Love Story: Memilih Calon Suami Bikin Galau

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

MENDEKATI hari pernikahan yang tinggal seminggu lagi, Noni (25), bukan nama sebenarnya, dibikin gamang. Masalahnya, perempuan berkulit putih dan berwajah manis ini, belum bisa menentukan lelaki mana yang pantas menjadi pasangan hidupnya kelak. Padahal, gadis asal Pandeglang tersebut, sudah memiliki calon suami, sebut saja Didi (26). Bahkan, sebagian besar undangan yang dirancang bersama calon suaminya itu sudah dibagikan kepada tetangga dan kerabatnya. Nah loh, kok bisa begitu?

Ternyata, keraguan Noni muncul setelah ia mengantarkan surat undangan kepada bekas pacarnya, sebut saja Dudu (27). Dudu memang bukan pacar pertama bagi Noni, tapi menjadi bagian dari cinta sejati yang sampai saat ini masih terus diingatnya. Ow ow ow.

“Gimana sih Kang perasaannya, ketemu mantan yang bener-bener kita sayang. Lagian, kita belum putus tuh. Pas pisah kan belum ada kepastian, dia ngilang gitu aja,” terangnya. Makanya, kalau sudah mau nikah, jangan coba-coba ketemu mantan, begini nih jadinya.

Sejak saat itu, kegalauan terus menghantui Noni. Terlebih, setelah dua tahun berpisah dan tidak pernah bertemu satu sama lain, kehidupan Dudu dinilai Noni semakin mapan. Dudu sekarang statusnya PNS di salah satu instansi di Banten. Lain halnya dengan calon suami, Didi yang hanya sales produk biasa di Serang. Perbedaan itu salah satunya yang memicu Noni berubah pikiran untuk menerima pinangan Didi naik ke kursi pelaminan. Widih, matre juga ternyata.

“Pernyataan Dudu juga pas ketemu bikin galau. Dia bilang kalau dia juga masih sayang. Itu kenapa dia sampai sekarang belum kawin,” jelasnya. Nikah apa kawin nih? Masa sih? “Ngakunya sih gitu,” jawabnya. Hati-hati kena rayuan maut buaya.

Diceritakan Noni, selama setahun aktif pacaran dengan Dudu, tidak pernah sekali pun terjadi perselisihan di antara mereka. Dudu dikatakan Noni, selain sifatnya yang humoris, orangnya juga perhatian dan menjadi pacar satu-satunya yang paling mengerti Noni. Dari segi fisik Dudu biasa saja, wajahnya juga kalem dan gaya hidupnya sederhana, apa adanya pokoknya begitu. Tapi, menurut Noni, Dudu adalah lelaki yang selama ini dia cari. Dudu orangnya sabar, tidak pernah marah, apalagi sampai membentak. Uniknya, Dudu tidak pernah menolak semua permintaan Noni selagi dia mampu.

“Dudu itu sempurna. Saya bahkan sempat ngebayangin bisa nikah sama dia. Apalagi, dia pinter ngambil hati orangtua. Genit sama perempuan mah biasa, namanya juga laki-laki,” ucapnya. Nah itu dia justru yang harus hati-hati. Khawatir tukang ngibul.

Namun, setahun pacaran berjalan, tanpa kabar berita, Dudu tiba-tiba hilang bagai ditelan bumi begitu saja. Sejak itu, Noni tak pernah lagi menerima informasi soal keberadaan Dudu. Tak jarang, kedua orangtua Noni menanyakan kabar Dudu yang tak kunjung apel ke rumah setiap malam minggu yang biasa dilakukan.

Jelas, saat itu hati Noni serasa tercabik-cabik, hati bimbang, pikiran pun tak tenang karena perasaan Noni sudah terlalu sayang terhadap Dudu. Namun, selama itu pula Noni tidak pernah mendapatkan kejelasan dari Dudu.

“Sejak ditinggal pergi gitu aja tanpa kejelasan, saya sempat frustrasi. Perasaan waktu itu campur aduk, ya kecewa, kesel, marah, komplit deh,” kesalnya. Sabar ya Teh!

Sekali waktu, Noni mengunjungi keluarga Dudu. Ia berharap mendapatkan kejelasan. Namun, perjuangan Noni tidak membuahkan hasil. Noni hanya mendapat informasi dari keluarganya, jika Dudu pasca lulus kuliah pada 2014 seminggu setelah kepergiannya meninggalkan Noni, langsung berangkat ke Serang untuk mencari pekerjaan. Dudu tidak pernah meninggalkan pesan atau sekadar memberikan nomor ponselnya yang aktif. Lantaran itu, Noni sulit menghubungi Dudu, apalagi sengaja menemui.

