Love Story: Kasih Minah Tak Sepanjang Galah

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Anak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Tuhan kepada umatnya, terlebih lagi bagi sang ibu. Karena semenjak mengandung hingga merawat, sang ibulah yang merasakan begitu susah payah dalam merawat semasa dalam kandungan hingga tumbuh dewasa. Tidak salah bila surga itu di bawah telapak kaki ibu dan rido ibu merupakan rido-Nya.

Perjuangan dan kesabaran menjadi ibu belum tuntas sepenuhnya bagi Minah (59), bukan nama sebenarnya, dalam merawat anak-anaknya. Minah yang merupakan single fighter harus menghidupi dan merawat sendiri keempat anaknya, yakni Sari (32), Sanah (28), Tono (26), dan Nani (24), bukan nama sebenarnya. Minah telah bercerai dengan Jono (63), bukan nama sebenarnya, sekira 20 tahun lalu karena Jono menghianati cintanya dengan memiliki istri simpanan. Mereka akhirnya berpisah.

Belum habis merasakan kepahitan hidup karena harus menanggung beban hidup anak seorang diri dengan bekerja keras dan banting tulang sebagai buruh tani padi dengan penghasilan tidak menentu, Minah kembali diterjang masalah. Pahitnya hidup kembali harus ditelan paksa oleh wanita rapuh ini akibat dari perilaku buruk Sari. Harta membuat Sari buta dan durhaka terhadap Minah. Hmmm mau jadi si Malin sepertinya Sari ini.

Begini ceritanya. Sari, merupakan putri pertama dari Minah ini pernah bekerja sebagai TKW di Arab. Selama delapan tahun menjadi TKW, Sari pun meraih buah hasil dari jerih payahnya menjadi asisten rumah tangga. Saat kepulangannya yang pertama menjadi TKW, penghasilan yang didapat Sari berikan kepada Minah untuk disimpan dan dibelikan kebutuhan hidup sehari-hari. Minah pun sangat bangga kepada Sari karena membantunya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Minah pun mulai tak lagi dihimpit kemelaratan.

“Saat itu saya terharu dan sedih, karena melihat putri saya harus bekerja keras mencari penghasilan untuk adik-adiknya, sampai menjadi TKW,” kata Minah dengan mata berkaca-kaca.

Namun semua berubah ketika Sari kembali pulang setelah empat tahun menjadi TKW untuk kedua kalinya. Roni (35), bukan nama sebenarnya, suami Sari menjadi biang keladi. Suatu hari Roni yang hidup dari penghasilan sang istri ternyata gemar berjudi. Alhasil, setiap uang kiriman dari Sari, seolah tak berbekas dan tidak ada hasil.

Semua habis. Namun karena cintanya kepada Roni, Sari pun memaklumi perilaku buruk suami yang ia tinggal selama 12 tahun menjadi TKW. “Saya bisa berbuat apa? Sudah saya nasihati kalau suaminya itu hanya memanfaatkannya saja dengan menghabiskan uang kiriman. Tapi mau gimana, dia tetap kukuh ingin bertahan dengan Roni,” terang Minah.

Lama-kelamaan, berjudi dan mabuk-mabukan tidak hanya menjadi kebiasaan tapi juga menjadi penyakit yang dipelihara Roni. Sari pun yang sudah terlanjur sayang pada Roni tidak peduli dengan perilaku buruk Roni dan tidak ingin bercerai. Akhirnya, untuk menuruti kebutuhan suaminya ini, Sari menguras habis semua uang simpanannya yang dipegang Minah. Namun perilaku buruk Roni telah membuat hati Sari gelisah dan hilang arah, sehingga Sari meminta uang yang ada pada ibunya dengan cara kasar.

“Sebagai ibu saya punya hak untuk mencegah, agar anak saya tidak bernasib buruk akibat perilaku suaminya. Tapi justru Sari lebih memilih suaminya yang nggak guna itu,” tuturnya.

Sari menjadi mudah terbawa emosi. Pertengkaran dan adu mulut antara ibu dan anak tidak bisa terelakkan. Minah sebagai ibu, tidak terima dengan sikap Sari yang sangat kasar, seolah-olah semua barang yang ada di dalam rumah Minah adalah hasil jerih payah Sari menjadi TKW. “Jelas saya tidak terima  dengan sikap Sari. Dia mencaci saya, seolah saya ini musuhnya,” katanya sambil kesal dan sedih.

