Love Story: Kalau Gagal, Tidak Akan Nikah Lagi

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Kehidupan ibarat sungai panjang yang harus kita ikuti untuk mencapai tujuan akhir, baik itu sedih maupun bahagia. Sepanjang perjalanan arus sungai terus berubah-ubah tergantung dari hambatan yang harus lewati airnya. Terkadang jalannya mulus tapi ada saatnya kita harus melewati batu batu besar.

Sama seperti kisah perjalanan pernikahan sepasang manusia ini. Zuki (38) dan Nana (42) kedua nama disamarkan, mereka tinggal di salah satu desa di Kabupaten Serang, Zuki merupakan suami kedua dari Nana. Sebelumnya Nana sudah pernah membina rumah tangga dengan laki-laki lain dan mempunyai dua anak. Namun pernikahan Nana yang pertama kandas di tengah jalan karena sang suami selingkuh, akhirnya dengan kesepakatan kedua pihak mereka bercerai.

Setelah beberapa tahun kemudian, Nana yang bekerja di salah sati diler mobil bertemu dengan Zuki, pemuda yang bekerja di salah satu televisi swasta daerah. Mereka bertemu karena terjadi kesepakatan kerja sama antara diler tempat Nana bekerja dan televisi swasta daerah tempat Zuki bekerja. Kesepakatan itu adalah permintaan periklanan, alhasil Zuki sering ke tempat Nana bekerja. Dari sinilah pendekatan mereka dimulai.

Awalnya Nana masih tidak mau membuka dirinya terhadap laki-laki lain. Dia trauma akan pernikahannya yang pertama. Sering kali dia menolak tawaran Zuki walau untuk sekadar makan. Namun karena terlalu sering akhirnya Nana mau juga. Zuki pun mengetahui bahwa Nana adalah janda beranak dua, tapi Zuki tetap menerima Nana.

Hari terus berganti, hingga tibalah di hari pernikahan Zuki dan Nana. Nana memutuskan untuk pindah dari rumah lamanya, membeli rumah baru serta tinggal bersama Zuki dan kedua anaknya. Zuki sudah dekat dengan anak-anak Nana, dia bisa langsung memposisikan dirinya seperti ayah kandung untuk mereka. Hari-hari awal pernikahan mereka terlihat sangat bahagia. Mereka berdua juga tetap bekerja di tempatnya, sedangkan untuk menjaga anak-anaknya mereka membayar baby sitter.

Zuki sebenarnya sudah meminta Nana untuk berhenti bekerja dan menyuruhnya untuk mengurus anak-anak di rumah. Dia sangat perhatian kepada Nana. Tapi Nana tetap bersikeras untuk bekerja.

“Sebenarnya Zuki meminta agar saya berhenti bekerja, dia juga mintanya lembut nggak maksa. Tapi saya tetap tidak mau, saya masih takut kalau nanti dia tiba-tiba tinggalin saya dan saya tidak punya pegangan apa-apa. Masa saya harus ngemis-ngemis ke dia,” curhat Nana.

Hingga tibalah hari di mana Nana jatuh pingsan. Begitu diperiksa ke dokter, Nana dinyatakan hamil. Ternyata kandungan Nana sudah berusia dua minggu. Dengan alasan kehamilan Nana yakni anak pertama Zuki, Zuki melarang keras Nana untuk bekerja. Nana dipaksa berhenti bekerja.

“Mau tidak mau saya harus berhenti kerja, walaupun sebenarnya saya masih kuat untuk bekerja. Tapi Zuki terlalu over protective kepada bayinya sepertinya. Dia tidak mau kalau bayinya kenapa-kenapa,” tutur Nana.

Minggu berganti bulan, hari kelahiran pun tiba. Zuki masih tetap sama, baik dan penuh perhatian. Tidak ada yang perlu dicurigai dari kelakuan Zuki. Nana jadi begitu percaya kepada Zuki.

“Lagipula dia kan suami saya, sepertinya sudah seharusnya saya percaya sepenuhnya sama dia,” kata Nana.

