Love Story: Khianati Istri, Balasannya dari Selingkuhan

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

ISTILAH makin tua makin menjadi, pantas disematkan pada sosok Sukirman (58), bukan nama sebenarnya. Meski usianya sudah memasuki masa tua, kulit mulai kendur, rambutnya sudah berubah putih alias dipenuhi uban, tak menyurutkan bapak satu anak itu untuk merasakan puber kedua layaknya anak muda. Benar enggak ya puber kedua? Soal itu, hanya Pak Sukirman yang tahu!

“Iya, saya pernah melakukan kesalahan, mengkhianati istri. Tapi, alhamdulillah punya istri baik dan sabar makanya mau rujuk lagi,” akunya. Dasar.

Sukirman belum lama ini pensiun sebagai pegawai negeri di salah satu instansi pemerintahan. Bukannya menikmati hari tua bersama istri, sebut saja Oneng, Sukirman malah kepincut wanita lain seusianya atau sama-sama tua, sebut saja Nunung. Sampai akhirnya, terjadi cinta terlarang antara kakek dan nenek itu. Padahal, Nunung sudah memiliki suami dan empat anak. Alamak. Namun, Sukirman yang tak tahan dengan pesona Nunung, nekat untuk menjalankan peran jadi selingkuhan.

Bagaimana ceritanya sehingga mereka bisa kenal satu sama lain. Begini? Awalnya, rumah tangga Sukirman dan Oneng baik-baik saja, bahkan terbilang bahagia. Meski selama berumah tangga tidak dikaruniai anak kandung sehingga terpaksa mengadopsi anak, tak melunturkan Sukirman untuk menjaga bahtera rumah tangga yang sudah 30 tahun mereka pertahankan. Malah, dalam kehidupan Sukirman dan istrinya selalu dihinggapi hal-hal berbau romantis. Kisah kasih mereka dipenuhi rasa cinta sebagai pasangan suami istri meski hidup dalam kesederhanaan.

“Jujur, saya enggak pernah jatuh cinta lagi setelah bertemu istri. Saya termasuk orang setia. Buktinya, istri sudah divonis enggak bakalan punya anak, saya tetap setia mendampingi Oneng,” terangnya bangga.

Awal mula petaka hadir ketika Sukirman memanfaatkan dana pensiunnya untuk memulai usaha. Ia bekerja sama dengan rekannya membuka usaha mebeler di luar kota, tepatnya di Jakarta. Namun, tempat tinggal Sukirman tetap di Serang bersama sang istri. Untuk mengontrol usahanya, Sukirman rela pulang pergi Serang-Jakarta. Usaha Sukirman yang dijalankan bersama rekannya pun berjalan mulus. Seiring kemajuan usaha, membuat pria uzur berkaca mata itu semakin sibuk. Tentunya, kesibukannya itu berdampak pada kehidupan rumah tangganya. Terutama, waktu Sukirman untuk keluarga yang selalu tersita lantaran banyak beraktivitas di luar. Selain membuatnya jarang bertemu istri, komunikasi pun mulai renggang.

Ada istilah, lelaki itu semakin kaya semakin nakal. Sama halnya dengan Sukirman. Merasa bisa memenuhi semua kebutuhan dari hasil keuntungannya membuka usaha, Sukirman mulai berulah. Diawali pertemuannya dengan salah satu pelanggan mebeler yang ia jual, yang tak lain adalah Nunung. Kebetulan Nunung saat itu datang ke tempat usaha Sukirman sendirian tanpa didampingi anak dan suami. Ceritanya, pada saat Nunung yang tubuhnya agak sintal itu ingin membeli barang, diajak berbincang-bincang oleh Sukirman yang sudah kepincut sejak pandangan pertama.

Sukirman tidak melihat usia Nunung yang memang sama-sama sudah tua, melainkan sikap Nunung yang humoris dan menyenangkan, selain memiliki paras rupawan yang membuatnya ingin mengenal Nunung lebih jauh. “Nunung itu orangnya asyik, enggak kaku kayak istri saya,” terangnya, tuh kan, ada barang baru saja, barang lama disingkirkan. “Bukan begitu. Kenyatannya begitu kok. Istri saya memang baik tapi orangnya kaku. Terus, Nunung saya ajak bercanda, eh dia respons balik,” akunya. Widih, tanda-tanda tuh.

Singkat cerita, semakin lama mereka semakin akrab sampai keduanya saling bertukar nomor ponsel. Kesan pertama, Sukirman mengaku, sampai menggratiskan lemari ke Nunung sebagai tanda perkenalan. Et dah, nanti apa lagi yang mau dikasih. Sama halnya anak muda yang sedang kasmaran, Sukirman mulai menjalin komunikasi dengan Nunung. Selama curhat-curhatan, baik Sukirman maupun Nunung saling mengungkap kekurangan pasangan masing-masing. Maksudnya, untuk menarik simpatik dan empati satu sama lain agar hubungan mereka berlanjut, tidak sekadar berteman.