Sikap kasar Sari membuat amarah Minah pecah. Tanpa pikir panjang Minah mengusir Sari dan mengeluarkan segala barang-barang yang dianggap hasil jerih payah saat menjadi TKW. Minah meminta Sari membawa barang-barang itu ke rumah suaminya. “Ibu mana yang tidak sakit hati karena diperlakukan kasar oleh anak yang dibesarkan dengan susah payah dan penuh perjuangan?” rintih Minah.

Sari yang memilih hidup dengan Roni ternyata harus menerima kenyataan pahit. Semenjak perkelahian hebat dengan ibunya itu, perilaku Roni semakin menjadi-jadi bahkan lebih buruk. Tidak hanya mabuk-mabukan, Roni juga berani main serong. Sementara harta Sari semakin hari semakin habis digerogoti. Untuk apa lagi selain berjudi. Ini membuat hidup Sari terpuruk. Tanah dan rumah yang ia tempati bersama suami hasil dari tabungan Sari selama menjadi TKW pun dijadikan sebagai taruhan sang suami. Dan kalah.

Dua tahun berlalu sejak pertengkaran hebat bersama sang ibu, Sari mengambil keputusan berat dan besar dalam hidupnya. Sari yang telah memiliki anak perempuan berusia enam bulan, sebut saja Ratna, akhirnya memutuskan kembali ke pangkuan sang ibu. Sari akhirnya memutuskan bercerai dengan Roni. Ia merasa sangat berdosa mendurhakai seseorang yang telah melahirkannya ke dunia dan lebih memilih lelaki bejat itu.

“Mau bagaimana lagi? Sebagai ibu, saya juga tidak tega melihat kondisi anak saya yang sangat buruk. Meski pahit dan kejadian masa lalu biarlah berlalu. Saya juga tidak tega melihat cucu saya hidup terlunta-lunta seperti itu,” tutur Minah.

Minah mengaku, proses perdamaian antara ibu dan anak ini berjalan sangat pelik. Namun sebagai ibu, Minah tetap menerima kembali Sari yang dulu sudah tidak dianggap anaknya lagi. Sakit hati yang dirasakan wanita tua itu, ia pupus habis-habis. Ibu mana yang tega melihat anak kandungnya menderita bukan? “Karena dia sudah meminta maaf dan sadar akan kesalahannya dulu, saya terima kedatangannya kembali ke rumah. Kami memulai kisah baru sebagai anak dan ibu,” kata Minah.

Untuk menebus kesalahan di masa lalu dan menghidupi anak satu-satunya itu, Sari memutuskan kembali bekerja sebagai TKW di Arab. Keputusannya ini diambil karena Sari tidak ingin memberatkan biaya hidup dengan bergantung pada sang ibu, Minah. Hingga saat ini, Sari masih menjadi TKW di Arab dan putri semata wayangnya diasuh Minah.

Kejadian pahit di masa lalu, membuat Sari banyak belajar. Ia pun kembali membangun hubungan baik antara ibu dan anak seolah tragedi itu tidak pernah terjadi. Komunikasi yang dijalin melalui telepon, kini rutin dilakukan Sari dan Minah dari jarak jauh.

Itulah kisah Sari dan Roni, yang menjadikan Ratna, anak satu-satunya mereka menjadi korban. Andai saja Roni tak senang berjudi, mungkin Ratna tidak akan ditinggal Sari ke Arab Saudi dan diasuh neneknya yang renta. Ratna, di bawah bimbingan neneknya, tumbuh menjadi anak lima tahun yang gemar bermain.

“Saya tidak merasa direpotkan dalam mengasuh cucuk saya. Karena ini pilihan hati saya, ingin bahagia hidup bersama anak dan cucu,” tukas Minah dengan besar hati. Luar biasa, seolah tak kenal lelah, Minah masih mau mengurusi sang cucu setelah belasan tahun direpotkan dengan membesarkan sang anak. (Wivy-Zetizen/Radar Banten)