Love Story: Nyelonong, Surti Jadi Janda ’Bodong’

0
1.369 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

KISAH Surti (38) dan Tejo (40), keduanya nama samaran, persis lagu Bang Toyib. Dalam ceritanya, Tejo menjadi sosok suami yang tak pernah pulang-pulang setelah meninggalkan istrinya.

Di saat Surti sedang merasa teramat sayang terhadap sang suami, Tejo malah menghilang begitu saja tanpa kejelasan. Padahal, usia pernikahan mereka belum genap tiga bulan. Ow ow ow. Lantaran itu, ibu beranak satu ini kembali dilanda kesepian setelah sekian lama menjadi jablay alias jarang dibelai. Surti sebelumnya lumayan lama menyandang status janda setelah suami pertamanya, sebelum Tejo, meninggal dunia.

“Ini nih, gara-gara terlalu nyelonong, akhirnya status saya sekarang enggak jelas. Janda bukan, istri orang juga bukan,” keluhnya. Maksud nyelonong tuh bagaimana Teh?

Maksudnya nyelenong, Surti terlalu buru-buru memutuskan menerima Tejo menjadi suaminya. Padahal, wanita berkulit sawo matang tersebut belum begitu lama mengenal sosok Tejo yang perawakannya tinggi dan agak tambun. Bahkan, perkenalan mereka terbilang sangat singkat.

Tejo yang mengaku sebagai tenaga lapangan di proyek, datang secara tiba-tiba. Mengetahui Surti yang berstatus jahe alias janda herang, mata Tejo langsung terbelalak. Tejo langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Tak lama, Tejo mendapatkan kepastian hubungannya ke jenjang yang lebih serius dengan Surti dan diamini pihak keluarga. Padahal, intensitas mereka bertemu dan berkomunikasi hanya satu minggu.

Namun, waktu sesingkat itu sepertinya cukup bagi Tejo untuk menunjukkan taringnya di hadapan Surti. Tejo yang mengaku duda yang ditinggal istri dan tanpa anak itu, langsung blak-blakan menyatakan keseriusannya untuk meminang Surti. Melihat penampilan Tejo yang terlihat mapan, hasrat Surti tak terbendung dan mau menerima lamarannya.

“Saya juga heran, kenapa waktu itu enggak bisa menolak. Padahal, belum lama kenal. Apa gara-gara terlalu lama jarang dibelai ya,” ujar Surti bertanya-tanya. Yaelah.

Surti memang tidak cantik, tapi cukup menarik perhatian para lelaki hidung belang. Mengenakan kerudung, tak mengurangi karismatik wanita bertubuh sedikit berisi tersebut.

Kondisi itu, membuat Tejo tak perlu bertanya-tanya untuk mengungkapkan ketertarikannya. Tejo pun langsung mengeluarkan jurus mautnya demi meluluhkan hati Surti. Layaknya, striker jitu pada permainan sepak bola, dengan satu dua sentuhan, Tejo mengoyak lubuk hati Surti yang paling dalam. Jebret!.

“Ya, saya mikirnya, ada lelaki yang serius sama janda, terus mapan, mau apalagi? Jadi, saya langsung terima deh,” akunya. Nah, ini masalahnya. Harusnya, jangan terlalu gampang percaya.

Singkat cerita, mereka menikah secara agama dengan prosesi sederhana. Tentu saja Tejo menjanjikan sesuatu dari pernikahannya. Katanya, pernikahan secara agama hanya untuk sementara, sebelum menuju prosesi sesungguhnya. Yakni, melangsungkan pernikahan dengan pesta meriah lengkap dengan hiburan musik dangdut dan kasidah yang dipandu biduan lokal. Pernikahan sederhana itu pula, dimaksudkan Tejo, ingin mengetahui sejauh mana kesetiaan Surti setelah menjadi istri sah Tejo kelak. Namun, apa yang dijanjikan Tejo tidak terlaksana.

“Lagian, mau diramaikan nikahnya, sayanya juga malu. Kita kan bukan pengantin baru,” celotehnya. Eeaa. Maksudnya pangantin tua, begitu?.

Singkat cerita, mereka pun melangsungkan prosesi akad dan membangun bahtera rumah tangga. Awal menjalani hubungan sebagai pasangan suami istri, Surti merasa nyaman. Terlebih, belaian Tejo yang mampu menunjukan keperkasaannya, cukup membuat Surti merasa terpuaskan. Tejo pun perhatiannya berlebih dan cukup royal. Mampu memenuhi segala kebutuhan Surti, meski kehidupannya sederhana dan tinggal di rumah kontrakan pasca menikah.

Tiga bulan berjalan, di saat Surti mulai merasa sayang terhadap sang suami, Tejo malah menghilang tanpa penjelasan. “Alasannya sih, dapat proyek di luar kota. Kang Tejo berangkat dan pamitan seperti biasa. Enggak ada yang aneh pokoknya,” terangnya.

Namun, dua bulan pasca keberangkatan, alhasil, Tejo tak lagi menunjukkan batang hidungnya ke kampung Surti di Pandeglang. Surti mulai waswas. Mencoba menghubungi sang suami yang hilang melalui ponselnya. Namun, upaya Surti tak menemui hasil. Soalnya, ponsel Tejo mendadak tidak aktif.

Surti sempat berpikir untuk menyusul Tejo, tapi tak pernah tahu di mana proyeknya karena tak pernah diberitahu. Akhirnya, Surti menyerah dan tak mau lagi memikirkan Tejo. Lagipula, tidak ada satu pun yang tahu kebaradaan Tejo dan mengenalnya.

Salahnya Surti, langsung percaya begitu saja terhadap Tejo, tanpa menyelidiki asal usul sang buaya. Beruntung Surti tidak sampai hamil. Hanya, Surti harus rela dengan status barunya sebagai janda ‘bodong’ alias janda tidak jelas.

“Ya, sekarang saya terima saja. Siapa tahu, tiba-tiba Kang Tejo pulang membawa sebongkah berlian,” harapnya. Yang sabar ya Teh. “Ya, doakan saja lah,” pintanya. (Nizar S/Radar Banten)