Love Story: Lima Kali Menikah, Hidup Sebatang Kara

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

MENGHABISKAN masa tua menjadi janda harus dijalani Neneng (71), bukan nama sebenarnya. Meski telah lima kali menikah, tidak ada satu pun suaminya yang bertahan hidup lama dan mewariskan buah hati. Kok bisa? Begini ceritanya.

Neneng menikah pertama kali dengan Jono (83), bukan nama sebenarnya. Ia menikah muda saat usianya masih 12 tahun. “Masa penjajahan dulu kan nggak pandang umur. Karena disuruh orangtua juga ya akhirnya saya mau,” katanya mulai membuka masa lalunya.

Jono yang merupakan salah satu tentara pejuang negara ini menjadi cinta pertama Neneng. Namun dalam perjuangannya, Jono pun gugur. “Kalau dulu bahasanya hanya nikah gantung. Padahal kita belum menikmati indahnya pernikahan. Tapi suami saya keburu gugur. Meski begitu dia jadi cinta pertama saya yang masih saya ingat sampai sekarang,” terangnya.

Setelah ditinggal suaminya yang gugur dalam peperangan, Neneng yang bekerja sebagai perawat bayi keluarga Jepang kemudian bertemu dengan Nana (82), bukan nama sebenarnya. Nana merupakan salah satu anak buah di perkebunan Jepang yang juga bos dari Neneng.

“Ya awalnya sih saya susah melupakan suami pertama saya. Tapi saya coba dan setelah kenal dua bulan akhirnya kami menikah,” akunya.

Namun sayang, Neneng yang belum sempat mencicipi masa pernikahan keduanya kembali harus menjadi janda. Seminggu setelah menikah Nana tewas menjadi korban tembak prajurit Jepang.

Tiga tahun berlalu Neneng hidup dalam bayang-bayang suaminya yang telah meninggal. Beruntungnya, setelah berhenti menjadi perawat bayi Neneng kembali ditawari bekerja pada keluarga Jepang yang lain untuk menjadi pengasuh anak.

“Dibilang beruntung sih ya beruntung. Karena saya mendapatkan majikan yang baik,” katanya.

Lima tahun menjanda, Neneng kembali bertemu dengan sang lelaki yang meminangnya. Sebut saja Aceng (85), bukan nama sebenarnya. Aceng bekerja sebagai salah satu buruh kebun milik Jepang. Namun sayangnya, suami ketiga Neneng ini juga meninggal menjadi korban kerusuhan tentara Indonesia-Jepang.

“Kalau diingat-ingat hati saya sakit, Mas. Siapa sih yang nggak sedih ditinggal suami untuk ketiga kalinya,” rintih Neneng bercucuran air mata.

Meski menikah tiga kali, Neneng pun belum dikarunia buah hati. Neneng kembali harus menjalani hidup sebagai janda. Penderitaanya bertambah saat mengetahui ayahnya memiliki hobi bermain dengan wanita lain.

“Penderitaan saya berlipat ganda karena nasib saya yang begini ditambah kasihan melihat ibu yang disakiti ayah saya. Padahal saya udah ngomel, tapi nggak ada perubahan,” tutur Neneng mulai emosi.

Tidak tahan melihat kelakuan ayahnya, Neneng pun memilih pergi dari rumah dan mencari pekerjaan lain. Namun ternyata, Neneng kembali menjadi pengasuh anak dari keluarga Jepang. Di tempat bekerjanya yang baru, Neneng bertemu Sidik (79), bukan nama sebenarnya. Sidik merupakan supir majikannya yang baru. Dua minggu PDKT, Neneng kembali menikah untuk keempat kalinya.

Setelah sembilan bulan menikah, Neneng terpaksa berhenti bekerja karena terjadi pengusiran penduduk Jepang dari Indonesia. “Padahal waktu itu saya diajak majikan saya ke Jepang. Tapi dilarang suami saya,” akunya sambil perlahan mengingat masa lalu.

Seolah kutukan, Sidik yang baru menikahi Neneng satu tahun ini meninggal karena komplikasi penyakit yang diderita. Dan Neneng pun harus kembali menjanda tanpa anak. “Selain pasrah saya bisa apa? Kalau pun menyakitkan karena ditinggal suami untuk kesekian kalinya dan harus tinggal sendiri karena belum punya anak,” katanya.

Setelah kembali menjanda, Neneng terpaksa harus bekerja serabutan dan menjadi buruh di pabrik. “Kalaupun nggak besar ya yang penting cukup buat makan. Ya beginilah risiko hidup sebatang kara,” tambahnya.

Setelah lelah menjadi buruh di ibukota, Neneng yang berasal dari Bandung pun mengadu nasib ke Banten. Tanpa ada saudara dan kenalan, Neneng hidup di Banten sebatang kara.

Lima bulan hidup sebatang kara, Neneng kembali bertemu lelaki yang mengajaknya menikah. Sebut saja Dedi (80), bukan nama sebenarnya. Selama menikah dengan Dedi yang bekerja sebagai tukang becak, Neneng hidup di rumah sewaan dan menjadi pedagang serabutan. “Saya coba jualan apa saja yang penting dapat uang dan halal. Kalau ngandelin uang suami aja kan susah nggak cukup buat ini itu,” tuturnya.

Satu tahun hidup bersama Dedi suami keenamnya, ternyata belum juga bisa memiliki anak. Neneng yang mulai nyaman hidup dengan Dedi harus kembali menelan pil pahit kehidupan. Pasalnya Dedi meninggal karena menjadi korban tabrak lari sewaktu menarik becak.

“Nggak tahu saya harus berbuat apalagi. Perasaan saya sakit campur aduk. Saya cuma bisa meratapi hidup saya yang malang ini. Berkali-kali ditinggal suami dan nggak punya anak. Sebagai perempuan dan seorang istri perasaan saya hancur, sangat sedih,” jelas Neneng sambil menangis.

Perihnya hidup yang dijalani membuat Neneng hampir putus asa dan stres. Namun beruntungnya, ia masih diberikan kekuatan untuk menjalani hidupnya. Meski hidup tertatih, Neneng bertahan hidup sebatang kara dan menjadi penjual jagung rebus.

“Nggak tahu harus gimana. Saya cuma bisa lakuin apa yang saya bisa salah satunya jualan. Kalau nggak gitu saya nggak bisa bayar kontrakan dan beli makan,” tuturnya.

Tahun-tahun berlalu dilewati Neneng dengan hidup seorang diri tanpa buah hati. Di usianya yang semakin menua, Neneng mulai merasakan keluhan penyakit tua yang ia derita. Dengan keterbatasannya, akhirnya Neneng mulai jarang berjualan dan sulit mendapat penghasilan. Akibatnya, ia tidak bisa membayar sewa kontrakan dan terpaksa harus hidup di kolong jembatan.

Beruntungnya, Neneng yang hidup sebatang kara ini ditolong salah satu tetangga kontrakannya dan diantarkan ke panti jompo. Namun Neneng yang biasa mengisi waktunya bekerja merasa tidak nyaman ditinggal di panti jompo karena tidak memiliki pekerjaan.

“Tapi ya bagaimanapun saya bersyukur aja. Masih ada yang mau nampung saya. Kalaupun nggak betah ya mau gimana lagi?” pungkasnya. (Wivy-Zetizen/Radar Banten)