Love Story: Istri Galak, Buaya Tidak Ada Kapoknya

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

JAJA (31), nama samaran, termasuk pejantan tangguh. Sadar punya istri yang super galak, sebut saja Esih (25), tak menyurutkan Jaja yang memang aslinya ‘buaya’ untuk tetap bertingkah di luar sana. Maksudnya, main-main dengan perempuan lain, terutama janda yang jadi idolanya. Hihuh, doyan janda nih ye!

Dari sejak menikah, pria bertubuh ideal dan lumayan tampan itu memang sudah mengetahui betul watak istrinya yang memang garang bak macan. Apalagi, setelah berumah tangga, sifat Esih semakin kesetanan. Terutama ketika mengetahui ada gerak-gerik mencurigakan dari sang suami. Seolah Esih mengetahui betul perilaku buruk Jaja yang doyan selingkuh. “Saya sudah beberapa kali kepergok istri selingkuh dari semenjak pacaran. Terakhir, tahun kemarin. Dari situ saya sudah dicap jelek sama istri,” akunya. Alamak, pantasan saja. Dasar buaya.

Menyadari sifatnya yang buaya, Jaja yang bekerja di salah satu instansi pemerintahan di Serang itu, sekarang tampaknya harus rela bersabar diperlakukan Esih dengan kasar. Itu demi keutuhan rumah tangga yang sudah lima tahun dibinanya.

Cerita pertemuan Jaja dengan Esih terbilang cukup menarik. Jaja yang memang sudah memiliki cap playboy yang penuh intrik dalam meluluhkan setiap kaum hawa, menjadikan Esih sebagai salah satu contoh korbannya. Padahal, upaya Jaja untuk mendapatkan Esih dijalankan tanpa modal sepeser pun. Cukup percaya diri dan jadilah lelaki yang pandai bicara. “Saya mendekati Esih cuman modal speak (bicara). Rayu-rayu dikit, eh luluh juga,” katanya. Wih, mantap, ajari dong Bang! “Tipsnya, cukup tampil penuh percaya diri dan bergaya apa adanya. Harus pandai-pandai merangkai kata guyonan saja, cewek pasti senang,” terangnya.

Esih pun menjadi korban Jaja, dijadikan selingkuhan. Sebelum Esih, Jaja terlebih dulu sudah menjalin kasih dengan perempuan lain, sebut saja Isah (23). Status Isah merupakan anak kuliahan di salah satu universitas ternama di Serang. Wajah Isah mempesona, Isah juga berasal dari kalangan berada, beda dengan Esih. Namun, niat Jaja dari awal ke Esih, hanya coba-coba. Jaja hanya merasa tertarik dengan wajah Esih yang lucu karena memiliki pipi chuby (tembem) dan berlesung pipit.

Kebetulan, saat itu Jaja mulai merasa tidak nyaman menjalin hubungan dengan Isah. Soalnya, selama pacaran, Jaja selalu dicurigai Isah yang ternyata memiliki sifat overprotective. Merasa tak tahan, sedikit demi sedikit Jaja mulai menjauh dari Isah setelah satu tahun intens berhubungan. Sampai akhirnya, Jaja memilih Esih yang awalnya hanya untuk bahan percobaan. “Awalnya coba-coba, eh malah kepentok cinta juga,” ujarnya. Karma tuh bang.

Sebaliknya, Esih juga merasa bahwa Jaja adalah lelaki pujaan hatinya yang selama ini dicari-cari. Selain ganteng, asyik, dan ramah, Jaja terbilang anak gaul dan pandai bicara sehingga mampu memberikan kenyamanan terhadap Esih. Sejak itu, Jaja memutuskan untuk lebih serius menjalani hubungan dengan Esih. Bahkan, Jaja sempat berpikir untuk menjadikan Esih sebagai pendamping hidupnya. Hal itu dilihat dari sifat Esih yang begitu sabar dan ramah. Dulunya, sekarang entah ya?. “Kalau dari fisik sih, cantik Isah, tapi saya kayaknya merasa nyaman sama Esih,” terangnya.

Menyadari sifat Esih yang bukan pemarah pada saat pacaran, Jaja coba-coba bertingkah. Jaja mulai berlagak sebagai lelaki hidung belang, menggoda wanita di depan Esih. Namun, perilaku buruk yang ditunjukkan Jaja tak sedikit pun membuat Esih bergeming. Sampai dua bulan kemudian, mereka memutuskan menikah. Pesta pernikahan pun berlangsung meriah. Awal membangun bahtera rumah tangga, terasa nyaman-nyaman saja. Rona kebahagiaan pun terpancar pada wajah keduanya.

Namun, seiring waktu, Jaja merasa kehidupannya bersama Esih mulai membosankan. Kondisi itu membuat penyakit buaya Jaja kambuh. Jaja mulai mengobral janji kepada setiap wanita yang ditemuinya. Sekali waktu, Jaja kepergok oleh Esih sedang jalan berduaan dengan perempuan lain yang lebih aduhai. Jaja tak menyangka jika reaksi Esih melihat Jaja selingkuh bakal lebih garang daripada singa. Esih yang tadinya baik, perhatian, dan ramah, berubah 180 derajat. Sifat asli Esih akhirnya tumpah juga. Jaja mulai dicaci maki dengan kata-kata kasar, perabotan di rumah pun banyak yang rusak lantaran dilempar Esih. Melihat kemarahan Esih yang meledak-ledak, Jaja hanya bisa melongo, tak bisa membalas.

“Benar-benar enggak menyangka kalau sifat asli istri ternyata separah itu. Dua kali saya ketahuan selingkuh pas sudah menikah, sebelum dan sesudah punya anak. Tiap berantem karena Esih cemburu, pasti banyak barang di rumah yang jadi korban. Capek deh, enggak bisa ditahan,” ungkapnya. Terus, sikap Abang bagaimana? “Ya diam saja. Paling elus dada, terus berusaha meredam. Ujung-ujungnya minta maaf dan janji enggak bakal mengulangi lagi,” terangnya. Terus-terus? “Ya enggak terus-terus, dimaafkan Esih lah,” akunya, terus Abang tobat? “Ah enggak juga. Nikmati saja,” ujarnya santai.

Sikap Esih yang seperti orang kesurupan pun, sekarang malah sudah dianggap Jaja sebagai sesuatu yang lumrah. “Kalau marah, pasti ada piring terbang di rumah, sudah biasa,” celoteh Jaja. Buset dah. Alasan Jaja tak mampu menceraikan istri karena sudah telanjur sayang. Apalagi, saat ini sudah dikaruniai momongan. Sementara, tingkah Jaja idak berubah. Secara sembunyi-sembunyi di belakang Esih, Jaja tetap menjalankan aksinya menjadi buaya darat. “Lagian, sikap kasar istri cuma muncul setiap kali ketahuan selingkuh saja. Selepas itu, normal lagi. Esih balik jadi yang istri yang baik. Malah, bisa memuaskan suami di ranjang,” jelasnya. Duh, urusan ranjang dibawa-bawa. “Ya, bisa-bisa kita saja sekarang itu, main aman,” ucapnya. Dasar buaya, enggak ada kapoknya. Yasalam. (Nizar S/Radar Banten)