“Kepergian Dudu misterius. Saya marah, sekaligus jadi bertanya-tanya. Pasti ada alesan di balik kepergiannya ninggalin saya gitu aja,” ujar Noni berharap. Mungkin juga sih.

Memang selama berpacaran dengan Dudu, Noni sudah dibayang-bayangi Didi. Noni saat itu setelah lulus SMA, bekerja di tempat fotokopi seprofesi dengan Didi. Merasa senggang dan ada peluang, Didi yang memang sudah mengincar Noni sejak lama, tanpa basa-basi nekat menembak Noni. Dorrr….

Noni yang orangnya tidak enakan, merasa harus memberikan kesempatan kepada Didi yang selama ini menjadi teman curhatnya. Terlebih, Didi juga sudah mengenal keluarga Noni dengan baik. Bahkan, pernah menyatakan keseriusannya kepada orangtua Noni tanpa sepengetahuannya.

“Iya, saya juga kaget, kalau Didi ternyata sudah menyatakan niat ngawinin saya. Tapi, saya belum bisa nerima waktu itu. Soalnya, masih trauma dengan Dudu,” jelasnya.

Beruntung, Didi orangnya pengertian dan mau menunggu Noni sampai dua tahun lamanya. Bahkan, Didi keluar dari pekerjaan sebagai tukang fotokopi dan mendapat pekerjaan lain di Serang sebagai sales produk makanan. Gajinya tak seberapa, tapi niat Didi pindah kerja memang tujuannya ingin membahagiakan Noni. Oh so sweet.

Singkat cerita, dua tahun sudah mereka menjalani hubungan, akhirnya Noni menerima desakan orangtuanya untuk menerima pinangan Didi menuju kursi pelaminan. “Setelah dipikir-pikir, ngapain mikirin yang enggak ada? Mending laki-laki yang jelas-jelas sayang sama kita. Makanya, lamaran Didi saya terima,” tegasnya.

Namun, keputusan Noni untuk mengundang Dudu mantannya salah besar. Noni yang masih tidak bisa melupakan Dudu dan merasa penasaran, sengaja mengantarkan undangan pernikahannya langsung ke rumah keluarga Dudu. Tak disangka, secara kebetulan kedatangan Noni diterima oleh Dudu di depan pintu yang sekian lama menghilang bagai ditelan badai. Jelas Noni kaget bukan main.

“Saat itu, pikiran saya pas pertama ketemu lagi sama Dudu campur aduk. Kaget tapi senang iya, rindu plus kesal juga iya. Pokoknya, saya sudah enggak bisa berkata-kata deh,” akunya.

Lidah Noni tak bisa bergerak ketika menyadari Dudu yang langsung memeluknya tanpa banyak bicara. Apalagi, setelah Noni mendapatkan penjelasan dari Dudu secara konkret, alasan kenapa Dudu waktu itu pergi tanpa pesan. Katanya, Dudu sengaja pergi begitu saja setelah mendapat desakan dari orangtua Noni agar segera menikahi putri sulungnya itu. Hanya, Dudu tidak siap karena harus menyelesaikan dulu pendidikan sarjananya.

Tak ingin menyakiti Noni, Dudu pun terpaksa pergi dengan harapan bisa sukses dulu dalam pekerjaan. Baru setelah mapan dan siap menikah, Dudu berencana kembali menemui Noni untuk melamarnya. Situasi itu pun, membuat Noni maupun keluarganya menjadi bimbang.

“Itu dia yang bikin saya galau Kang. Pikiran jadi kacau beliau,” keluhnya. Balau kali teh bukan beliau. “Iya itu. Sekarang jadinya bingung, mana yang kira-kira pantas jadi suami. Kasih masukan dong,” pintanya kepada wartawan. Oh gitu toh ceritanya, pantas galau. Lantas, itu undangan mau digimanain?

“Ya, saya kan enggak mau salah pilih suami. Gampang itu mah, tinggal ganti,” ucapnya santai. Menurut saya sih, coba Teteh salat istikharah aja, siapa tahu dapat jawaban.

“Iya deh saya coba. Mudah-mudahan, pilihan saya nanti setelah salat istikharah memang yang terbaik,” harapnya. Amin. (Nizar S/Radar Banten)