Love Story: Mengelabui Istri, Pura-pura Kerja Rodi

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

SEBAGAI lelaki buaya yang doyan main perempuan, selalu memiliki banyak cara untuk mengelabui pasangannya. Ada yang berpura-pura menjadi suami takut istri untuk menutupi perilaku buruknya. Ada pula yang sok perhatian sampai manjain istri di rumah sepulang kerja. Seperti memberikan uang belanja tambahan dan sok-sok romantis. Misalkan, selalu memberikan sebongkah berlian atau bunga pada momen-momen tertentu.

Namun, apa yang dilakukan suami Tuti (32), yakni Mail (35), keduanya nama samaran, lain lagi. Mail yang belum lama pindah kerja, dari kantoran menjadi orang lapangan mulai memainkan aksinya sebagai playboy sejati yang doyan main api. Tentunya, menggunakan jurus alasan kerja rodi. Hmm, jurus apa lagi tuh?

“Suami tuh, kalau kerja sering pulang malam. Ngakunya sih, di perusahaan sekarang kerjanya rodi. Sebagai istri yang baik, percaya saja. Karena memang, dia sekarang orang lapangan yang enggak punya patokan waktu kerja. Ternyata, eh dia pakai jurus kerja rodi itu tuh, buat ngelabui aku,” ungkap perempuan berkulit putih itu dengan nada kecewa. Makanya, jangan galak-galak sama suami Teh. “Aku enggak pernah galak. Suami juga sama, banyak ngalahnya malah di rumah,” akunya.

Jurus itu pun berlarut-larut digunakan Mail sejak pindah kerja setahun silam. Alasan klasik yang kerap dilontarkan Mail itu, sempat mengundang pertanyaan. Sampai suatu hari belang Mail terbongkar. Tuti yang penasaran, nekat menanyakan langsung ke kantor ketika Mail izin tidak pulang dengan alasan piket. Padahal, pengakuan pihak kantor, kalaupun kerja lapangan, di perusahaan tersebut jadwal kerjanya tersusun, tidak sampai malam. Kecuali pas jadwal piket. Mengetahui ada yang tidak beres, Tuti mulai mencari tahu kebohongan suaminya itu.

Salah satu karyawan perusahaan berceloteh dengan entengnya, kalau sebagian besar karyawan lapangan kerap menghilangkan jenuh, biasanya belok ke tempat hiburan malam. Mendengar celotehan itu, Tuti kaget dan sempat menganggap orang tersebut sekadar bercanda sehingga tidak langsung percaya. Namun, berawal dari celotehan itu, Tuti mulai mencari tahu dan ingin membuktikan bahwa alasannya kerja rodi selama ini, hanyalah tipu muslihat Mail untuk mengelabui.

“Memang aku sempat curiga. Soalnya, suami tuh kalau pulang malam, selain bau rokok menyengat, juga bau parfum cewek. Tapi, aku positif thinking saja. Takutnya, memang parfum punya karyawan cewek di kantornya,” ujarnya. Mana ada orang lapangan ada ceweknya Teh, hehehe kompor.

Diungkapkan Tuti, Mail tadinya kerja sebagai marketing properti. Entah alasan apa, Mail yang sudah sekian tahun bekerja mencari konsumen yang ingin membeli rumah itu dan sudah mendapat kepercayaan pimpinan perusahaan, tiba-tiba mengundurkan diri dengan alasan untuk pengembangan karir. Tak lama pasca pengunduran diri, Mail pindah kerja menjadi tenaga pengawas di sebuah perusahaan yang bergerak di sektor waralaba di Serang. Tuti hanya tenaga honorer di salah satu sekolah negeri.

Sampai suatu hari, Mail kembali mengaku kepada Tuti kalau dia hari itu bakal pulang larut malam. Kemungkinan bisa menginap karena dapat tugas tambahan dari pimpinan. Tuti yang sudah tahu jadwal pulang kerja suami mulai membuntuti perjalanan Mail sepulang kerja. Benar saja, sepulang kerja ternyata Mail mampir ke sebuah tempat hiburan malam. Tak berapa lama setelah Mail masuk ke tempat itu, Tuti merangsak masuk.

Perjuangan Tuti mencari kebenaran soal suaminya tidak sia-sia. Di lokasi itu lah, Mail kepergok sedang berpelukan dengan perempuan. Sontak, pemandangan itu memancing emosi Tuti yang kalap dan beringas. “Bagaimana enggak sakit Kang, di depan mata kepala sendiri, dia meluk-meluk cewek, nyanyi-nyanyi sambil mabok sama teman-temannya berpasangan,” kesalnya. Sabar ya Teh, namanya juga buaya.

