Love Story: Kembali Utuh karena Pintu Maaf

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Dida (40) dan Zaenal (43), keduanya nama samaran, adalah salah satu pasangan yang berhasil mengembalikan keutuhan rumah tangga. Hanya saja proses rujuk mereka membutuhkan waktu belasan tahun, mereka sempat menjalani kehidupan masing-masing. Bagi Dida, ada hikmah di balik kembalinya rumah tangga mereka. Yakni perpecahan rumah tangga bisa diakhiri jika kedua belah pihak mau membuka pintu maaf.

Pintu maaf memang mudah untuk diucapkan, namun untuk memahami kalimat memaafkan membutuhkan waktu cukup lama. Menurut Dida, pentingnya punya rasa saling memaafkan baru ia sadari setelah melalui perjalanan panjang. “Saya harus melalui rasa sepi, sendiri, kesusahan, pahit manis hidup. Barulah saya sadar betapa pentingnya memiliki kemampuan untuk memaafkan kesalahan pasangan hidup,” katanya.

Ia merasa perceraian yang ia alami adalah cara Allah mengajarkan pentingnya membukan pintu maaf untuk suami. Sebab pasca kembali utuhnya rumah tangga Dida dan Zaenal, kehidupan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya. “Keluarga kami benar-benar terasa hidup. Semua persoalan yang ada dapat terselesaikan dengan baik. Kami jadi saling pengertian, saya lebih mengalah, begitu juga suami. Anak-anak pun terlihat senang,” katanya.

Dida bercerita, perceraiannya dengan Zaenal terjadi pada 1994. Ini ketika Dida hamil anak pertama. “Usia saya masih 18 tahun, lulus SMA saya langsung menikah dengan Mas Zaenal. Tidak lama setelah menikah, saya hamil. Kehamilan pertama saya jadi masalah pelik buat kami,” katanya.

Sebagai pasangan muda, Zaenal dan Dida belum bisa saling menahan diri. Ego dan darah muda masih tinggi, sehingga mereka sulit untuk saling mengalah. Sementara ada kecenderungan khusus jika perempuan sedang mengandung. Seperti Dida saat itu, ia cenderung jadi pemarah dan mudah naik pitam. “Waktu itu bawaan hamil, saya inginnya marah melulu. Enggak bisa tolelir kalau suami lelet, apalagi saya kan emang cerewet orangnya,” ujar Dida.

Selama kehamilan itu, pertengkaran demi pertengkaran terjadi. Akibatnya, Zaenal mulai merasa tidak nyaman, apalagi ia tinggal di rumah mertuanya. Harga dirinya semakin terusik, hingga akhirnya Zaenal menuduh Dida berselingkuh. Bahkan keluar pernyataan jika Zaenal meragukan tentang anak dalam kandungan Dida adalah anak darinya.

“Ada laki-laki, dia itu tetangga. Saya memang akrab dengan dia, sementara dengan Mas Zaenal terus menerus bertengkar. Eh saya dituding selingkuh dengan tetangga, bahkan anak dalam kandungan saya katanya anak tetangga itu. Kan saya jadi marah,” tuturnya.

Dida marah bukan kepalang, orangtua Dida pun jadi ikut-ikutan marah. Ini mendorong Dida mengusir Zaenal serta membawa persoalan ini ke Pengadilan Agama. Dida menggugat cerai Zaenal, mereka pun kemudian bercerai. Usia pernikahan mereka baru menginjak delapan bulan. “Satu bulan sebelum lahiran, saya ceraikan Zaenal,” ujarnya.

Awalnya Dida mengira jalan hidupnya tidak akan terlalu berat, meskipun ia melahirkan tanpa didampingi suami. Bagi Dida, cukup dengan kehadiran kedua orangtua dia akan mampu bertahan. Sayangnya ini di luar perkiraan Dida, satu tahun setelah kelahiran si jabang bayi, ibu kandung Dida meninggal dunia. Sementara itu sang ayah mendapatkan pendamping lagi setelah enam bulan kematian sang ibu.

“Semuanya begitu cepat. Saya kehilangan ibu, kemudian ayah karena menikah lagi. Lalu saya ditinggal sendiri bersama anak semata wayang. Ini membuat saya sangat sedih,” ujarnya.

Entah kenapa, Dida pun kesulitan untuk mendapatkan suami lagi. Ini membuat Dida harus berjuang keras untuk bisa mencari nafkah. Untungnya perjuangan Dida berbuah hasil. Ia berhasil membuka warung kelontongan, bisnis ini ia jalani hingga sekarang. “Saya kan kerja. Gaji saya tabung untuk buka usaha. Hasilnya ya punya bisnis, dari kecil-kecilan sampai besar seperti sekarang,” tuturnya.

Di sela-sela kesuksesannya, Dida semakin merasakan kesepian dan hampa. Lalu Dida mendalami agama, salah satunya ikut kegiatan pengajian. Di sanalah ia mendapatkan banyak ilmu tentang hidup. Salah satunya ilmu memaafkan orang lain. “Di sana saya belajar untuk bisa memaafkan, hati saya sedikit demi sedikit mulai tenang,” tuturnya.

Lalu pada 2013, secara tidak sengaja Dida bertemu kembali dengan Zaenal. Saat itu Zaenal baru bercerai dengan istri keduanya. Bertemu dengan Zaenal setelah belasan tahun berpisah, langsung dimanfaatkan Dida untuk melayangkan permohonan maaf. Ia mengaku menyesal karena telah mengecewakan Zaenal di bulan-bulan pertama pernikahan mereka.

“Waktu itu saya berpikir, takut tidak ketemu dengan Mas Zaenal lagi, makanya saya buru-buru minta maaf. Itu kan unek-unek saya selama bertahun-tahun. Jadi saya ungkapkan,” katanya.

Permintaan maaf Dida membuat Zaenal terenyuh. Mereka kembali berhubungan, bahkan berpacaran dan menikah untuk kedua kalinya. “Pernikahan kedua kami benar-benar beda. Rasanya seperti menikah dengan pria yang menjadi cinta pertama saya. Seperti mimpi saja,” katanya.

Pintu maaf Dida dan Zaenal kala itu bukan hanya ucapan dari mulut. Namun jiwa raga mereka benar-benar saling memaafkan. Inilah yang membuat rumah tangga mereka menjadi lebih harmonis dan bahagia. Inilah hikmah perpisahan Dida dan Zaenal, mendapatkan ilmu memaafkan. (Sigit/Radar Banten)