Love Story: Komunikasi Jadi Kunci Romantisme

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Jumlah angka perceraian setiap tahunnya tidak pernah menurun. Ironisnya, hal ini terjadi di semua daerah. Lalu apa yang salah dengan kondisi rumah tangga masyarakat Banten? Padahal ketika menikah, mereka setuju berkomitmen untuk saling menjaga keutuhan rumah tangga masing-masing.

Cindy (37), nama samaran, menilai jika keretakan rumah tangga biasanya terjadi karena adanya rasa ego yang berlebihan. Wanita yang bekerja pada sebuah lembaga konsultasi pernikahan ini, mengatakan, rasa ego adalah manusiawi.

“Ego itu ada di setiap orang, mau itu laki-laki atau wanita. Persoalannya, kalau keduanya sudah tidak bisa kontrol ego itu, maka kerenggangan antarpasangan rentan terjadi. Tidak hanya pada pasangan suami istri, tapi orang pacaran pun akan terjadi,” katanya.

Menurut Cindy, wanita pada umumnya lebih mengutamakan sisi perasaan daripada logika. Seorang wanita akan lebih sentisitif dan ingin selalu diperhatikan terhadap apa yang menjadi keinginan, perasaan, dan suasana hatinya. “Jadi, wanita itu merasa jika kodratnya yang mewajibkan laki-laki memperhatikan dia lebih. Kalau memperhatikan biasa-biasa saja, itu tidak akan jauh dari teman biasa,” katanya.

Namun kelemahan wanita, tidak menyadari jika kaum lelaki pun membutuhkan hal yang sama. Yakni mendapatkan perhatian dari pasangannya. “Inginnya diperhatikan terus, sementara memperhatikan enggan. Nah, wanita seperti ini kurang dewasa karena menganggap take and give itu tidak penting,” ujarnya.

Sementara itu, kaum lelaki memiliki kelemahan dalam hal kontrol emosi. Lelaki cenderung sulit menahan kesabaran atau mengontrol emosi dalam mengikuti pola pikir istri. “Makanya lelaki itu mudah meledak-ledak, karena tidak bisa kontrol emosi,” jelasnya.

Secara garis besar, lanjut Cindy, kelemahan pada wanita dan lelaki dapat diantisipasi dengan komunikasi yang baik. Pola komunikasi yang tepat, menurut Cindy, lebih efektif menjaga keharmonisan suami dan istri. “Setiap keluarga memiliki karakter masing-masing. Ada yang kaku, santai, bahkan gaul baragajul. Nah, setiap pasangan harus mencari pola komunikasi mereka masing-masing,” katanya.

Bukan hal yang salah, kata Cindy, jika semua tipe pasangan menyelipkan pola komunikasi santai. Terlebih, pihak laki-laki sesekali gombal terhadap istrinya. “Semua wanita senang digombalin, mau itu yang kaku atau gaul. Sesekali gombal itu bagus juga, bisa memicu suasana romantis dan santai,” ujarnya.

Peran suami memang penting dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Apalagi jika suami sejak awal pernikahan menetapkan pola berkomunikasi dengan istrinya. “Komitmen rumah tangga harus dipimpin oleh suami. Itu penting untuk menentukan aturan main selama berumah tangga. Entah itu cara berkomunikasi maupun bersikap,” terangnya.

Banyak kasus rumah tangga pada lembaganya yang dimulai dari pola komunikasi yang salah. Biasanya, salah satu pasangan tiba-tiba mengurangi intensitas komunikasinya. “Karena ada yang disembunyikan, si pasangan cenderung menutup diri. Secara tidak disadari, intensitas komunikasi berkurang. Jelas lawan pasangan akan curiga dan marah,” ujarnya.

Biasanya, saran pertama yang dia berikan kepada pasien adalah memperbaiki komunikasi di antara mereka. Jika memang itu sulit dilakukan, barulah pihak lembaga menempatkan diri sebagai penengah alias mediator. “Jika tidak ada komunikasi sama sekali, memang diperlukan pihak ketiga untuk menjadi jembatan mereka dalam komunikasi. Selebihnya, mereka kami dorong untuk saling mendengarkan dan memahami satu sama lain,” katanya.

Karena itulah, komunikasi adalah hal terpenting yang harus dijaga oleh pasangan suami istri. Jika memang masing-masing pasangan memiliki kesibukan yang padat, tentu bisa diakali dengan teknologi komunikasi yang ada.

“Menurut saya sih, sudah tidak ada alasan lagi bagi pasangan suami istri kesulitan menjalin komunikasi. Pesawat telepon ada, bahkan teknologi komunikasi semakin canggih. Karena itu manfaatkan semua fasilitas yang ada untuk menjamin terjalinnya komunikasi,” jelasnya. (Sigit/Radar Banten)