Love Story: Istri Doyan Berutang, Suami Berang

0
656 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

HARI itu, Kamis (9/2) Datuk (38), bukan nama sebenarnya, sedang dilanda kebingungan. Ditemui di sebuah musala belakang kantor pemda, bapak dua anak yang aktif di organisasi kemasyarakatan itu dihadapkan pada masalah rumah tangganya. Pria berperawakan sedang itu, sempat berpikir hari itu tak ingin pulang ke rumah.

Hal itu dipicu, setiap bertemu dengan istrinya, sebut saja Ema (35), Datuk selalu terlibat perselisihan. Ya, istrinya selalu meributkan persoalan ekonomi, yang jelas-jelas tak mampu diselesaikan Datuk dalam waktu dekat. Hmmm, masalah apa tuh?

“Intinya, ekonomi keluarga saya sekarang lagi ruwet Kang. Utang di mana-mana, bekas istri yang doyan pinjam uang sana-sini, sampai ngutang ke rentenir juga,” keluhnya. Loh, kenapa enggak dilarang?

Datuk mengaku tak kuasa melarang perilaku istrinya yang menjadi kebiasaan sejak dua tahun silam. Ya, sebulan setelah Datuk dipecat dari perusahaannya sebagai marketing properti di Serang, kini dua tahun sudah, Datuk menyandang status pengangguran. Tentu saja, Datuk sudah tidak bisa diharapkan istri dan anak-anaknya untuk bertahan hidup.

Usaha mencari pekerjaan lain, di usia yang sudah tidak lagi muda, cukup menyulitkan Datuk. Lantaran itu, terpaksa istrinya Ema harus berjuang sendirian. Beruntung, Datuk memiliki istri sebaik Ema. Selama Datuk masih bekerja pun, Ema sudah mandiri. Ema ikut serta membantu Datuk mencari nafkah demi menambah penghasilan untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

“Ya, tadinya dengan istri enggak pernah ada masalah. Malah, kehidupan kita maju. Gaji saya dikumpulkan sampai bisa kebeli rumah sama mobil. Sementara honor istri, dipakai buat keperluan sehari-hari,” terangnya.

Pokoknya, selama 10 tahun berumah tangga, keluarga Datuk diselimuti kebahagiaan. Kehidupan rumah tangga Datuk dulu, begitu dinikmati. Anak-anak juga, tidak pernah kekurangan uang jajan. Begitu pula, dengan kebutuhan Datuk dan Ema. Minimal, seminggu sekali mereka shoping, jalan-jalan, atau bahkan makan-makan di restoran. Bahkan, kehidupan rumah tangga mereka, jarang sekali tersentuh gosip murahan. Intinya, kehidupan Datuk dulu cukup sejahtera.

“Ya, kan selain gaji, di kantor dulu saya juga dapat komisi dari penjualan properti. Bonuslah. Urusan selalu lancar,” ujarnya bangga.

Seiring waktu, nasib mujur tampaknya tidak berpihak kepada Datuk. Ibarat peribahasa ‘Karena nila setitik rusak susu sebelanga’. Hal itu pula yang dialami Datuk di perusahaannya. Dengan sedikit kesalahan Datuk, fatal akibatnya. Ya, di tengah puncak kejayaan, Datuk yang sudah memiliki jabatan di perusahaan terlibat perselisihan dengan salah satu konsumen properti. Sang konsumen merasa telah dipermainkan oleh Datuk. Perselisihan itu, sampai mengundang perhatian pimpinan Datuk di perusahaan. Khawatir mengancam eksistensi perusahaan, manajeman perusahaan pun terpaksa memberhentikan Datuk dari pekerjaannya. Dedikasi Datuk yang terbilang tinggi, dengan mengabdikan diri untuk perusahaan selama bertahun-tahun pun sia-sia.

“Saya dipecat gara-gara satu konsumen yang mengadu,” ungkapnya. Memang masalahnya apa Kang? “Adalah, memang saya juga salah,” akunya. Meski demikian, Datuk enggan membeberkan masalah pekerjaannya dulu.

