Love Story: Istri Tidak Peka, Hidup Serasa Hampa

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

MUNGKIN sebagian besar perempuan bakal merasa cemburu ketika melihat suami kembali menjalin komunikasi dengan mantan pacar. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Juju (32) nama samaran.

Justru sebaliknya, suami Juju, sebut saja Juhe (33), justru dibuat gusar oleh perilaku Juju yang tidak peka dengan tingkah Juhe. Kondisi itu membuat Juhe sampai saat ini masih bertanya-tanya. Kenapa Juju tidak pernah sekali pun merasa cemburu kepada pria bertubuh kurus tersebut.

Sejak itu, malah Juhe yang selalu mencemburui istrinya. Keduanya warga Pandeglang. Lantaran sering terjadi perselisihan akibat perbedaan prinsip di antara keduanya itu lah nyaris berujung pada perceraian.

“Awalnya memang saya yang cari gara-gara duluan. Maksudnya, ingin diperhatikan istri. Soalnya, istri saya itu, bagaimana ya? Lurus saja orangnya sejak kita menikah. Memergoki saya lagi mengobrol sama mantan, cuek saja orangnya, enggak pernah tanya apa-apa,” terangnya. Widih, bukannya lelaki tuh senang dibebaskan oleh istri begitu, dasar suami yang aneh!

Juhe tak menampik jika dari sekian mantan semasa pacaran, perempuan yang paling dicintainya hanyalah Juju. Banyak yang bisa dikenang dari Juju. Terutama untuk mendapatkan hati Juju, Juhe benar-benar penuh perjuangan. Ia harus bersaing dengan banyak lelaki lain yang lebih mapan. Wajar, diakui Juhe, sosok Juju cukup memesona. Wajah Juju terbilang manis, kulitnya putih mulus, serta dandanannya yang sederhana tapi nyentrik, membuat semua lelaki yang melihat Juju bisa dibuat terpana.

Sebaliknya, Juju tak pernah mengungkapkan rasa sukanya kepada Juhe dari dulu. Alasan Juju menerima Juhe menjadi pacar atau suaminya karena dirasa paling serius dan baik ketimbang mantan-mantannya yang kebanyakan hidung belang. Bagaimana Juju tidak menerima Juhe, sebelum menjalin hubungan, Juhe selalu ada di samping Juju. Juhe dan Juju adalah teman satu kampus. Juhe sadar kalau Juju dulunya primadona, baik di lingkungan kuliah maupun di lingkungan rumah.

Kebetulan, Juju juga tetangga Juhe di desa. Lantaran itu, ke mana-mana mereka sering jalan bareng dan Juhe selalu ada dan siaga menemani Juju. Di kala Juju sedih ketika tertimpa masalah keluarga atau dikhianati pacar, Juhe selalu ada di samping Juju untuk menemani dan menghibur. Tentunya, sikap yang diambil Juhe itu bukan tanpa arah tujuan. Tapi, memang tidak ingin Juju jatuh cinta ke tangan orang yang salah. Itu lah kenapa Juhe tak mau jauh dari pandangan Juju.

Selain rela menjadi teman curhat, apa pun kemauan Juju pasti dituruti oleh Juhe. Mau jajan apa pun, Juhe pasti belikan. Mau ke mana pun, Juhe pasti mengantarkan. Sudah seperti seorang pengasuh menuntun anak majikannya yang masih balita.

“Intinya, selama saya kenal cewek, enggak pernah merasa senyaman di dekat Juju. Juju tuh spesial, selain cantik, orangnya tomboy, dan cuek sama laki-laki, sempurna deh,” jelasnya. Widih sebegitunya.

Menyadari hal itu, PNS salah satu instansi di Serang ini tak ingin membuang kesempatan untuk mencuri hati Juju di saat yang tepat. Maksudnya, Juhe sebisa mungkin harus bisa memanfaatkan situasi ketika Juju tengah dilanda kesedihan. Akhirnya, suatu hari setelah keduanya memasuki masa wisuda, Juhe tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Juhe memberanikan diri menembak Juju yang saat itu tengah bahagia menikmati kelulusan.

