Love Story: Karma Cinta karena Beda Agama

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

DERITA cinta memang tiada akhir. Bagi penggemar serial Kera Sakti atau Sun Go Kong, kalimat keramat dari siluman babi Pat Kay ini pasti masih terngiang-ngiang. Seperti dua sisi mata uang, cinta tidak hanya menawarkan sisi bahagia, tapi juga derita.

Inilah yang dialami Sari (24), bukan nama sebenarnya. Perempuan muda asal Cilegon ini mengalami kekecewaan sangat mendalam menjelang pernikahannya. Kisah ini terjadi dua tahun lalu. Tragedi pilu ini dimulai sejak Sari meninggalkan pasangannya. Hancur lebur hati Sari, begitu juga kedua orangtuanya.

Sebelum mengenal sang calon suami, Anwar (28), nama samaran, Sari pernah menjalin hubungan dalam waktu cukup lama. Sebut saja Rudi (23), bukan nama sebenarnya. “Saya pacaran dengan lelaki yang tinggal tidak jauh dari rumah. Lelaki ini satu tahun lebih muda  dari saya. Hubungan ini terjalin sebelum saya mengenal Anwar, hampir tiga tahun. Keluarga kami saling mengenal, tapi sayangnya kami berbeda agama,” Sari mulai menuturkan kisahnya.

Alasan Sari bertahan dengan Rudi karena terbilang cukup mampu dalam hal harta, pandai, dan dewasa meskipun masih duduk di bangku kuliah semester akhir. Sedangkan Sari saat itu sudah bekerja di salah satu klinik bersalin di Cilegon.

Sari termasuk selektif terhadap pasangan, baik secara materi dan fisik. Namun jika ia menginginkan seseorang, nasihat orangtua pun tidak ia gubris.

Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, maka dari itu ayah dan ibu Sari kompak meminta Sari untuk menjalin pertemanan saja dengan Rudi lantaran perbedaan agama.

Sebenarnya keluarga Sari sangat senang dengan Rudi, tapi ada benteng yang sulit untuk di tembus. Semakin lama Sari menjalin hubungan dengan Rudi, keduanya semakin serius. “Saya salah, waktu itu tidak mendengarkan orangtua, saya membiarkan Rudi terlalu lama mencintai saya dan saya membiarkan dia masuk ke dalam dosa. Rudi akhirnya sangat benci kepada saya, mungkin hingga saat ini,” lanjut Sari.

Saat sari bertemu Anwar, pria asal Medan, ia langsung terpikat. Selain dokter muda dengan masa depan cerah, poin pentingnya, mereka seagama. Sari diam-diam menjalin hubungan dengan Anwar. Dan hebatnya Anwar tidak mengetahui perihal ini.

“Tampangnya memang tidak seganteng Rudi. Tapi yang saya cari pasangan hidup yang bisa menafkahi, bukan pacar yang belum tentu bisa menikahi. Makanya saya mendekati Anwar, siapa tahu dia mau menikahi saya,” tutur Sari.

Beberapa bulan menjalin hubungan dengan Anwar, Sari minta dipinang sesegera mungkin. Tanpa sepengetahuan Rudi, Sari dan Anwar menyusun pernikahan yang sudah setengah perjalanan.

Sari pun mulai menjauhi Rudi secara perlahan. Tentu saja ini menjadi aneh. Sari mulai jujur dan meminta hubungan mereka harus diakhiri.

“Saya juga bersikap tidak wajar, misal manja berlebihan, menuntut, dan marah. Tapi anehnya Rudi malah tidak peduli dan masih terus sabar. Sampai akhirnya saya jenuh dan minta benar-benar putus,” jelas Sari dengan nada menyesal.

Setelah hubungan mereka usai, Sari mulai tenang dan berharap hidupnya akan berkecukupan dan bahagia bersama Anwar. Tapi dua bulan sebelum hari pernikahan, Anwar memutuskan hubungannya dengan Sari. Alasannya klise, biaya pernikahan tidak cukup.

Sari beranggapan, jika memang memiliki niat dari awal akan menikah, segala apapun cara pasti akan dilakukan agar pernikahan tetap berlangsung. Hal ini menyebabkan orangtua Sari marah dan kecewa kepada Sari. Jika saja dari awal Sari tidak menghabiskan waktu dengan kekasih yang salah dan tidak terburu-buru memilih pasangan hidup, pasti kisah cinta Sari tidak seperti ini.

“Waktu itu papa sudah stres dengan masalah saya, akhirnya terpaksa menggadai mobil di rumah untuk menutupi biaya, supaya pernikahan saya dengan Anwar tetap berlangsung. Pada saat pernikahan, ibu Rudi datang. Saat bersalaman, saya menangis dan meminta maaf. Tapi saya tahu, beliau datang dengan amarah dan benci melihat saya,” jelas Sari.

Setelah sebulan usai pernikahan, Anwar pergi pulang kampung tanpa mengajak Sari. Dari sinilah perang dingin terjadi. Tidak ada kabar dari Anwar maupun mertuanya. Ini membuat emosi orangtua Sari memuncak lagi.

“Saya dan Anwar sempat tidak ada kabar selama tiga minggu lebih. Saya pusing, marah, dan kecewa. Pada waktu itu Papa sempat nekat untuk menyusul ke Medan, tapi saya larang karena tidak mau masalah ini semakin besar,” tuturnya.

Harapan Sari kepada Anwar mulai hilang. Ia sudah menyerah dengan semua yang terjadi. Dia merasa takdir hidupnya sangat tidak beruntung. Ketika Sari ingin mundur, Anwar datang beserta orangtuanya di kediaman Sari.

Sari berharap, mereka akan meminta maaf dan mau membuka lembaran baru. “Saat Anwar datang ke rumah, saya sangat senang, rasa kecewa mulai hilang. Saya berharap Anwar tidak pergi lagi. Tapi saya salah, ibu mertua saya meminta Anwar menceraikan secara baik-baik, dengan alasan Anwar sudah dipilihkan jodoh satu suku dengannya. Itu juga menjadi alasan Anwar membatalkan pernikahan, bukan karena biaya tapi karena perempuan lain,” curhat Sari pilu.

Saat itu Sari beranggapan, Anwar begitu tega mempermainkan pernikahan. Anwar menikahi Sari hanya karena kasihan melihat Sari yang memohon minta dipinang. Tidak lama setelah kejadian itu, ibu Sari masuk RSUD Cilegon karena tidak tahan dengan cobaan yang datang bertubi-tubi kepada anaknya. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitu kata pepatah yang cocok untuk kehidupan Sari.

“Semuanya salah saya, saya akui itu. Saya terlalu lama membuang waktu dengan kekasih yang memang tidak bisa dipaksa, apalagi menyangkut perpindahan agama. Saya juga salah membiarkan dia terlalu mencintai saya dan saya berbohong kepada dia, yang terakhir kali saya sangat salah memilih lelaki hanya dari materi. Kini hubungan saya sudah usai bersama Anwar juga Rudi. Saya harap saya menemukan laki-laki yang mencintai saya tulus dari hati,” harap Sari. (Bita-Zetizen/Radar Banten)