Lebih parahnya lagi, Mail mengaku, sudah lama berpacaran dengan sang perempuan. Ow ow ow. Diminta penjelasan Tuti, Mail bukannya meminta maaf, malah berbalik menyalahkan sikap Tuti selama berumah tangga hingga dikaruniai dua anak. Kok bisa?

Diceritakan Tuti, tradisi malam pertama, mungkin hal terakhir yang paling berkesan bagi rumah tangga mereka. Keesokannya harinya, sudah lain cerita. Tuti mulai menunjukkan taringnya di hadapan Mail. Berbeda pada saat pacaran dulu, sikap Tuti begitu baiknya di hadapan Mail. Kini, Tuti malah menunjukkan sikap overprotektif. Maksudnya sebagai warning agar suami tidak berbuat macam-macam.

Tuti semakin bawel dan banyak mengatur suaminya, termasuk dalam hal pekerjaan. Tuti tak bosan memperingatkan Mail agar pulang kerja bisa lebih cepat dan minta untuk tidak langsung keluyuran. Ketika itu, Mail masih kerja di bidang marketing. Ke mana-mana atau pergi dengan siapa saja wajib lapor.

Lantaran cinta mati, Mail terpaksa mengikuti ritme rumah tangga yang diinginkan Tuti. Gerah dengan sikap posesif Tuti dan merasa ingin bebas dari belenggu rumah tangga, di belakang Tuti, nah mulai deh tuh Mail membuat strategi jitu untuk mengelabui Tuti. Mail memilih selingkuh, memanfaatkan profesinya yang kerja lapangan agar dapat membagi waktu.

“Aku memang galak, banyak ngatur, tapi bukan berarti enggak sayang. Sekarang malah kepercayaan yang aku berikan buat suami, malah dikhianati,” tukasnya. Iya, itu kan karena Tetehnya terlalu posesif. Lantaran itu, Mail ibarat duduk seperti kucing melompat seperti harimau. Di belakang Tuti, Mail mencuri-curi waktu untuk bermain api.

Hebatnya Mail, belangnya selama lima tahun berumah tangga tidak diketahui atau bahkan dicurigai Tuti. Hal itu lantaran sikap Mail yang apa adanya di rumah. Ponsel juga selalu tergeletak begitu saja. Ternyata telepon, SMS, atau pemberitahuan lainnya muncul di saat jam kerja saja, sesuai komitmen Mail dengan pasangan selingkuhannya. Setelah itu, semua pesan yang masuk pasti sudah dihapus oleh Mail. Untuk mengelabui Tuti, nama-nama yang tertera di kontak juga sudah disamarkan. Semua nomor kontak perempuan disamarkan dan diganti menjadi nama laki-laki. Seperti Nisa diganti Nurdin. Lalu, Desi diubah menjadi Deni.

“Sakit hati aku, Kang. Tadinya, percaya banget kan? Ternyata, dia tega main api di belakangku. Bahkan, ngaku sering gonta-ganti pasangan. Pas ditanya jawabnya enteng, alasannya karena capek diperbudak terus, enggak tahan dengan tekanan istri, merasa enggak dihargailah,” keluhnya. Tuti sempat terbawa emosi hingga membuatnya mengajukan gugatan cerai. Namun, alasan Mail yang cukup masuk akal membuat proses mediasi kasus gugatan cerai mereka berlarut-larut tak berujung.

Gugatan cerai dilayangkan Tuti lantaran sang suami selingkuh. Sebaliknya Mail menolak perceraian dengan berbagai alasan termasuk anak. Sikap yang ditunjukkan Mail mendapat dukungan pihak pengadilan. Setelah dipikir-pikir, Tuti akhirnya menerima untuk rujuk kembali. Tuti mulai menyadari kesalahannya sehingga mengurungkan niat bercerai.

Sejak itu, Tuti mengaku berubah menjadi istri yang patuh terhadap suami. Mail? Belum tahu tuh! “Aku anggap pengalaman ini sebagai pelajaran. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Mudah-mudahan sih dari kejadian ini juga, Kang Mail bisa menjadi imam yang baik dan tidak kerja rodi lagi,” harapnya. Amin. (Nizar S/Radar Banten)