Love Story: Komitmen Salah, Tanpa Komitmen Makin Parah

0
625 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

SEBUAH pernikahan tak cukup sekadar mengandalkan saling percaya. Karena dengan begitu, baik suami maupun istri, jadinya seperti memiliki kehidupan masing-masing sehingga membuat mereka serasa jauh, lantaran semakin jarang berkomunikasi.

Hidup akur dalam satu atap dan dikaruniai anak pun, disadari tak menjamin mendatangkan kebahagiaan terhadap rumah tangga. Seperti yang dirasakan Nani (28) nama samaran. Kehidupan rumah tangga Nani pun demikian. Sang suami, sebut saja Romli (30), sama sekali tak pernah menggubris atau sekadar mengeluhkan perilaku Nani sehari-hari di rumah. Padahal, Nani sudah berlaga sok wanita sosialita, yakni gemar belanja online dan shopping di mal, fitnes, serta menongkrong dengan teman kerja di kafe dan restoran.

Nani juga mulai ketergantungan dengan ponsel dan gampang terpengaruh media sosial. Namun, semua perilaku Nani yang sebetulnya tak pantas ditiru itu, tak menggoyahkan Romli, sang suami untuk melarang atau sekadar mengingatkan. Padahal, pasangan yang bekerja di pemerintahan Serang itu juga sadar kalau menjadi orangtua yang sibuk dengan masing-masing urusannya, bisa berdampak negatif terhadap anak mereka. Romli yang lebih memikirkan kesenangan sendiri, malah bersikap tak peduli. Hal itu pun, kini mulai dikeluhkan Nani.

“Jujur, aku sekarang mulai merasa enggak nyaman hidup kayak gini (seolah masing-masing dengan suami-red). Bebas sih iya, tapi takut dampaknya ke anak,” keluh Nani. Nah, tuh sadar juga.

Nani mulai merasa ada yang janggal dengan perilaku dirinya maupun sang suami. Diawali komitmen keduanya setelah menikah, di mana satu sama lain ingin punya kebebasan setelah berumah tangga, yakni tidak boleh mengganggu privasi masing-masing. Akibat komitmen yang dibangun itu, malah lama-lama membuat rumah tangga mereka menjadi tidak harmonis lagi. Baik Nani maupun Romli jadi jarang berkomunikasi, baik di rumah maupun sekadar saling mengingatkan melalui ponsel. Masing-masing lebih memilih berkomunikasi dengan orang lain.

Seperti Nani yang lebih terlihat asyik sendiri, berkomunikasi dengan rekan kerja, tetangga, maupun kerabatnya dibanding suami di rumah. Begitu pula dengan Romli yang lebih mementingkan urusannya sendiri, baik urusan kerja maupun hobinya yang gemar main futsal dan memancing.

“Iya, sekarang bawaannya risi. Suami ke anak jadi kurang perhatian. Apalagi ke istri. Aku takutnya ada apa-apa di luar,” curiganya. Tuh kan wanita! Dibebasin salah, dikekang apalagi!.

Kecurigaan Nani terhadap suami beralasan. Soalnya, Romli sejak lahir anak mereka yang kedua, sudah jarang menyentuh Nani. Paling yang sudah dijadikan agenda rutin saja sejak menikah, seolah sudah menjadi kewajiban. Yakni, prosesi belah duren setiap malam Jumat. Selain hari itu, Romli jarang meminta duluan, meski ketika diajak Nani tak pernah menolak, selalu oke-oke saja.

“Sikap Kang Romli itu bikin bingung. Misalkan, aku asyik main HP di rumah, Kang Romli seolah enggak peduli, cuek saja. Aku diam, dia malah lebih diam,” ungkapnya. Teteh sendiri main-main enggak di luar? “Sumpah Kang, aku setia kok orangnya. Yang goda sih lewat SMS, WA, dan BBM banyak. Ya, aku godain lagi aja,” akunya. Yaelah, itu sih sama saja.

Sebaliknya, Romli juga demikian. Di depan Nani, kadang Romli main ponsel sambil cengengesan. Bedanya, ketika Romli bersikap aneh, Nani pasti menanyakan. Beda dengan Romli, ketika Nani yang bersikap di luar kebiasaan, tak ada respons sama sekali dari Romli. Lantaran itu, Nani kerap dihantui rasa curiga melihat tingkah Romli.

Setiap ditanyakan ‘Kamu ngobrol sama siapa sih, sampai kegirangan gitu?’ jawabnya pasti dari teman. Namun, Nani tak bisa berbuat apa-apa karena tak ingin mengganggu privasi suami sesuai komitmen yang dibangun sejak awal. Memerhatikan sikap Romli yang semakin hari semakin aneh, akhirnya Nani gerah juga.

Wanita berparas manis itu pun, mulai meminta suaminya untuk membuat kesepakatan baru. Yakni, agar mereka saling jujur satu sama lain soal kegiatan maupun dengan siapa saja mereka berhubungan. “Aku ajak begitu, Kang Romli juga oke-oke saja. Jadinya makin bingung. Makanya, jarak seminggu aku minta kesepakatan dikembalikan ke semula,” ujarnya. Jangan-jangan Teteh kali yang main-main, takut ketahuan ya! Hehehe, bercanda Teh.

Nani bukannya takut ketahuan Romli, hanya khawatir kalau suaminya kelak ikut campur segala urusan pribadinya, akan membuat Nani terkekang. Padahal, mau kesepakatan yang dibangun dari awal maupun kesepakatan baru, sikap Romli tidak berubah. Romli tak pernah sama sekali menyinggung privasi Nani. Hanya saja, Nani mengeluhkan suaminya yang memang tipikal pendiam itu, yang jarang berkomunikasi dengan anak-anaknya. Berbeda dengan Nani, yang lebih banyak menyempatkan waktu berdiskusi dengan anak di rumah, walaupun hanya sekejap.

“Suami maunya ditanya aja. Kalau ditanya sama anak tuh, baru jawab, itu juga seadanya. Selebihnya, dia asyik sama urusannya sendiri. Apalagi, kalau sudah jadwal mancing sama teman-temannya, bisa lupa daratan,” keluhnya.

Meski demikian, Nani sudah tidak pernah lagi memprotes atau mengganggu apa yang menjadi kesenangan suami. Justru Nani kini sadar dengan jati dirinya sebagai seorang istri. Meski sama-sama berkarier, Nani sadar bahwa ia tidak boleh melupakan kodratnya sebagai perempuan yang sudah berumah tangga.

“Sekarang, suami mau apa juga, selama tidak menyimpang, aku biarin aja. Yang penting, dia (Romli-red) masih pulang ke rumah dan tidak ada desas-desus main-main perempuan di luar,” tegasnya.

Bagus dong kalau berpikiran positif terhadap suami, lumayanlah obat batin. “Sekarang urusan suami ya suami, urusan aku juga ya gimana aku. Yang penting, rumah tangga tetap utuh walaupun sudah enggak harmonis lagi,” pungkasnya. Ya salam. (Nizar S/Radar Banten)