Love Story: Jago Akting di Depan Suami

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

RESTU orangtua merupakan doa yang bisa menghindarkan kita dari malapetaka hidup dalam menjalankan rumah tangga. Kisah ini tentang dua orang yang memang sejak awal pacaran kurang direstui orangtua dari pihak laki-laki. Namun si laki-laki tetap bersikeras akan tetap menikahi si perempuan. Akhirnya perang dingin pun tidak terelakkan antara orangtua laki-laki dan pasangan yang baru saja menikah itu. Lalu bagaimana kelanjutan kisah mereka. Yuk simak.

Yanto (35) nama disamarkan dan Sinta (30) nama disamarkan sudah berpacaran dari bangku SMA dan berlanjut hingga Yanto kerja. Saat pacaran, hubungan mereka berdua tidak disetujui orangtua Yanto. Mereka tidak suka dengan sikap Sinta yang kurang sopan, sok berkuasa, dan juga pemalas. Orangtua Yanto sebenarnya sudah sering berbicara mengenai ketidaksetujuan ini kepada Yanto, tapi ia tidak pernah mendengar dan menuruti. Yanto terus saja berpacaran dengan Sinta.

“Memang sih Yanto sempat beberapa kali putus dengan Sinta tapi balikan lagi. Saya juga sudah bilang kalau Sinta itu orangnya pemalas dan nggak sopan sama mama papa,” curhat Dita, bukan nama sebenarnya, adik Yanto.

Selepas SMA, Yanto diterima di salah satu perusahaan baja terbesar di Banten. Yanto dan Sinta  tetap berhubungan. Sinta tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan juga tidak bekerja. Sinta hanya membantu orangtuanya di rumah.

Di tahun ketiga mereka pacaran, ibu Yanto meninggal dunia. Yanto yang tadinya masih sedikit mendengarkan perkataan ibunya setelah meninggal,  Yanto semakin menjadi-jadi. Dia tidak pernah mendengarkan perkataan bapaknya, setiap diberi nasehat Yanto selalu mengamuk. Akhirnya bapak Yanto hanya pasrah dan membiarkan Yanto berbuat semaunya.

Selang dua tahun setelah ditinggalkan ibunya. Yanto bertekad untuk menikahi Sinta. Bapak Yanto yang sudah tidak bisa lagi memberi nasehat hanya mengikuti kemauan Yanto, dan belajar ikhlas untuk menerima Sinta sebagai menantu.

“Yah mau nggak mau bapak menerima Sinta sebagai menantu, soalnya Mas Yanto itu orangnya keras kepala banget. Kalau nggak dituruti dia bakal ngamuk. Mas Yanto juga mengancam bakal acak-acak isi rumah. Pokoknya Mas Yanto itu kayak orang kesetanan deh kalau nggak dituruti,” lanjut Dita.

Setelah menikah Yanto mengajak Sinta untuk tinggal di rumah orangtuanya di Desa Kramatwatu. Karena memang dari pertama sudah dilandasi rasa tidak suka baik dari pihak mertua maupun dari pihak menantu, yang terjadi akhirnya perang dingin. Sinta tidak pernah menghormati bapak Yanto, namun setiap kali di depan Yanto Sinta selalu bersikap sangat baik, berpura-pura sopan dan sangat perhatian.

Ternyata bukan hanya kedua orangtua Yanto yang tidak suka dengan Sinta, tapi juga kedua adik Yanto. Dita yang sedang mengenyam pendidikan S1 sering kali beradu omongan dengan Sinta kalau sedang tidak ada Yanto.

“Duh Sinta itu pokoknya pinter banget cari muka di depan Mas Yanto, semua keluarga Sinta juga seperti itu, kayaknya mereka satu keluarga jago akting. Bapak aja sampai nggak habis pikir si Sinta dan keluarganya bisa kayak gitu munafiknya,” tutur Dita dengan kesalnya.

“Mas Yanto juga seperti orang bodoh yang mau disuruh-suruh apa saja. Pernah waktu itu si Sinta lagi main ke rumahnya di Serang dan minta dijemput waktu pulang, tapi pakai syarat gitu. Syaratnya nggak boleh terlambat satu menit pun. Kayak pengawal pribadi, Mas Yanto dibikin begitu sama Sinta,” tambah Dita.

Karena tinggal dalam satu rumah sindir-sindiran sering terjadi. Kalau Yanto sedang tidak ada di rumah, Sinta mulai menunjukkan aslinya. Di rumah pun Sinta nggak pernah memasak dan membersihkan rumah. Tapi kalau Yanto libur pun Sinta mendadak menjadi rajin memasak dan membersihkan rumah.

“Kalau lagi nggak ada Mas Yanto, Sinta nggak pernah mengucapkan salam masuk rumah dan salam ke bapak. Tapi kalau bareng sama Mas Yanto dia berubah 180 derajat, makanya kalau kita bilang ke Mas Yanto tentang sifat asli Sinta, Mas Yanto nggak pernah percaya dan mikir kalau kita semua hanya mau menjelek-jelekkan Sinta saja,” kata Dita.

Hal ini terus berlanjut hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hingga menjelang setahun pernikahan Sinta dan Yanto, akhirnya Bapak Yanto yang sudah tidak tahan dengan sikap Sinta. Bapak Yanto membicarakan dan memberi masukan agar Yanto dan Sinta mengambil rumah dan segera pindah. Dengan cara yang lembut dan sangat hati-hati bapak Yanto berbicara kepada pasangan ini. Namun, memang dasar Sinta yang pemalas dia tidak mau pindah karena nantinya dia yang harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga, dia terus mempengaruhi Yanto untuk tidak pindah.

Yanto awalnya setuju dengan ide bapaknya, tapi karena dipengaruhi Sinta, Yanto jadi berubah pikiran. Sinta beralasan ke Yanto kalau mengambil rumah akan menambah besarnya cicilan ke perusahaan. Dengan alasan berhemat juga dia semakin berhasil mempengaruhi Yanto agar tidak jadi mengambil rumah.

Padahal kalau sedang di rumah dan Yanto pergi bekerja, Sinta kerap kali membeli makanan untuk dirinya sendiri dengan boros. Dan dalam hidup Sinta tidak ada kata hemat jika itu menyangkut kesenangan dirinya sendiri.

Bapak Yanto sudah kehabisan akal untuk membujuk Yanto agar pindah rumah, akhirnya lagi dan lagi memilih pasrah dan menjalani dengan sabar. “Bukan hanya saya yang nggak nyaman dengan keadaan begini, tapi bapak juga. Sudah berkali-kali bapak harus meredam kemarahannya kalau sudah menyangkut Sinta dan Yanto. Entah sampai harus berapa lama, saya, adik saya, dan bapak menjalani keadaan kaya gini. Saya sih cuma bisa berharap semoga Sinta nggak betah lama-lama kaya gini dan cepat-cepat pindah dari rumah. Supaya dia ngerasain rasa capeknya masak dan membersihkan rumah,” tutup Dita. (Hellen-Zetizen/Radar Banten)