Sejak itu, kehidupan keluarga Datuk hanya mengandalkan uang pesangon dan insentif istrinya setiap bulan sebagai guru honor. Namun, kondisi itu tak bertahan lama. Enam bulan kemudian, ketersediaan tabungan Datuk mulai menipis.

Datuk juga tidak bisa mengandalkan hasil jerih payah istri yang hanya mendapat honor kurang dari Rp500 ribu per bulan. Sejak itu, ekonomi keluarga Datuk berangsur-angsur mulai menurun drastis. Datuk sampai menjual mobil dan barang-barang berharga lain, yang sekiranya bisa dijual cepat. Tentu, upaya Datuk itu demi memenuhi kebutuhan sehari-hari agar keluarganya tetap bertahan hidup.

“Belum setahun setelah saya dipecat, uang menipis, barang-barang berharga sampai perhiasan istri juga ludes,” keluhnya. Sabar ya Kang!

Waktu terus berjalan dan Datuk bersama keluarga harus melanjutkan kehidupannya. Menyadari Datuk sudah tidak bisa diandalkan untuk menafkahi, Ema selain mulai berhemat, juga mencari solusi agar anak-anaknya tetap bisa makan. Keterlibatan Datuk di organisasi juga tak menuai hasil. Yang ada malah sering tekor, karena harus ikut-ikutan kegiatan organisasi menggunakan biaya sendiri.

“Namanya juga organisasi sosial, ya kita juga harus jiwa sosial. Enggak boleh nyari untung. Jadi, boro-boro mikir ada hasil, bisa makan aja udah untung,” tukasnya.

Namun, solusi Ema justru menyimpang. Terdesak kebutuhan, Ema coba-coba meminjam uang tanpa jaminan ke semua kalangan, dimulai dari keluarga, teman, kerabat, hingga tetangga. Sampai akhirnya, kebiasaan mengutang tanpa dijanjikan bayaran itu melekat pada diri Ema. Ujungnya, opsi terakhir Ema meminjam uang kepada rentenir, saking sudah tidak ada lagi orang yang percaya kepada Ema dan keluarganya.

“Gimana enggak dikasih utangan lagi, kita mau bayar, uang dari mana. Makanya, pusing kalau sudah di rumah, yang nagih utang terus-terusan. Tapi, Ema enggak ada kapok-kapoknya. Malu juga, boro-boro mikirin ingin begituan sama istri,” kesalnya. Yaelah, masih ingat begituan.

Lain dengan Ema, lain pula sikap Datuk yang memang memiliki gengsi tinggi. Selama kegiatan Ema yang gencar bergerilya menumpuk utang, Datuk hanya bisa termenung. Ia merasa lelah, karena tak kunjung diterima perusahaan setelah sekian lama berjuang mencari kerja. Datuk pun, saat ini mengaku bingung karena tak bisa menyalahkan kebiasaan buruk Ema. Hal itu, tentu menjadi bahan konsumsi pemikiran Datuk sehari-hari.

“Ema begitu demi keluarga. Kasihan juga. Tapi, kita enggak bisa terus-terusan berutang,” katanya.

Lantas, maunya Akang bagaimana? “Ya, itu dia, saya bingung. Memang, saya akui, pas lagi maju, sering ninggalin salat, apalagi sedekah,” akunya.

Nah, mungkin teguran tuh. Tandanya, Tuhan masih sayang. Ambil hikmahnya aja. “Makanya, sekarang saya rajin salat di musala. Kalau sedekah, masih belum bisa, saya juga lagi butuh,” tandasnya. Enggak gitu juga Kang. “Iya sih, rezeki enggak bakalan ke mana. Sekarang, Allah mungkin sedang mengingatkan dan menguji saya sebagai umatnya,” pungkasnya. Semoga aja. Amin. (Nizar S/Radar Banten)