Love Story: Janji Manis Berujung Sadis

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Air mata tidak henti-hentinya membasahi pipi ibu dua anak ini. Sebut saja Jakronah (35) bukan nama asli. Dua belas tahun sudah ia menjalin rumah tangga, namun perilaku sanga suami tidak juga berubah, sama seperti ketika saat awal menikah.

Malam itu Jakronah menunggu suaminya, Jajang (36) nama samaran, panggil saja begitu, di rumahnya di Serang. Setelah pukul 02.30 dini hari, Jajang datang dengan muka kusut masai. Jakronah yang masih terjaga menunggu suaminya pulang, membukakan pintu.

“Saat saya tanya dari mana, dia malah menjawab bukan urusan kamu saya darimana. Belum lagi mukanya ketus,” Jakronah memulai ceritanya pada Radar Banten.

Malam itu, kata Jakronah, suaminya pulang dengan wangi parfum wanita. Jakronah langsung curiga. Ini bukan tanpa alasan. Sang suami sebelumnya memang pernah ketahuan bermain serong di belakang Jakronah. Meski tidak memiliki wajah rupawan, suami Jakronah memang terkenal doyan berganti-ganti wanita.

Malam itu, pertengkaran sengit pun terjadi. Jajang tidak hanya mengumpat dan menumpahkan segala kosa kata kasar dari bibir legamnya yang tersulut rokok. Jajang pun main tangan. Tangan kanan Jajang yang kokoh melayang ke wajah Jakronah, tendangan dan pukulan bertubi-tubi menempel di wajah, perut, kaki, dan tangan Jakronah.

Jakronah hanya pasrah. Sebab tenaga Jakronah kalah kuat. Mau melawan bagaimanapun, Jakronah pasti kalah. Setelah puas memukuli Jakronah, seperti tanpa rasa bersalah, lelaki berwajah bengis itu pun pergi tidur. Sementara Jakronah masih menangis dan memegang wajah dan tubuhnya yang lebam.

“Bukan cuma raga saya yang sakit, Mas, tapi hati saya. Saya tidak lagi merasa seperti manusia malam itu,” kata Jakronah sambil berlinang airmata.

Kebiasan buruk Jajang setiap kali berkelahi dengan Jakronah pasti selalu main tangan. Bukan hanya sekali dua kali, tapi acap kali. Seolah Jakronah adalah musuh bebuyutan yang siap dihabisi kapan saja. Tak perlu bertanya kemana kekuatan janji manis pernikahan mereka? Janji Jajang hanyalah palsu. Meski begitu Jakronah tegar, ia menyadari perilaku kejam lelaki pilihannya itu adalah konsekuensi pahit dalam hidup yang harus ia rasakan.

Meski diperlakukan kasar oleh suaminya, Jakronah tidak pernah mengeluh. Apa yang membuat Jakronah bertahan? Padahal suaminya hanyalah seorang pengangguran yang pemalas. Urusan agama pun, sangat jauh dari kata saleh. Jajang ini ternyata malas salat. Belum lagi perilaku kasar karena saat muda ia adalah mantan preman.

Untuk urusan dapur, Jakronah lah yang banting tulang untuk menghidupi keluarga. Padahal Jakronah hanyalah guru PNS yang gaji bulanannya tidak mampu mencukupi keluarga.

“Kadang kalau uang gajihan nggak cukup untuk bayar sekolah anak pertama saya atau untuk beli susu anak kedua saya yang masih kecil, saya harus menghutang ke warung. Atau ke teman dan tetangga,” tambah Jakronah.

Jakronah juga mengaku, ia bahkan harus berjualan gorengan di sekolah tempat dia mengajar. Tapi anehnya, Jajang tidak pernah mau tahu apa yang dilakukan istrinya. Dia hanya tahu harus ada uang untuk membeli rokok dan bensin jika dia ingin keluar.

Setiap kali ditanya kapan Jajang mencari kerja, ia hanya menjawab tentang proyek-proyeknya yang tidak jelas. Kata Jakronah, pernah suatu ketika Jajang ingin keluar rumah tapi posisi Jakronah sedang tidak memegang uang. Kalaupun ada, hanya cukup untuk makan esok hari. Bukannya simpati, Jajang malah memaksa Jakronah menghutang ke tetangga. Mau tidak mau Jakronah harus menghutang daripada tamparan tangan Jajang yang kasar menempel lagi di pipinya.

Sebenarnya Jakronah ingin memaksa suaminya kerja, tapi apadaya daripada badan habis dipukuli kalau dia marah, jadi lebih baik dia mengingatkan saja tapi tidak memaksa. Derita yang dia alami hampir setiap hari dijalani. “Badan dan batin saya tersiksa. Tapi apa yang harus saya perbuat,” kata dia.

Pernah ia curhat kepada ibunya, tapi ibunya hanya menyarakan untuk cerai. Jakronah meminta bantuan agar bisa cerai tapi ibunya juga tidak berani karena Jajang adalah mantan preman pasar.

Pernah juga Jakronah mengajak cerai Jajang tapi Jajang malah menggendong anak keduanya dan mengancam untuk membawa untuk dibawa keluar rumah dan tidak akan dipertemukan lagi dengan Jakronah. “Saat itu, saya langsung memegangi kaki Jajang dan memohon agar anak saya tidak dibawa pergi,” kata wanita ini lagi.

Jajang yang memang tak memiliki hati manusia ini malah menendang Jakronah yang sedang memegangi kakinya saat itu. Ia tak menggubris anak pertamanya yang melihat sang ayah tengah menendang sang ibu.

“Anak pertama saya langsung memeluk saya dan menangis, Mas. Anak saya sampai memohon-mohon supaya ayahnya tidak menyakiti saya dan tidak membawa adiknya keluar rumah,” Jakronah kembali berlinang airmata.

Untungnya saat itu Tuhan masih berpihak dan meluluhkan hati Jajang untuk tidak memukul . Menurut Jakaronah, Jajang tidak pernah berani memukul darah dagingnya.

“Saat itu, Jajang langsung diam sebentar dan setuju tidak membawa anak kedua saya pergi. Syaratnya, saya tidak bercerai dengannya,” kata Jakronah lagi. Hmmm, sepertinya itu hanyalah gertakan Jajang agar tidak cerai dengan Jakronah. Wanita ini seperti menjadi aset bagi Jajang supaya bisa mendapatkan uang rokok dan bensin setiap hari tanpa harus bersusah payah kerja bukan?

Hingga saat ini, Jakronah hanya pasrah dan selalu berdoa kepada Tuhan agar sang suami berubah dan bisa mengerti kondisi keungan keluarga. wanita ini juga berdoa, semoga lambat-laun sang suami benar-benar menjadi pemimpin rumah tangga yang baik dan mewujudkan janji-janji manisnya dahulu. (Arul-Zetizen/Radar Banten)