Love Story: Manjakan Anak Tiri, Kok Mertua Iri

0
1.282 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

DALAM suatu hubungan suami istri, tak jarang keberadaan anak menjadi penyelamat keretakan dalam rumah tangga. Seperti halnya kisah asmara pasangan suami istri asal Serang, Oneng (34) dan Bopeng (30), keduanya nama samaran. Meski Oneng berstatus janda anak satu, tak mengurungkan niat Bopeng sang bujangan untuk meminangnya sebagai istri. Bopeng juga tak keberatan jika harus dibebani dengan anak tiri.

Kondisi Oneng yang demikian, sempat memancing reaksi negatif sang mertua, sebut saja Ipah. Hubungan Oneng dan Bopeng tidak mendapat restu dari Ipah. Meski pada akhirnya, mereka tetap melangsungkan pernikahan. Tentunya atas desakan Bopeng yang kukuh ingin membangun mahligai rumah tangga dengan sang janda. Padahal, usia janda bergigi kawat ini, lebih dewasa ketimbang suami.

“Untung ada anak yang buat rumah tangga saya bertahan,” ungkap Oneng membanggakan anak.

Diceritakan Oneng, mertuanya sudah bersikap sentimen sejak mereka masih berpacaran sampai awal-awal pernikahan. Terlebih, setelah lima tahun menikah Oneng tak kunjung memberikan keturunan untuk suaminya. Oneng memaklumi mertua yang bersikap demikian. Soalnya, Bopeng berasal dari kalangan berada. Orangtuanya adalah seorang pengusaha sukses. Sudah tentu di rumah semua fasilitas dan kebutuhan tersedia, berikut kendaraan roda empat.

Belum lagi, Bopeng yang berparas rupawan, juga anak paling bontot dari lima bersaudara di keluarganya. Kondisi itu membuat Ipah tak rela menikahkan anak bungsunya itu dengan janda. Apalagi, Oneng sudah memiliki anak dari pernikahannya yang pertama.

“Ya, saya sih enggak menyalahkan mertua. Mungkin mereka begitu karena sayang sama anaknya. Dipikir ibunya, mungkin masih banyak perawan, kenapa harus janda!” ujarnya. Namanya juga jodoh Teh.

Oneng sendiri mengaku bertemu dengan Bopeng pada saat keduanya berada di acara pameran otomotif. Kebetulan, Oneng saat itu menjadi sales promotion girl (SPG) di pameran tersebut. Mungkin karena Oneng berpenampilan seksi sehingga mengundang perhatian, Bopeng langsung tertarik dan mengajak berkenalan. Kebetulan, Bopeng kenal dengan rekan Oneng satu profesi di stan pameran.

Setelah berkenalan, keduanya langsung bertukar nomor ponsel. Lalu berlanjut dengan saling berteleponan dan SMS. Sampai kemudian, merasa ada kecocokan, keduanya sepakat untuk menjalin hubungan. Tak lebih dari satu bulan, Oneng langsung diajak menikah oleh Bopeng. Maklum, Bopeng bisa sampai kasmaran karena Oneng cantik, penampilannya pun menarik. Belum lagi didukung bodinya yang aduhai. Menatap Oneng, bisa membuat lelaki manapun bergairah.

“Saya jujur kalau sudah janda dan punya anak. Tapi, kata Kang Bopeng enggak masalah. Katanya, cintanya tulus dan mau menerima apa adanya, ya sudah,” terangnya. Syukur deh.

Namun, rencana pernikahannya dengan Bopeng tidak berjalan mulus. Keinginan Bopeng untuk meminang Oneng menemui kendala. Yakni, niat baik Bopeng meminang Oneng mendapat penolakan dari sang mertua. Ow ow ow. Oneng sempat minder, sebelum akhirnya kembali termotivasi. Oneng kagum dengan kegigihan Bopeng memperjuangkan Oneng menjadi pendamping hidup. Tampaknya, tekad Bopeng yang sudah kesengsem dengan janda ditinggal cerai ini tak terbendung. Lama-lama, sikap keras Bopeng mampu meluluhkan dan meyakinkan orangtuanya. Upaya Ipah untuk membatalkan niat Bopeng bersanding dengan Oneng pun, kandas.

“Kita memang nikah, tapi selama nikah sampai berumah tangga, enggak pernah ditanya sama mertua, terutama ibunya,” keluhnya.

Setelah menikah, badai yang menghampiri rumah tangga Oneng tampaknya belum berlalu. Ipah tak henti-hentinya menghasut Bopeng. Apalagi, setelah Ipah mengetahui kalau ternyata Oneng sudah tidak bisa memberikan keturunan. Oneng yang keguguran pasca pernikahan dengan Bopeng, terkena musibah. Ia mengalami gangguan pada janin sehingga kista rahimnya terpaksa harus diangkat. Kondisi itu, memaksa Bopeng hanya akan mengurusi anak tiri selamanya.

Situasi itu pun semakin membuat Ipah geram. Berbagai cara dilakukan Ipah untuk memengaruhi Bopeng agar menceraikan Oneng. Oneng sadar itu, tetapi selalu berpura-pura tidak tahu di hadapan suami dan mertuanya. “Pas keguguran pasca nikah sama Bopeng, terus kata dokter kista rahim harus diangkat dan sulit dapat keturunan, saya sempat down,” kesalnya. Terus-terus?

“Ya enggak terus-terus, waktu itu saya pasrahkan saja semuanya sama suami. Kalaupun dicerai, saya harus terima nasib itu,” sesaknya.

Beruntung Oneng punya anak yang pintar mengambil hati bapak tirinya, sebut saja Asep yang memasuki usia SD. Di saat Oneng merasa frustrasi, kahadiran Asep bak pahlawan bagi ibunya. Kecerdasan dan sikap penurut Asep mampu merebut hati dan simpatik bapak tirinya.

Bopeng yang sekarang membuka usaha toko serba ada pun tak lagi fokus terhadap penyakit yang diderita Oneng, melainkan lebih mementingkan Asep, anak tirinya yang dinilai punya masa depan cerah. Sejak itu, Bopeng hanya memikirkan perkembangan Asep serta bertekad untuk membuat anak tirinya itu berguna kelak.

Alhamdulillah, walaupun anak tiri, saya merasa Mas Bopeng sudah memperlakukan Asep seperti anak kandung. Malah, lebih dari itu,” tegasnya. Lebih dari itu bagaimana?

“Asep sangat dimanja bapaknya. Mau apa juga, pasti dituruti. Kalau lagi usaha, pasti neleponin, si Asep lagi apa. Ditanya sudah makan apa belum. Pokoknya, selalu dikhawatirkan sama Kang Bopeng,” jelasnya. Bagus dong.

Namun, justru sikap Bopeng yang terlalu memanjakan Asep malah membuat Ipah, sang mertua iri. Merasa sudah tidak bisa menghasut Bopeng yang terlalu menyayangi anak tiri, Ipah akhirnya mengalah. Ipah tak lagi mengusik rumah tangga Oneng dengan Bopeng. Malah, Oneng mendengar rencana ibunya yang ingin membangunkan rumah yang lebih besar untuk Bopeng. Kabar itu, tentu telah membuat mata Oneng berbinar-binar, menandakan kebahagiaan.

“Walau bagaimanapun, Kang Bopeng kan anaknya. Anak bungsu lagi. Ya, perubahan sikap mertua itu, memotivasi saya juga supaya bisa berbuat lebih baik lagi melayani suami,” tegasnya. Termasuk servis di ranjang. “Yang itu sudah pasti, jangan ditanya,” pungkasnya. (Nizar S/Radar Banten)