampang kesinggung. Katanya, ‘Apa, kamu curiga sama saya? Berarti kamu sudah enggak percaya lagi sama suami?’ begitu. Ya sudah, saya lebih baik diam saja daripada ribut,” kesalnya.

Perilaku tak biasanya itu malah mendorong Sumi makin menaruh rasa curiga. Benar saja, usut punya usut, ternyata Somantri kepincut dengan perempuan lain. Perempuan itu, rekan kerjanya yang juga marketing di perusahaan yang sama.

Suatu hari, Somantri kepergok oleh Sumi sedang jalan berduaan dengan teman selingkuhannya itu, sambil pegangan tangan di mal. Sumi tentu saja langsung naik pitam. Apalagi, dari cerita temannya Somantri, perselingkuhan mereka sudah terjalin sejak lama. Namun, rasa sayangnya yang terlalu besar terhadap Somantri membuat Sumi sudi memaafkan.

“Saya masih maafkan, berpikirnya mungkin ini karma, ingat saya sempat merebut Somantri, calon suami orang. Jadi, saya kasih kesempatan,” katanya.

Seiring waktu, suami mengalami sakit cukup parah. Tubuhnya tiba-tiba lemas dan sulit bernapas sehingga harus dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat. Sumi pun dengan sabar menunggu dan mengurus suami di rumah sakit. Setelah sembuh, perangai buruk suami kembali kumat. Somantri kembali berselingkuh dan kembali dipergoki Sumi. Namun, Sumi tetap memaafkan kesalahan suaminya.

Untuk kali kedua, Somantri mengalami kecelakaan. Kali ini jatuh dari motor. Lagi-lagi setelah menjalani perawatan intensif dan diurus Sumi, sang suami kembali berulah dan selalu gonta-ganti teman selingkuhan. Namun, Sumi tetap sabar dan memaafkan perilaku buruk suaminya tersebut. Padahal, tak hanya selingkuh perempuan, Somantri juga selingkuh uang. Gaji yang diberikan kepada Sumi tak pernah utuh.

“Heran, kok punya suami enggak ada kapok-kapoknya. Padahal, sudah dikasih hidayah, sakit-sakitan, tabrakan, tapi tetap saja. Capek deh, maunya apa sih!” ketusnya.

Namun, kini sikap Sumi mulai acuh tak acuh terhadap suaminya itu di rumah. Untuk menambah penghasilan, Sumi kini bekerja serabutan, kadang jadi pembantu, kadang bantu menjualkan barang orang seperti baju, perabotan rumah, dan semacamnya.

“Apa saja saya lakuin yang penting masih bisa hidup dan kasih makan anak sama mertua. Sama mertua saya enggak dendam, baik kok orangnya. Itu mah anaknya saja yang bejat,” kesalnya. Ya, bagus deh Teh, semangat ya. (Nizar S/Radar Banten)