Love Story: Makin Kaya Makin Perhitungan

0
622 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

MAESAROH (41), bukan nama sebenarnya, tidak seperti wanita kebanyakan, membingungkan. Menyadari sang suami, sebut saja Wardiman (43), yang usahanya mulai berkembang dalam berjualan makanan siap saji, Maesaroh bukannya senang ia justru malah ingin kembali ke kehidupannya yang dulu, yakni hidup sederhana dan apa adanya. Nah loh?

Ternyata, ketidakbahagiaan Maesaroh dengan kamajuan usaha suaminya itu dipicu sang suami yang perhitungan dalam urusan keuangan. Selama suami menarik keuntungan dari usaha yang baru ditekuninya sekira tujuh tahun lalu, Maesaroh tak pernah merasakan atau menerima nafkah dari sang suami. Ow ow ow.

Hasil jerih payah Wardiman hanya dinikmati sendiri untuk memperkaya dirinya sendiri. Entah itu membeli pakaian baru, motor baru, rumah baru, dan mobil baru yang mampu dibelinya. Sementara Maesaroh tidak pernah dibelikan apapun dari keuntungan usaha Wardiman. Ya salam.

Beruntung Maesaroh punya penghasilan sendiri, yakni membuka usaha warungan yang dikelolanya sejak ia baru menikah dengan Wardiman 15 tahun silam. “Suami sekarang makin kaya malah makin perhitungan. Makanya, lebih baik miskin seperti dulu,” keluhnya. Astagfirullah, hati-hati bicara Bu, ucapan adalah doa. “Habis kesal, sekarang dia (Wardiman-red) sudah enggak pernah kasih nafkah,” ungkapnya. Yang sabar ya.

Padahal, sebelum Wardiman merintis usaha makanan siap saji yang ilmunya diperoleh dari rekannya, profesi Wardiman hanya seorang sekuriti pada sebuah perusahaan industri di Serang. Hingga akhirnya, Wardiman bertemu dengan Maesaroh yang saat itu kebetulan bekerja sebagai buruh di industri yang sama.

Dilatarbelakangi suka sama suka, akibat intensitas pertemuan mereka di pabrik, keduanya pun terjebak cinta lokasi. Enam bulan berpacaran, mereka akhirnya memutuskan untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan.

“Tahu kita menikah, otomatis harus ada yang mengalah keluar dari kerjaan. Saya yang mengalah, pesangon dari perusahaan, saya jadikan modal buka warung kecil-kecilan untuk bantu ekonomi suami,” terangnya. Oh so sweet.

Setelah menikah, mereka pun menjalani rumah tangga dengan sangat bahagia di sebuah kontrakan, sambil membuka warung kecil-kecilan. Sengaja, mereka ingin memisahkan diri dari orangtua masing-masing supaya mandiri. Sementara Wardiman tetap bekerja sebagai satpam.

Walau begitu, kehidupan rumah tangga mereka adem ayem saja. Wardiman begitu sayang kepada Maesaroh. Hidup pas-pasan tak menyurutkan Wardiman untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan Maesaroh. Bahkan, minta motor sekali pun mampu diwujudkan Wardiman.

“Pas jadi satpam, Mas Wardiman itu sosok suami sempurna. Orangnya pendiam, penurut, perhatian, setia, dan enggak pernah marah. Pokoknya, saya wanita paling bahagia,” akunya. Selamat deh.

Setelah tujuh tahun mereka berumah tangga dan dikaruniai satu anak, Wardiman memutuskan keluar dari pekerjaannya. Wardiman merasa, bekerja sebagai satpam tidak ada perkembangan. Terbukti, selama itu pula mereka tidak beranjak dari kontrakan alias menumpang. Lantaran itu, Wardiman tergoda temannya yang sudah bisa memajukan usahanya.

Wardiman mengikuti jejak temannya untuk berkarier dalam dunia usaha. Tekad Wardiman untuk alih profesi begitu kuat. Wardiman sampai rela mengeluarkan budget sendiri untuk belajar cara membuat penganan yang akan ia produksi di luar kota.

“Mas Wardiman belajar sebulan cara memproduksi penganan yang akan dia jual nanti,” terangnya. Bagus dong, kalau mau maju memang harus ada pengorbanan.

Uang pesangon dari perusahaan tempat ia bekerja sebagai satpam pun, dijadikan Wardiman sebagai modal usaha pertamanya. Perjuangan dan tekad Wardiman ternyata tidak sia-sia. Dari usaha dengan modal kecil-kecilan, Wardiman mampu mengepakan sayapnya dan bersaing dengan pengusaha muda lainnya. Bahkan, sampai membuka cabang di mana-mana.

Tentu saja, Maesaroh senang bukan kepalang. Karena sejak usaha Wardiman maju, sedikit demi sedikit, kehidupan rumah tangga mereka pun semakin sejahtera. Seiring berkembangnya karier Wardiman, usaha Maesaroh berdagang juga terus mengalami kemajuan. Wardiman mulai membeli tanah dan membangun rumah bertingkat. Setahun kemudian, setelah membuka beberapa cabang usaha, Wardiman mengganti motornya dengan roda empat. Makin berbahagialah Maesaroh.

Alhamdulillah sih ke sananya mah. Tapi, saya merasa lebih bahagia saat susah dulu,” ucapnya. Loh kenapa Bu? “Sekarang, punya harta juga percuma. Saya enggak pernah menikmati tuh. Dia mah memperkaya sendiri. Buat makan sehari-hari juga, saya yang mengeluarkan uang. Uang dia cuma buat beli kebutuhan dia saja,” ujarnya kesal. Syukuri saja, yang penting enggak minta ke Ibu.

Parahnya lagi, ketika mau jalan-jalan atau menengok orangtua, Wardiman benar-benar keterlaluan. Wardiman tidak memperlakukan Maesaroh layaknya kepada istri. Setiap berpergian menggunakan mobil, Wardiman selalu enggan mengeluarkan rupiah dari kantongnya. Termasuk saat membeli makanan di jalan, pasti Maesaroh yang merogoh kecek dan mengeluarkan uang untuk membeli bensin.

“Katanya, ‘dia kan yang nyetir, jadi harus patungan, saya yang beli bensin’,” ungkapnya. Astaga.

Lantaran itu, setelah mereka dikaruniai dua anak, suasana di rumah tidak seharmonis dulu. Begitu pula dalam urusan ranjang. Maesaroh jarang melayani Wardiman, kecuali Wardiman memaksa karena takut dosa.

Pasti ada saja terjadi perselisihan di antara keduanya setiap hari yang membuat Maesaroh sering merasakan bad mood. Yang diperdebatkan, tentu saja, tak lain selain masalah keuangan. Sejak itu, sikap Wardiman semakin hari semakin perhitungan.

“Jadinya, bikin sebel. Ih amit-amit deh. Kalau yang lain, belum tentu tahan,” ketusnya.

Situasi demikian, sempat membebani pikiran Maesaroh yang berniat untuk meminta cerai. Namun, seketika pikiran itu sirna seiring melihat perkembangan anak yang semakin dewasa. Demi masa depan kedua anak mereka, Maesaroh pun akhirnya mengurungkan niatnya dan memilih bertahan.

“Kalau enggak lihat anak, saya lebih baik pisah. Usaha sudah, apa lagi! Daripada punya suami juga percuma. Kayak hidup sendiri,” tukasnya.

Yang sabar Bu, doakan saja. Mudah-mudahan Mas Wardiman bisa segera dibukakan pintu hatinya. Amin. (Nizar S/Radar Banten)