Love Story: Istri Lusuh, Suami Abai

0
1.617 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

SIKAP Andre (32), nama samaran, tak pantas ditiru. Perannya sebagai suami selalu memancing emosi sang istri, sebut saja Indri (30). Perilaku Andre, setiap hari tak jarang membuat sang istri iri hati.

Bagaimana tidak? Selama berumah tangga, Andre hanya memikirkan diri sendiri. Terutama, dalam hal berpenampilan. Setiap berangkat kerja, penampilan Andre dendi. Apalagi, ketika ada acara jalan-jalan. Gayanya pasti trendi. Pakaian yang dibelinya, bukan barang murahan. Beda sekali dengan pakaian yang dibelikan untuk anak istri. Lantaran itu, Indri memutuskan untuk pergi jauh sementara dari kehidupan Andre. Maksudnya supaya Andre bisa introspeksi kalau yang dilakukannya itu salah.

“Kesal Kang. Suami saya tuh egois. Lebih mentingin diri sendiri. Saya yakin baju yang dipakainya mahal-mahal. Sementara, pakaian yang dikasih buat kita (Indri dan anak-red), paling beli dari loakan,” keluhnya. Masa sih? “Iya, soalnya beda, Kang. Barang mahal dipakainya pantas saja. Kalau punya saya, kelihatannya kucel,” tukasnya.

Yang bikin Indri makin kesal, setiap ditanyakan soal penampilan, misalnya ditanya ‘Mau ke mana Kang, rapi amat?’ Andre suka tersinggung dan uring-uringan tak keruan. Selanjutnya, anak yang menjadi korban kemarahan. Jawabnya, ‘Emang enggak boleh saya rapi? Ini kan buat kamu juga. Kalau saya cakep, kan kamu juga yang bangga’. Tentu saja, jawaban seperti itu, Indri bukannya senang, malah semakin membuatnya curiga kalau suaminya itu ada main hati dengan wanita lain. “Kalau Kang Andre adil, mungkin saya juga enggak bakal curiga, malah dukung,” ujarnya.

Indri memang mengagumi sosok Andre yang selalu terlihat kece pertama bertemu. Andre orangnya ganteng dan bertubuh cukup atletis. Andre juga cukup dihargai di mata teman-temannya.

Namun, awal pertemuan mereka terbilang kurang elit. Mereka tak sengaja bertemu di pasar tradisional di saat keduanya secara kebetulan masing-masing punya tugas belanja. Indri disuruh belanja sayuran, sementara Andre mendapat amanah dari orangtuanya untuk membeli bunga rampai untuk ziarah.

Indri yang memang sudah cukup kenal dengan Andre, masalahnya mereka tetanggaan, duluan menyapa saat berpapasan. Sapaan Indri pun disambut dengan gembira oleh Andre yang memiliki perawakan lelaki cap playboy.

Di pasar itulah, mereka saling bertukar nomor handphone. Merasa keduanya saling tertarik satu sama lain, mereka pun melanjutkan komunikasinya mulai dari berbincang via sambungan telepon, bercanda di medsos, sampai berlanjut janjian untuk ketemuan.

“Jujur saja pertama kali ketemu, saya sudah jatuh hati sama Kang Andre. Orangnya ganteng sih. Cewek mana coba yang enggak mau gandengan sama cowok cakep?” katanya.

Apalagi, perempuan berambut panjang itu, mengetahui kalau Andre saat itu bekerja sebagai marketing properti. Andre tentu saja setiap kerja selalu tampil perlente seperti orang gedongan begitu. Pakai kemeja, dasi, lengkap dengan sepatu pentofel. Sudah pasti, penghasilan Andre pun sesuai dengan penampilan.

Jadi, tak perlu lama untuk Indri melanjutkan hubungannya lebih jauh dengan Andre. Hati Indri semakin yakin bahwa dia tidak salah pilih. Soalnya, selama pacaran kantong Andre selalu tebal. Lantaran itu, Indri mendesak Andre untuk segera menikahinya dengan alasan, melihat usia sudah bukan waktunya lagi untuk berlama-lama pacaran.

