Love Story: Makin Mapan Makin Nakal

0
818 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

DUA bulan sudah Siti (27), bukan nama sebenarnya, pisah ranjang dengan suami, sebut saja Yogi (31). Perasaan hati wanita berambut ikal itu pun, akhir-akhir ini ibarat lagu lawas yang dipopulerkan artis kawakan Diana Nasution. Yakni, benci tapi rindu. Siti sepertinya tak kuasa memendam rasa cintanya terhadap suami. Selain khawatir, kondisi keretakan rumah tangga mereka berdampak pada sepasang anaknya yang lucu-lucu.

Karena kehadiran buah hatilah yang menambah suasana kebahagiaan selama enam tahun rumah tangga. “Kalau enggak lihat anak, mungkin saya sudah minta cerai,” akunya. Emangnya kenapa tuh? “Suami minta kawin lagi, ingin poligami,” kesalnya. Waduh.

Diceritakan Siti, awalnya kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja. Malah terbilang romantis. Apalagi semasa pacaran, Yogi tak pernah berbuat macam-macam. Yogi yang mempunyai postur tubuh jangkung serta kulit hitam manis, termasuk tipikal lelaki setia. Siti tidak merasa ada gelagat hidung belang pada diri Yogi. Pada wajah suami pun, dinilai Siti tak terlalu memadai untuk menjadi lelaki buaya.

Lain dengan Siti yang memang memiliki wajah teramat manis. Belum lagi, di desanya Siti termasuk kembang dan rebutan para pemuda di lingkungannya saat masih gadis. Belum lagi, Siti berasal dari kalangan keluarga berada. Ayahnya juragan sawah, tanahnya di mana-mana.

Lantaran itu, Yogi yang merasa bangga bisa mendapatkan hati sang hawa, tak berani berbuat sesuatu yang paling dibenci anak sulung dari dua bersaudara itu, yakni perselingkuhan. “Dulu, pas pacaran ancamannya juga, sekali selingkuh tak ada ampun,” tegasnya. Ampun deh kalau gitu.

Mungkin dulu, Siti berada di atas angin. Karena Yogi merasa ketika masih bujangan, tidak ada yang bisa dibanggakan untuk bisa merebut hati Siti. Yogi hanya beruntung saja bisa menarik perhatian Siti. Diakui Siti, memang dari awal niatnya mencari suami bukan sekadar ganteng dan kaya. Lebih dari itu, Siti mencari sosok suami yang bisa menjadi imamnya kelak. Meski, Siti mengaku tidak terlalu paham agama.

Dari sekian laki-laki sebayanya, Siti tak pernah menemukan sosok seorang suami dewasa. Serta sang jantan yang diyakininya tidak akan main-main dengan perempuan. Secara kebetulan, ketika Siti sedang mencari sosok pendamping, Yogi muncul bak pahlawan. Yogi merupakan teman sekolah tetangganya yang usianya jauh lebih dewasa.

“Pertama ketemu Mas Yogi, saya masih SMA. Kalau suami udah mau lulus kuliah,” katanya. Terus? “Kan cinta enggak kenal usia. Kang Yogi ceritanya naksir udah lama, karena sering lihat saya,” terangnya.

Untungnya Siti sejak masih SMA sudah berpikiran dewasa. Karenanya, mau menerima Yogi sebagai pacar. Terlebih, Siti tahu kalau Yogi taat agama. Ke mana-mana, sesibuk apa pun, Yogi pasti membawa peci. Setiap berkunjung ke rumah teman yang merupakan tetangga Siti, pasti selalu terdengar suara mengaji.

Ketika ditanyakan kepada teman Yogi, Siti semakin yakin kalau Yogi pilihan terbaik. Berdasarkan pengakuan tetangganya, Yogi dikenal anak paling pintar dan saleh di kampus serta rajin puasa sunah. Meskipun Yogi berasal dari keluarga tidak mampu, tetapi mampu membiayai kuliahnya sampai tuntas. Tentunya, melalui program beasiswa dan selalu mendapat nilai tertinggi dari sejak masih SMA. Yang lebih membanggakan, Yogi termasuk orang prinsipil saat itu. “Intinya, cocok jadi suami. Orangnya setia, kata temannya,” ujarnya.

