Love Story: Kejamnya Mertua Gila Harta

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Luka yang mendalam yang harus dirasakan seorang ayah muda Panges (22), sebut saja begitu. Hari-harinya menjadi sepi karena dijauhkan dari anak dan istrinya oleh ibu mertuanya yang gila harta. Seperti kata banyak orang, kejamnya ibu mertua gila harta sama halnya dengan kejamnya ibu tiri yang digambarakan dalam dongeng klasik.

Semenjak pernikahannya setahun lalu, Panges memang tidak disetujui kedua orang tua istri. Sebut saja Meli (21), nama samaran. Ia wanita yang dicintai Panges selama bertahun-tahun. Pernikahan mereka berlangsung secara sederhana, hanya mengundang penghulu, saksi dan dihadiri teman-teman terdekat saja. Orangtua meli tidak mau hadir sama sekali karena tidak setuju dengan lelaki pillihan Meli.

Alasan pernikahan ini terjadi, sebab Meli sudah hamil di luar nikah. Sebab lain Panges hanyalah laki-laki biasa, bukan dari keluarga kaya raya. Panges juga hanya pekerja serabutan dengan penghasilan tidak jelas. Meski begitu, mereka tetap saja memaksa untuk menikah. Padahal keluarga Meli juga bukan orang kaya.

Setelah berjam-jam menunggu kehadiran orangtua Meli yang rencananya bertindak sebagai wali nikah mempelai perempuan, mereka memutuskan sesuatu. Ketidakhadiran orangtua Meli, akhirnya membuat paman Meli, sebut saja Iman (39) dijadikan walinikah. Itu pun setelah Iman merasa kasihan melihat keponakannya hampir tidak jadi menikah. Padahal sudah terlanjur hamil.

“Saya sudah berunding dengan ayah Meli, Junaedi (42) dan ibunya, Nariah (40), (bukan nama sebenarnya-red). Mereka tidak bisa hadir karena ibu Meli sakit dan ayahnya harus mengantarkan ke dokter. Jadi saya yang diutus kesini untuk mewakili ayahnya menjadi wali nikah”, tegas Iman, menceritakan alasan kepaad ia menjadi wali. Akhirnya pernikahan pun berhasil dilaksanakan.

Singkat cerita setelah si buah hati lahir, kejahatan orangtua Meli malah semakin menjadi-jadi. Seharusnya sebuah keluarga kecil tinggal satu atap, ini malah kebalikannya. Panges tidak diperbolehkan tinggal di rumah sang mertua. Panges hanya menurut karena dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa menjadi menantu yang baik. Padahal dalam hati, dia merasa kesal dan marah.

Mau tidak mau, Panges ke rumah mertuanya seminggu sekali. Itu pun hanya untuk menengok si buah hati dan istrinya.

Kekejaman sang ibu mertua tidak berhenti sampai di situ. Semakin hari malah semakin menyebalkan. Pernah suatu hari, ketika Panges libur dari pekerjaanya yang sekarang sebagai pegawai tetap di sebuah perusahan yang menyewakan kendaraan berat seperti buldoser dan beko, Panges bergegas ke rumah mertuanya. Sesampai depan rumah mertua, sang ibu mertua keluar dari balik pintu. Panges melemparkan senyum, tapi malah ibu mertuanya melemparkan muka ketus. Kalimat pedas menyayat hati pun diterima Panges.

“Sakit hati saya, Kang. Ibu mertua saya bilang, saya tidak usah datang ke rumah itu lagi dan menengok istri dan anak saya,” curhat Panges.

Panges menuturkan, bahkan sang mertua bilang, ia tidak boleh bertemu buah hatinya, Nadin (3 bulan), nama samaran, kalau belum membawa uang sekoper besar. “Memangnya saya koruptor suruh bawa uang segitu banyak. Ibu mertua juga bilang, apalagi kalau seumpamanya saya mau membawa istri dan anak saya. Saya juga disuruh buang jauh-jauh pikiran seperti itu sebab ibu mertua tidak akan membolehkan. Saya dibilang hidup sendiri sudah susah, apalagi mau mengajak istri dan anak saya. Bakal melarat katanya,” Panges mengungkapkan kegundahannya.

Saat itu, kata Panges, ia hanya bisa menunduk. Padahal hatinya diselimuti amarah. Kesal, marah, sedih, bergolak dalam dadanya. Bercampur aduk. Saat itu Panges hanya menghampiri sang ibu mertua dan mengatakan sesuatu.

“Saat itu saya cuma bilang, Mah, kalau itu kemauan Mamah, ya udah nggak apa-apa. Kalau istri dan anak saya nggak boleh tinggal satu rumah dengan saya, saya terima tapi jangan larang saya menemui anak dan istri saya. Saya juga kesini bawa uang walaupun nggak banyak tapi lumayan buat beli susu dan popok Nadin,” cerita Panges lagi.

Ibu mertuanya saat itu hanya terdiam dan tidak mengatakan sepatah kata apapun lagi. Panges langsung masuk ke dalam rumah mertuanya untuk menemui istri dan anaknya. Meli yang sedang menggendong anaknya langsung menghampiri suaminya dan mencium tangannya.

“Saat itu, istri saya tanya, Mamah bilang apa ke Aa? Tapi saya jawab nggak bilang apa-apa. Itu supaya istri saya nggak kepikiran,” kata Panges.

Panges pun mengambil anak dari pelukan istrinya dan menggendongnya. Saat itulah Panges berjanji, bakal menafkahi dan mengajak anak istrinya pergi dari rumah mertuanya dan tinggal satu atap seperti keluarga kecil lainnya.

Hanya sampai sore hari Panges menemui kedua orang yang dicintainya itu. Ia pun pamit kepada istri dan anaknya untuk bergegas kembali ke kontrakan yang berada tak jauh dari tempat kerjanya. Alasannya jelas, Panges tidak betah di rumah sang mertua. Berlama-lama di sana, sama saja menunggu segerombolan kalimat pedas dan menyakitkan bakal terlontar lagi.

Saat ini, lelaki yang tinggal di Kota Serang ini hanya bisa berdoa dan berusaha. Berdoa kepada Tuhan agar usaha yang ia jalani saat ini membuahkan hasil. Sehingga dapat membungkam mulut pedas sang mertua yang telah memperlakukan semena-mena hanya karena ia tidak memiliki banyak harta.  (Arul-Zetizen/Radar Banten)