Menyadari sudah ada magnet tersendiri, Sukirman akhirnya terang-terangan kalau dia benar-benar jatuh cinta kepada Nunung. Cinta Sukirman memang tidak bertepuk sebelah tangan, tapi sampai setahun lamanya mereka menjalin kedekatan, kata-kata cinta seperti yang diungkapkan Sukirman tidak pernah terucap dari mulut Nunung.

Walau begitu, Sukirman menganggap Nunung menjadi selingkuhannya. Terbukti, ketika Nunung diajak janjian untuk hang out bareng tak pernah menolak. Baik itu untuk sekadar makan atau jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. “Kita juga sering menonton bareng malah,” ungkapnya. Yaelah, sudah kakek nenek mau menonton apaan Pak? Wayang golek, ludruk, apa kebakaran?

Merasa sudah sreg, Sukirman sampai nekat datang ke rumah Nunung untuk lebih mengenal keluarganya. Uniknya, kehadiran Sukirman diterima di tengah-tengah keluarga Nunung. Bahkan, suami dan anak-anak Nunung yang sudah pada berkeluarga dan dewasa memang orangnya welcome. Maklum, Nunung kan ngakunya Sukirman itu rekan bisnis barunya yang bisa membantu meningkatkan usaha Nunung berjualan kosmetik. Semakin akrabnya Sukirman dengan Nunung, membuatnya semakin melupakan istri. Sejak itu, Sukirman semakin sering membohongi Oneng, sang istri, dengan alasan sibuk mengurus usahanya.

Beruntung, Sukirman memiliki istri sebaik Oneng yang tak pernah sedikit pun merasa curiga. Padahal, sepeninggalan Sukirman ke Jakarta, sudah beberapa bulan tak pernah diberikan nafkah. “Alasan saya biasa, usaha lagi pasang surut. Jadi, masih gali lubang tutup lubang,” dalihnya. Padahal?

“Padahal lagi maju-majunya. Cuma waktu itu, jujur Kang, saya lagi benar-benar jatuh cinta sama Nunung. Jadi, dia mau apa-apa saya belikan. Apalagi, orangnya juga banyak maunya. Mulai dari tas mahal, kalung emas, cincin, pakaian, kosmetik, pokoknya segala macam, capek deh,” keluhnya. Lantas? “Ya, dari situ awal mula perusahaan saya gulung tikar. Wanita memang racun dunia,” sesalnya. Iya, bapak keongnya, jadi keong racun.

Seiring berjalan, enam bulan sudah mereka menjalin hubungan terlarang, saking banyaknya yang dikorbankan Sukirman untuk memenuhi kebutuhan Nunung yang ternyata tak lebih dari sekadar wanita matrealistis, usaha Sukirman pun mulai mengalami kebangkrutan. Situasi itu pun sampai terdengar ke telinga Oneng yang mendapat kabar dari rekan Sukirman yang merasa dirugikan. Hal itu dipicu keuntungan hingga modal dihabiskan Sukirman hanya karena kasmaran dengan seorang wanita, sudah tua pula.

“Ya wajar sih, meskipun sudah tua, wajah Nunung masih kencang, putih bersih, terawat. Kalau lagi jalan, pasti jadi pusat perhatian, sayanya yang ketilep,” jelasnya. Maksudnya ketilep? “Iya, kalau saya lagi jalan sama Nunung, orang berpandangan kayak beauty and the beast,” tukasnya. Enggak lah, bapak juga lumayan, jeleknya. Hehehe.

Menyadari apa yang diperbuatnya sebuah kesalahan besar. Di saat usahanya terpuruk, Sukirman justru mulai ditinggalkan Nunung yang sudah merasa tidak membutuhkannya lagi karena sudah tidak ada yang diharapkan. Dari situ, Sukirman menutup usahanya, menjual barang yang tersisa dan kembali menjalani hidup sederhana. Di saat keterpurukan itu lah hanya Oneng yang tetap menerima Sukirman apa adanya serta mau dan ikhlas memaafkan semua kesalahan yang telah diakui Sukirman selama di Jakarta sampai mengorbankan usahanya yang ia bangun dari modal pensiunan. “Gara-gara berkhianat sama Istri, dibalasnya sama selingkuhan. Sekarang saya sadar, ternyata tidak ada wanita yang lebih baik daripada istri,” tegasnya. Syukur deh sadar. (Nizar S/Radar Banten)