Yogi memang beruntung. Setelah lulus kuliah langsung diterima menjadi pegawai negeri setelah mengikuti tes CPNS dan ditempatkan di departemen agama. Sementara Siti melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah.

Selama lima tahun, hubungan mereka bertahan. Yogi pun, mau sabar menunggu lamaran sampai Siti lulus kuliah. Singkat cerita, Siti lulus kuliah dan tak lama setelah diwisuda langsung dilamar Yogi. Pernikahan mereka pun, dilangsungkan dengan pesta cukup meriah. Betapa bahagianya mereka saat itu. Kehidupan mahligai rumah tangga semakin sempurna, tatkala kehadiran anak.

“Pokoknya, hidup saya pas punya anak satu serasa sempurna. Padahal, waktu itu Mas Yogi masih staf biasa di instansinya,” ucapnya.

Namun, seiring waktu, Yogi yang didorong kegigihan serta ketabahan dan keimanannya, mendapatkan promosi jabatan. Sejak itu, kehidupan rumah tangga Siti dan Yogi berubah. Uang Yogi semakin berlimpah, seolah gampang mencari uang sejak ada kenaikan jabatan.

Tak butuh satu tahun untuk mereka bisa membangun rumah cukup mewah dari hasil keringat Yogi. Selang beberapa bulan, Yogi kembali mengejutkan istri, yakni bisa membelikannya emas berlian serta kendaraan roda empat. Namun, majunya kehidupan rumah tangga, membuat Yogi lupa segala-galanya. Termasuk lupa pada Siti.

Tadinya, Yogi yang super perhatian kepada Siti dan anak-anaknya, mulai berubah. Siti memang mendapatkan tambahan uang belanja, tapi sikap Yogi menjadi tak biasa. Perilaku Yogi mulai menunjukkan kenakalan sebagai lelaki.

“Beda aja, pas mulai mapan, bentar-bentar ngomongin perempuan,” kesalnya. Ngomongin gimana tuh? “Misalkan pulang kerja, bilangnya tadi di jalan lihat cewek cakep. Saya kan jadi heran, dulu boro-boro ngomongin cewek, kerjaan aja,” keluhnya.

Situasi itu pun, dilakukan Yogi secara berulang. Bahkan, kegenitannya itu sering ditunjukkan di rumah. Termasuk saat berhubungan suami istri, Yogi mulai banyak gaya. Yogi kerap memaksa Siti untuk berfantasi. Menonton televisi pun, ketika melihat tayangan perempuan cantik, matanya langsung terbelalak.

Hingga akhirnya, Yogi mengaku kalau dia berniat untuk poligami. Bahkan, berani mengakui kalau dia selama ini sudah sering jalan bareng dengan perempuan lain. Ow ow ow. Pengakuannya, Yogi mulai menyayangi perempuan tersebut, tanpa harus meninggalkan Siti. Tentu saja, pengakuan Yogi itu sempat membuat Siti syok. Siti hampir tidak percaya Yogi sejahat itu.

“Makin mapan, Mas Yogi malah makin nakal. Permintaannya ya saya tolaklah. Cewek mana yang mau dimadu,” tegasnya. Banyak juga tuh. Hehehe.

Namun, setelah Siti berpikir panjang karena tak mau anak-anaknya yang jadi korban, sementara Siti memutuskan pisah ranjang tanpa harus ada pertengkaran untuk memulainya. “Saya masih bingung harus jawab apa. Di sisi lain enggak mau dipoligami, di sisi lain juga enggak mau kehilangan suami,” tukasnya kebingungan. Coba minta kepada Yang di Atas, siapa tahu dapat jawabannya. “Iya ya, doain aja,” pintanya. (Nizar S/Radar Banten)