Keinginan Indri pun diamini Andre. Meskipun, Indri menyadari bahwa tatapan Andre sedikit nakal kepada setiap wanita. Setiap jalan bareng, pasti mata Andre jelalatan.

“Selama pacaran, sebetulnya banyak sebelnya sama Kang Andre. Matanya, suka jalan-jalan. Ngobrol sama saya, tapi matanya ke mana. Kalau lihat cewek, matanya sampai nongol, enggak sadar ada calon istri di sebelahnya,” katanya.

“Ya, itulah Andre. Tapi, yang namanya jodoh, kan harus menerima setiap kekurangan pasangan. Dan saya yakin lebih banyak kekurangannya dibandingkan Kang Andre,” akunya.

Iya, perawakan Indri sedikit berisi alias montok. Namun, postur tubuh itulah yang memang didambakan oleh Andre yang memang memiliki selera demikian. Merasa sudah ada kecocokan, keduanya pun sepakat untuk melanjutkan hubungan sampai ke pelaminan. Awal-awal pernikahan, Andre masih menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya kepada Indri. Tentu saja bisa jadi karena melihat Indri berasal dari keluarga lumayan berada. Tapi, Indri tak pernah tahu isi pikiran Andre saat itu. Yang pasti, Indri bangga memiliki kekasih yang menjadi pusat perhatian perempuan yang melihatnya.

“Awal berumah tangga, Kang Andre tuh baik. Enggak pernah marah dan perhatian. Gajinya juga full dikasih ke saya. Apalagi, pas hamil, saya benar-benar dimanja,” katanya. Subhanallah. Sesuatu ya!

Seiring waktu, Indri merasakan ada perbedaan dari Andre setelah anak mereka lahir. Andre mulai tidak jujur soal penghasilannya di kantor. Terus, penampilan istri dan anaknya pun, tak pernah diperhatikan.

Tiga tahun sudah mereka berumah tangga, Indri dan anaknya hanya dibelikan pakaian setahun sekali menjelang Lebaran. Alamak. Sementara Andre sendiri, hampir setiap pekan selalu berganti baju dan celana baru.

Tak hanya itu, belum sepatu, tas, sampai motor baru. Sementara, motor lama dijualnya untuk DP motor gede yang lebih mahal yang membuat tampilan Andre semakin kece. “Di situ tuh, saya mulai sebal sama sikap Kang Andre. Kita mah disuruh diam di rumah. Tapi, dia sendiri malah kelayapan. Ngakunya, lemburlah, dipanggil boslah ada tugas. Saya yakin itu cuma alasan,” kesalnya.

Kekesalan Indri sepertinya sudah di ujung tanduk. Andre mulai memperlihatkan sikap acuh tak acuh, baik terhadap Indri maupun anaknya. HP juga tak pernah lepas dari genggamannya dan selalu marah besar jika Indri meminjamnya walau sesaat ketika pulsanya kehabisan.

“HP suami krang kring krang kring saja, enggak siang, pagi, maupun malam. Sementara punya saya, setiap menelepon, pasti dimarahi operator,” terangnya. Maksudnya?

“Iya, kehabisan pulsa, enggak bisa teleponan,” ujarnya.

Yaelah. Lantaran itu, akhirnya Indri memutuskan untuk balik ke rumah orangtua tanpa sepengetahuan Andre yang dirasanya sudah tak cinta lagi.

“Sekarang saya mau sendiri dulu. Lagian Kang Andre sejak saya pergi dari rumah, enggak pernah cari tuh, abai saja. Makanya, biarin. Saya pengin tahu mau sampai di mana kita diam-diaman,” tegasnya.

Jangan begitu Teh, enggak baik. Kasihan anak jadi korban. “Biarin Kang supaya dia introspeksi. Kalau begini caranya, saya enggak tahan lagi,” jelasnya. Ya sudah, kalau keputusannya begitu. Ya salam. (Nizar S/Radar Banten)