Love Story: Janji Sehidup Semati

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Uang adalah segalanya untuk sejumlah pihak, termasuk untuk pasangan Sinta (26) dan Doni (34), keduanya nama samaran. Sebagai pegawai panti pijat plus-plus, Sinta bisa dibilang harus menjual diri untuk lembaran-lembaran kertas uang. Doni pun tahu dan mendukung profesi Sinta. Meskipun ini lantaran keterpaksaan, mengingat Doni tidak produtif akibat penyakit yang ia derita.

Sebagai wanita penjaja di panti pijat, jelas rumah tangganya rentan berpisah. Apalagi tidak jarang pria hidung belang yang ingin memilikinya secara utuh. “Tidak jarang yang ajak saya menikah, mereka tidak tahu kalau saya sudah punya suami dan anak,” katanya.

Semakin Sinta menolak cinta para pelanggan, semakin deras pula uang yang masuk ke dalam kantongnya. Ini memang bagian dari strategi Sinta untuk mendapatkan uang lebih dari para pelanggan. “Saya beri harapan palsu biar mereka geregetan. Tapi tidak ada yang pernah saya seriusi,” tuturnya.

Hanya saja, ia memiliki rasa ketakutan akan kehilangan sang suami. Karena itu, ia membuat perjanjian sehidup semati bersama Doni di depan pengacara. “Ini janji di atas kertas, ada muatan hukumnya. Ini jadi acuan kami agar tidak sampai berpisah,” katanya.

Meskipun Doni sakit-sakitan hingga tidak bisa bekerja, namun Sinta sangat menyayangi suaminya. Ini karena sang suami telah melakukan banyak hal, bahkan sampai membuatnya sakit parah. “Kerja di panti pijat itu bentuk pengorbanan saya untuk suami. Dia telah berbuat banyak untuk saya dan keluarga. Karena itu saya sangat sayang dan tidak ingin kehilangan dia,” tuturnya.

Penyakit yang diderita Doni tidak lain adalah paru-paru basah. Doni yang sebelumnya bekerja di sebuah pabrik di Serang, telah banyak berkorban. Pengorbanan paling tinggi dia adalah menyumbangkan salah satu ginjalnya untuk ayah Sinta. Gara-gara itu, vitalitas Doni menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak hanya menyumbangkan ginjal, namun Doni pun bekerja keras untuk membiayai pengobatan sang mertua. Yakni dengan bekerja lembur untuk mendapatkan tambahan uang. “Dia bisa biayai kebutuhan saya dan anak-anak, juga pengobatan ayah saya. Sekarang ayah sudah sembuh, tapi Doni yang sakit-sakitan,” jelasnya.

Ada rasa bersalah pada hati Sinta, lantaran membiarkan Doni bekerja terlalu keras untuk kepentingan ayahnya. Karena itulah, ia memilih bekerja di sebuah panti pijat dan menerima kencan beberapa pelanggan. “Sampai Mas Doni sembuh dari penyakit paru-paru, saya yang akan berkorban untuknya,” tuturnya.

Lalu kenapa bekerja di panti pijat? Sinta mengaku diajak sejumlah teman dekat. Selain itu, masa lalu Sinta yang pahit membuatnya berani mengambil pekerjaan itu. “Saya pernah jadi korban pemerkosaan. Saya dipaksa melayani bos saya sewaktu bekerja di sebuah toko,” katanya.

Si bos waktu itu dilaporkan ke pihak kepolisian. Meskipun diproses hingga masuk penjara, namun trauma membekas pada diri Sinta. “Sampai akhirnya saya bertemu dengan Mas Doni. Dia membuat saya percaya diri, dia pun mau terima saya meskipun tahu kalau saya tidak perawan,” jelasnya.

Pengorbanan, kesabaran, serta perjuangan Doni di mata Sinta sangat besar. Karena itulah dia tidak ingin kehilangan sang suami. Lantaran itulah dia mendatangi salah satu pengacara untuk dibuatkan sebuah surat pernyataan sehidup semati. Setidaknya, sampai maut memisahkan mereka. “Pada perjanjian itu, siapa pun yang menuntut cerai maka akan kehilangan segalanya. Apakah itu harta, maupun hak asuh anak. Itu sebagai pengingat saja, agar kami tidak ada yang mau menuntut cerai,” jelas Sinta. (Sigit/Radar Banten)