Love Story: Keluar Kandang Singa Jatuh ke Lubang Buaya

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Kenyataan hidup yang pahit terpaksa harus dijalani Sari (24), bukan nama sebenarnya, seorang diri. Setelah menjadi korban pemerkosaan, ia juga harus menjalani hidup dengan menyembunyikan identitas sebagai seorang ibu dari kelurganya. Ibarat kata, Sari ini mengalami pepatah keluar dari kandang singa jatuh ke lubang buaya.

Begini ceritanya. Suatu ketika, saat Sari sedang mengendarai sepeda motor miliknya usai mengantarkan temannya pulang, ia dihadang dan dijatuhkan sekelompok pemuda hingga jatuh terpental. Beruntungnya, sepeda motor yang ia kendarai tidak jadi dirampas sekelompok pemuda karena ada mobil yang akan melaju ke arah ia ditodong.

“Saat itu memang kondisi jalannya sepi. Meski pun luka-luka, saya masih cukup beruntung masih bisa selamat dari penodong itu. Karena saat itu ada mobil dan motor yang lewat dan saya pun ditolong salah seorang pengendara motor,” kata Sari

Kejadian itu menjadi awal pertemuannya dengan lelaki yang kemudian merampas keperawanannya. Sebut saja lelaki itu Jaja (25), bukan nama sebenarnya. Jaja datang menjadi superhero bagi Sari karena mau menolong dan mengantarkan Sari ke tempat kosnya. Komunikasi keduanya berlanjut, tepatnya setelah Sari meminta tolong Jaja untuk mengantarkannya ke rumah temannya untuk merawat lukanya.

“Waktu itu, saya memang sangat butuh teman untuk mengantarkan saya ke tempat teman saya. Saya kesana untuk ikut istirahat sementara dan mengobati luka. Eh nggak disangka dari situ Jaja pun mulai intens menghubungi saya,” terangnya.

Yups, meski awalnya tidak ingin meladeni, namun karena Sari merasa berhutang budi pada Jaja terpaksa ia pun tetap meladeni setiap Jaja menghubunginya. Satu bulan pun berlalu, Sari merasa aneh dengan perilaku Jaja yang semakin terlihat menyukai dirinya.

“Ya karena saya merasa berhutang budi pada Jaja, saya tidak keberatan kalau dia mau mampir ke tempat kos saya untuk sekedar beristirahat,” tuturnya.

Saat itu Sari masih berstatus sebagai mahasiswi di salah satu universitas di Banten. Namun nyatanya, niat baik Sari mempersilakan Jaja untuk sekadar beristirahat ternyata dimanfaatkan Jaja untuk melancarkan perilaku jahanamnya. Jaja yang beralasan tidak enak badan ketika beristirahat di kamar kos Sari, selalu beralasan dan pura-pura ketiduran. Meski Sari sudah mengusir Jaja untuk segera pulang mengingat waktu sudah malam, namun Jaja pun tetap beralasan masih tidak enak badan.

“Karena lama menunggu Jaja pulang, saya tertidur di kamar teman saya yang lagi kosong. Dan malam itu, menjadi malam terburuk saya karena menjadi korban dari kebejatan napsu lelaki tidak tahu diri,” katanya dengan kesedihan mendalam.

Mau tidak mau, malam itu keperawanan Sari harus dirampas Jaja. Ia pun menyesal karena berbaik sangka pada orang yang ternyata merusak masa depannya. Lima bulan kemudian setelah kejadian nahas dialami Sari, ia berlibur bersama keluarga. “Saat itu saya nggak tahu kalau sudah hamil selama empat bulan. Pas lagi liburan dengan keluarga, saya merasa mual dan tidak enak badan kemudian saya diantar ke rumah sakit dan setelah diperiksa ternyata saya hamil,” tuturnya.

Orangtua yang mengantarnya pun kaget dan tidak menyangka anak bungsunya ternyata sudah hamil di luar nikah. Namun Sari meyakinkan orangtuanya tidak percaya dahulu bahwa ia telah hamil. “Karena sebelumnya saya sudah berobat sendiri dan katanya turun bero bukan hamil. Ya saya pun ikut kaget, karena memang saya merasa baik-baik saja,” akunya.

Namun dengan hasil pemeriksaan dan USG, orangtua Sari pun mengancam jika ia benar-benar hamil, maka akan diasingkan di desa terpencil. Hal ini dilakukan agar apa yang dialami tidak menjadi aib bagi keluarga terpandang di salah satu daerah di Banten.

“Saya langsung takut dan waswas. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan mengungsi ke tempat lain hingga melahirkan,” tuturnya.

Tiga bulan setelah melahirkan, Sari pun mencoba kembali pulang ke rumah orangtuanya untuk meminta bekal. Saat orangtuanya menanyakan dirinya yang menghilang tanpa kabar, Sari pun menjawab dengan seribu alasan. “Kalau saya mengaku telah melahirkan bayi, saya pasti akan diasingkan dan bayi saya entah dikemanakan,” katanya.

Meski bayi yang dilahirkan bukan dari hasil pernikahan sah, sebagai ibu yang melahirkan Sari tidak rela jika dijauhkan dengan buah hatinya. Hingga saat ini, keberadaan buah hatinya belum diketahui oleh orangtua Sari. Meski awalnya tidak mencintai Jaja, lama-kelamaan akhirnya ia pun harus menerima kehadiran Jaja sebagai ayah dari buah hatinya.

Kini, Sari harus menjalani hidup satu atap dengan Jaja meski belum ada tali pernikahan yang sah. Selain status Sari yang masih menjadi mahasiswi tingkat akhir, juga karena Jaja yang berprofesi sebagai buruh pabrik belum memiliki bekal yang cukup untuk membawa Sari ke dalam pernikahan yang sah.

Sari pun harus menerima kenyataan hidup yang sangat pelik. Kini hubungannya dengan orangtua pun semakin memburuk karena Sari yang menolak untuk dijodohkan dengan pilihan keluarga dan memilih hidup apa adanya dengan status yang tidak jelas. (Wivy-Zetizen/Radar Banten)