Ternyata momentum itu tepat, setelah lama menjadi teman dekat Juju, tanpa pertimbangan langsung diterima Juju. Meskipun, jawabannya tak sesuai ekspektasi Juhe. Yakni, Juju hanya meminta hubungannya jalani saja dulu. Kalau Juhe serius dan tak berkhianat, dipastikan Juju akan dipertahankan. Sebaliknya, kalau niat Juhe sekadar main-main dan masih senang lirik-lirik perempuan, dipastikan tak akan pernah dimaafkan Juju dan mengancam tidak ingin mengenal Juhe lagi.

Singkat cerita, mereka menjalin hubungan. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka terbilang lancar tetapi sedikit kaku. Maklum, karena dulunya mereka teman dekat. Biasanya, Juju tak segan dekat-dekat atau bahkan memeluk Juhe ketika merasa sedih atau pun senang. Sejak pacaran, jangankan pelukan, pegangan tangan saja keduanya masih ragu-ragu. Kondisi itu berlangsung hingga tiga bulan mereka pacaran. Tak berapa lama, setelah Juhe dipastikan lolos tes CPNS, Juhe memberanikan diri melamar Juju.

“Saya ajak buru-buru menikah, pikir saya dengan berstatus suami bisa berbuat apa saja sama Juju,” ujarnya.

Seiring waktu, lamaran Juhe diterima dan mereka pun melangsungkan prosesi pernikahan cukup meriah. Awal-awal berumah tangga biasa saja. Tapi, lama-lama Juhe merasa ada yang janggal. Soalnya, setiap berhubungan intim, Juju sepertinya tidak terlalu begitu menikmati, tidak antusias, apalagi menggelora. Sikapnya biasa saja, pasrah. Setelah berhubungan, langsung menuju kamar mandi terus ganti baju dan langsung beranjak ke tempat tidur untuk istirahat. Sehabis berhubungan, sikap Juju pasti begitu, tanpa raut wajah kebahagiaan atau terpuaskan dengan servis suami.

Dipicu hal itu, Juhe mulai mencari-cari perhatian kepada Juju. Maksudnya, ingin mengetahui bagaimana perasaan Juju terhadap Juhe. Juhe mulai cuek di rumah dan jarang mengajak berbincang kepada Juju. Namun, tampaknya apa yang dilakukan Juhe tidak direspons sama sekali.

Sekali waktu, Juhe mencoba mencari-cari masalah dengan bersikap genit di jalan setiap jalan sama Juju untuk sekadar belanja atau pergi kerja bareng. Kebetulan, Juju juga kerja sebagai tenaga honorer dan kantornya searah. Lagi-lagi usaha Juhe sia-sia. Juhe tak patah arang, dia ingin mencoba membuat istrinya marah besar dengan berkomunikasi dengan mantan, sesekali menelepon mantan di depan Juju, tapi kembali tidak diperhatikan.

Menyikapi perilaku Juhe, Juju malah mengambil langkah seribu. Pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Sejak itu, Juhe sempat berpikir kalau Juju memang tak pernah mencintainya. Juhe sempat curiga kalau Juju menerimanya menjadi pendamping hidup hanya formalitas atau kasihan terhadap Juhe yang sabar menanti bertahun-tahun.

Sampai saat ini, sudah lima tahun berumah tangga dan dikaruniai satu anak, Juhe tak pernah mendapat jawabannya. “Sebetulnya, rumah tangga saya enggak ada masalah. Tapi, perilaku istri itu bikin curiga. Cuma curiga juga kalau tidak ada bukti buat apa. Malah tambah dosa,” keluhnya.

Lantas Kang Juhe maunya apa? “Ya, penasaran saja. Punya istri kok kaku begitu, enggak peka. Hidup juga jadi serasa hampa. Sebetulnya, Juju itu sayang enggak sih sama saya, apa ada lelaki lain di hatinya?” tuduhnya.

Astaga Kang, istigfar. Sekarang mah daripada pusing mending positive thinking saja. Ya salam. (Nizar S/Radar Banten)