Anak pertama dari pernikahan mereka berdua adalah laki-laki. Zuki sangat senang, dia semakin perhatian di tahun-tahun pertama kelahiran putranya. Tapi setelah kelahiran bayi mereka, Zuki jadi jarang perhatian kepada Nana. Pengeluaran Zuki juga semakin tidak wajar. Ia kerap kali meminta uang kepada Nana, padahal uang tersebut untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

“Keuangan di rumah memang saya yang mengatur, tapi bukan berarti Zuki tidak memegang uang sama sekali. Dia punya jatah sendiri untuk biaya pribadi dia,” ungkap Nana.

Perilaku Zuki terus berlanjut seperti itu. Bahkan dia sering sekali marah jika dinasehati istrinya. Suatu hari, Nana yang sedang membersihkan rumah menemukan KTP remaja perempuan, karena penasaran dia bertanya pada Zuki. Zuki yang tidak siap ditanya Nana, menjawab dengan terbata-bata. Zuki berbohong pada Nana. Sebenarnya Nana tahu kalau Zuki berbohong tapi ia mendiamkannya.

Hal itu terus berulang, akhirnya Nana sudah tidak sanggup lagi. Dia meluapkan segala emosinya kepada Zuki, ia membentak Zuki. Nana mengeluarkan semua nama-nama binatang. Sang suami yang tidak terima karena merasa dilecehkan istrinya sendiri, mendorong Nana dengan kasar hingga Nana terjatuh ke lantai lalu keluar dari rumah sambil membanting pintu. Zuki pergi tanpa menyelesaikan masalahnya.

Setelah tiga hari pergi dari rumah, Zuki kembali dengan tampilan sangat berantakan. Nana hanya mendiamkan Zuki, dia tidak merespons kedatangannya. Dan menganggap Zuki tidak ada.

“Saya saja sudah lelah dengan urusan anak, dan saya tidak punya waktu untuk mengurusi Zuki yang semaunya sendiri, terserah dia kalau dia tidak mau di nasehati lagi,” tuturnya.

Ternyata alasan Zuki pulang karena dia sedang dikejar-kejar pihak perusahaan karena dia sudah memakan uang klien yang seharusnya disetorkan. Zuki meminta tolong kepada Nana. Nana bingung karena dia sendiri tidak punya penghasilan.

“Saya kan cuma ibu rumah tangga, mau punya penghasilan dari mana. Dulu Zuki sendiri yang minta saya untuk berhenti kerja, giliran seperti ini saya juga yang harus direpotkan,” keluh Nana.

Akhirnya dengan berat hati, Nana menyuruh Zuki untuk menjual mobil mereka. Agar bisa melunasi hutang-hutang Zuki.

“Astaga ternyata hutang Zuki itu puluhan juta, ya ampun saya tidak habis pikir, dikemanakan saja uang sebanyak itu. Lagipula akhir-akhir ini dia sedikit sekali mengirim uang ke rumah, mau jadi apa nanti. Mau dikasih makan apa anak-anak   kalau seperti ini terus keadaannya, saya bingung,” curhat Nana dengan berlinang air mata.

Agar tetap bisa makan, Nana memutuskan kembali bekerja. Dia pun cerita kepada orangtuanya. Bapak Nana yang merupakan Lurah, menyuruh Nana untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD. Setelah berpikir Nana menyetujui usulan bapaknya itu. Melalui koneksi bapaknya, Nana berhasil menjadi anggota DPRD.

Dengan penghasilannya yang sekarang, dia tidak lagi bergantung pada Zuki. Tapi Nana juga membantu Zuki untuk melunasi hutang-hutangnya.

“Saya kapok bergantung sama suami, lebih baik banting tulang dari pada di rumah tapi stres sama kelakuan suami, keuangan yang tidak jelas. Kalau punya penghasilan sendiri akan aman walaupun suami nanti macam-macam. Toh kalau pernikahan saya kali ini akan gagal lagi, saya sudah punya tabungan untuk membiayai anak saya. Dan saya janji kalau gagal lagi saya tidak mau menikah lagi,” tutupnya. (Hellen-Zetizen/Radar Banten)