Love Story: Nyari yang Lebih, Malah Makin Pedih

0
464 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

NIAT Tuti (28), nama samaran, mencari pengganti suami yang lebih baik, justru malah berakhir dengan penyesalan. Ya, itu akibat Tuti tidak menerima segala kekurangan sang mantan suami, sebut saja Rohim (30).

Tuti malu menerima kenyataan, kalau profesi mantan suaminya itu, hanyalah buruh serabutan. Kadang jadi kuli bangunan, kadang jadi tukang ojek, kadang juga jadi buruh tani, tergantung siapa yang mengajaknya mencari nafkah. Yang penting buat Rohim, apa yang didapatnya untuk menafkahi anak istri itu, bukan duit haram, tetapi betul-betul halal. Ow ow ow, harusnya Tuti bangga tuh.

“Iya sih. Makanya, sekarang aku nyesel sudah khianati Rohim,” sesalnya.

Namun, saat itu Tuti yang merasa kehidupannya serba kekurangan, selalu memandang Rohim sebelah mata. Dipikir Tuti, jika sampai berstatus istri Rohim selamanya maka kehidupan rumah tangganya pun tidak akan pernah ada kemajuan. Didorong rasa iri terhadap saudaranya yang lebih maju dengan kehidupan rumah tangganya, wanita berkulit sawo matang dan berparas manis itu pun, mulai mengurangi kadar sayangnya terhadap Rohim dan berniat mencari pengganti suami yang lebih baik. Astaga, harusnya doakan suami biar bisa dapat rezeki lebih baik, bukannya ganti suami. Yaelah.

“Ya, saat itu aku lagi kalut aja. Malu, udah tinggal di kontrakan, terus enggak punya apa-apa, cuma cukup buat makan doang,” akunya. Yang penting kan enggak punya utang, hidup juga tenteram Neng.

Padahal, Tuti juga menyadari jika Rohim merupakan sosok suami yang baik, perhatian, dan sayang keluarga. Rohim juga termasuk tipikal suami setia. Perilaku Rohim di rumah kontrakan, tidak ada sedikit pun yang menyimpang dan tidak ada yang patut dicurigai. Semuanya, normal-normal saja.

Terbukti, keseharian Rohim enggan menggunakan ponsel dan meninggalkan jauh yang namanya medsos. Rohim menilai pengaruh modernisasi dan teknologi bisa berpengaruh negatif. Rohim pun, memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Tuti untuk memegang ponsel. Khawatir, ponsel sesekali bisa dibutuhkan.

“Kang Rohim dari dulu, enggak punya HP dan enggak pernah mau megang HP. Dia beliin aku HP juga bukan buat gaya, memang kebutuhan,” terang Tuti. Masa sih? “Beneran Kang, mau gaya gimana? HP-nya juga asbun (asal bunyi-red) kok. Yang penting bisa menelepon, takut butuh sewaktu-waktu. HP jadul, suaranya juga masih poliponik,” jelasnya.

Selama berumah tangga dengan Rohim dan dikaruniai satu anak perempuan, Tuti mengaku tak punya dan tidak pernah terbeli apa-apa. Jangankan barang berharga, barang kebutuhan juga jarang bisa dibelikan Rohim. Seperti televisi saja, Tuti mengandalkan pemberian orangtua, itu juga TV yang masih berbentuk tabung yang sebagian gambarnya sudah buram seperti habis korslet terkena petir. Darrr. “Perabot di dapur juga alakadarnya, seperti panci, kuali, dan semacamnyalah, itu sudah pada bengkok semua,” keluhnya.

Merasa malu dengan kehidupan rumah tangganya di bawah garis kemiskinan, Tuti pun mulai membuka diri untuk lelaki lain. Bermaksud ingin mengubah nasib rumah tangganya menjadi lebih baik. Kisah perselingkuhan Tuti pun, berawal dari pertemuannya dengan lelaki selingkuhannya itu di pasar, saat sedang belanja.

Lelaki yang dimaksud, sebut saja Rohman. Awalnya, Tuti tak sengaja menjatuhkan dompet di pasar, meski isinya cuma recehan. Saat mau pulang dari pasar, ia dihampiri lelaki muda yang menemukan dompet, bermaksud untuk mengembalikannya.

Pertemuan itu membuat keduanya saling tebar pesona. Rohman sepertinya tertarik dengan Tuti, begitu pula sebaliknya. Rohman yang memang perangainya bak kucing garong, tak mau menyia-nyiakan santapan ikan yang sudah ada di depan mata. Mulai dari mengajak kenalan, berlanjut ke acara tukar-tukar nomor ponsel.

Sejak itu, komunikasi mereka pun berlanjut lebih mendalam. Suami Tuti yang memang sering pulang malam, ketika mendapat proyekan jadi kuli bangunan, membuat Tuti sangat leluasa menjalankan aksinya.

“Rohman sebetulnya dari wajah tidak lebih baik dari Kang Rohim. Cuma saya melihatnya, kehidupan dia sedikit lebih baik. Katanya, dia kerja ngiring orkes dangdutan, jadi pemain orgen dan sudah punya rumah sendiri, bujangan lagi,” katanya. Benar-benar matre ya.

Tuti tak sadar, kalau perilakunya itu adalah sebuah dosa besar yang menjadi awal petaka bagi rumah tangganya. Benar saja, Tuti termakan rayuan Rohman dan berniat menceraikan Rohim sehingga bisa menikah lagi.

Rohim tentu saja kaget dengan keputusan Tuti karena merasa tidak melakukan kesalahan selama menjadi suaminya. Rohim tak tahu, kalau di belakangnya ada udang di balik batu. Ya, Tuti akhirnya mengaku terang-terangan, kalau dia sudah capek dan lelah hidup miskin sehingga minta cerai ke Rohim. Mungkin merasa terhina, Rohim yang bertubuh jangkung itu, dengan berat hati menerima keputusan Tuti.

“Berat sebetulnya waktu itu, kasihan juga dengan Kang Rohim yang enggak punya salah apa-apa. Tapi, gimana lagi, saya terlanjur jatuh hati sama Rohman,” ujarnya.

Tuti pun merelakan anak ikut bapaknya, karena sadar kalau dia yang membuat kesalahan telah meninggalkan Rohim. Awalnya Tuti kegirangan, karena bisa menikahi Rohman yang kehidupannya lebih baik. Namun, lama-lama Tuti mulai merasa dirundung penyesalan. Karena, ternyata Rohman lelaki buaya yang doyan perempuan. Tak hanya itu, Rohman juga sifatnya temperamental, serta doyan mabuk judi.

“Iya, Rohman tak segan-segan kalau marah, main tampar saja. Beda sama Kang Rohim, jangankan nampar, marah juga belum pernah. Aku benar-benar nyesel,” akunya.

Lain dengan Tuti lain pula nasib Rohim saat ini. Kabarnya, Rohim sudah menikah lagi dengan bidan. Bahkan, saking sayangnya sang mertua, sampai memberikan bantuan modal usaha untuk Rohim. Kehidupan Rohim kini bersama anaknya jauh lebih baik. Entah Rohim mimpi apa, yang pasti melihat nasib Rohim telah menyadarkan Tuti, kalau Tuhan sudah menentukan jalannya.

“Iya, aku terlalu naif. Sekarang benar-benar nyesel. Pengin balik lagi ke Kang Rohim. Hidup sama Rohman malah bikin pedih,” ucapnya.

Tuh kan segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Kalau kita baik, Allah juga suatu saat akan memberikan kehidupan lebih baik sama umat-Nya. (Nizar S/Radar Banten)