Love Story: Lebih Mendekatkan Diri kepada Allah

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Hidup tanpa pendamping bukanlah hal mudah, apalagi bagi seorang wanita yang pernah berkeluarga. Selain merasa kehilangan dan sedih, secara tiba-tiba ia juga menyandang status janda, oh my Lord.

Tak satu pun wanita ingin menjanda, apalagi dalam usia muda. Namun bila itu terjadi, apa yang mesti dilakukan? Apalagi bagi sebagian wanita, status janda itu sungguh mengerikan. Seperti halnya yang pernah dialami Margaret (43), nama samaran. Wanita yang menjanda sejak usia 26 tahun ini telah menjalani kehidupan yang sangat perih. “Kalau tidak dibantu Allah, saya sudah seperti apa barangkali Mas,” katanya.

Di lingkungan masyarakat, kata Margaret, menyandang status janda laksana ditimpa sebuah bencana. Inilah yang membuat wanita merasa tidak nyaman. “Ini salah, itu salah. Belum lagi munculnya suara-suara sumbang, ini membuat beban saya semakin berat,” akunya.

Untuk kaum lelaki sih, status duda mungkin bukan persoalan yang terlalu dipusingkan. Tapi bagi kaum wanita yang berstatus jendes, bahasa gaul janda, bisa meledakkan dan menghancurkan kehidupan mereka. “Nah pertanyaannya, kalau sudah jadi janda harus bagaimana?” tanya Margaret.

Sebagai seorang muslimah, kata Margaret, hal yang pertama harus dilakukan adalah menyadari akan takdir Allah. Setelah itu, kelola kesedihan dan ujian ini dengan hati dan iman. “Jadikan saat-saat sulit ini sebagai sarana lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sabar dan ridha pada semua takdir Allah serta menyadari sepenuhnya, bahwa semua yang terjadi ini adalah berdasarkan ketentuan dan hikmah dari Allah SWT,” katanya.

Menurut Margaret, hal terpenting saat pertama kali menjanda adalah jangan sampai merasa sedih, cemas, dan kekhawatiran menguasai diri. Sebab itu akan menjerumuskan hidup dalam kesedihan dan tekanan bantin. “Jangan mengisolir diri, lebih baik terus eksis dan hidup. Kalau sedih dibiarkan, itu akan menguras energi, batin menderita fisik pun ikutan sengsara. Jadi, perbanyak kegiatan dan jangan cari kebahagiaan palsu seperti minum alkohol dan pakai obat-obatan terlarang,” ujarnya.

Kemudian, lanjut Margaret, yakinkan pada diri kita jika status janda bukanlah aib. Pandai-pandailah membawa diri hingga citra miring tentang janda dapat dihilangkan. “Janda kebanyakan dianggap ancaman, kononnya tukang gaet suami orang, gitu kan. Apalagi kalau yang baru jadi janda disebut janda kembang, pasti para istri langsung pasang jurus halau janda, hus hus. Makanya harus bisa bawa diri, jangan sampai dicap jelek oleh masyarakat,” katanya.

Lalu bagaimana cara menghilangkan citra miring itu? Menurut Margaret, itu bisa dilakukan dengan cara menjaga pergaulan dan menundukkan pandangan guna terhindar dari fitnah. “Kalau ada laki-laki menggoda, jangan terpancing. Kita harus tenang, biasa-biasa saja,” ujarnya.

Jika upaya perbaikan citra berhasil, berikhtiarlah untuk mencari pasangan lagi. Itu pun setelah masa iddah selesai. “Niatnya bukan karena nafsu, tapi karena agama. Kan menikah itu sebagian dari agama,” terangnya.

Menjalankan hal-hal tersebut, lanjut Margaret, butuh kesabaran dalam setiap langkahnya. Sebab menjadikan janda berkualitas tidak seperti membalikkan telapak tangan. “Apalagi kalau si janda punya anak banyak seperti saya. Kalau ternyata jodoh yang dicari tidak juga datang, tetap tawakal kepada Allah. Percayakan jika hal terbaik akan diberikan oleh Allah. Termasuk jika kita belum juga diberikan jodoh lagi,” ujarnya.

Terakhir, seorang janda harus hidup dalam optimistis. Selalu berikan kepada diri ribuan sugesti positif. “Sugesti itu bukan hal sepele loh, itu bisa membawa aura positif kepada kita. Makanya harus tetap optimistis, serta bersugesti yang baik terhadap apa pun yang terjadi kepada kita,” akunya.

Margaret memang belum mendapatkan jodoh kembali. Namun dibandingkan Kohed (52) nama samaran mantan suaminya, hidup Margaret lebih bahagia, tentram, dan damai. “Mantan suami saya diselingkuhi oleh istri keduanya itu. Lalu mereka bertengkar, terjadi KDRT. Lucunya istri keduanya itu curhat kepada saya, padahal dia yang merebut Mas Kohed. Dia selingkuh dengan mantan suami saya hingga akhirnya kami bercerai,” katanya.

Kini, wanita yang berprofesi sebagai PNS di Kota Cilegon ini tengah fokus dengan kariernya. Bahkan ia pun menjalani sejumlah usaha hingga sukses. “Anak-anak saya sudah lulus sekolah semua, punya pekerjaan masing-masing. Itu keberhasilan untuk saya,” ujarnya. (Sigit/Radar Banten)