Love Story: Obral Janji, Padahal Habis Manis Sepah Dibuang

0
2.077 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

SUDAH jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin peribahasa ini yang cocok menggambarkan kisah asmara Cici (22), nama samaran. Maksud hati Cici datang ke ibu kota Banten untuk menenangkan hati sambil mengadu nasib setelah ditinggal nikah pacar yang tega mengkhianatinya, eh warga Lebak ini justru mengalami hal yang serupa untuk kali kedua.

Kali ini, Cici kembali ke kampung halamannya dengan menyandang status janda beranak satu. Nah loh, kenapa tuh? Ternyata, perempuan berwajah imut itu, tertipu rayuan maut sang buaya di Kota Serang, sebut saja Caca (25), seorang karyawan hotel di wilayah Serang.

Keduanya tidak sempat menjalani hubungan asmara, hanya teman biasa. Tapi, Caca yang menyadari Cici tidak mencintainya, punya cara jitu untuk mengakali Cici yang saat itu kebetulan sedang gegana (gelisah galau merana).

“Jujur Kang, pas aku terima dia untuk nikah, aku enggak sadar. Kayak kepelet begitu. Pokoknya, aku enggak bisa nolak waktu itu,” akunya.

Lantaran pernikahan mereka tidak didasari rasa cinta, rumah tangga Cici dan Caca pun hanya bertahan kurang dari tiga bulan. Cici mengaku sudah lama mengenal sosok Caca. Tadinya, Cici bekerja sebagai pengantar jasa cucian laundry untuk tamu hotel. Intensitas pertemuan mereka tentunya berlangsung di hotel di mana tempat Caca kerja.

Caca yang genit, kerap menggoda Cici setiap mengantarkan pakaian tamu ke hotel. Hingga akhirnya, keduanya saling kenal dan saling bertukar nomor ponsel. Seiring waktu, di ponsel mereka jadi sering curhat-curhatan.

Cici awalnya tidak tertarik dan hanya menganggap teman biasa. Cici juga tahan akan godaan Caca yang sekadar mempunyai modal speak alias pandai bicara.

“Belum lama kenal. Caca waktu itu sudah bilang suka. Tapi, aku bilang enggak bisa, lebih baik berteman saja. Aku masih trauma sama yang namanya lelaki,” ujar Cici.

Namun, Caca yang perangainya nakal terhadap perempuan, tak menyerah begitu saja demi mendapatkan madu dari Cici. Caca mengeluarkan berbagai macam cara jitu untuk memberikan kenyamanan terhadap wanita yang tersakiti seperti Cici.

Ceritanya, Caca waktu itu mengajak Cici ke rumah kakeknya supaya bisa menenangkan diri. Namun, apa yang terjadi, ketika Cici tiba di rumah kakeknya malah disuruh mandi kembang dan diberikan semacam doa-doa ajian. Tahu-tahu akhirnya, Cici malah diminta untuk menikahi Caca.

“Herannya, setelah mandi kembang waktu itu, aku enggak bisa menolak permintaan kakeknya buat menikah sama cucunya. Ya, aku jalani saja,” terang Cici.

Tak lama berselang, mereka pun menikah dengan prosesi akad sederhana. Yakni, menikah di penghulu hanya disaksikan kedua pihak keluarga mempelai.

Cici pun untuk sementara tinggal di rumah mertua di Serang. Awal-awal menikah, Caca banyak mengobral janji. Caca berjanji akan membahagiakan Cici, bisa membelikannya rumah, perhiasan, sampai kendaraan untuk mempercantik halaman rumahnya kelak. Nyatanya, semua omongan Caca hanya bualan. Caca berkata demikian hanya untuk menyenangkan Cici. Hal itu agar Cici bisa all out ketika melayani Caca di ranjang. Tentu saja, janji manis yang terucap di mulut Caca itu, seketika membuat Cici semakin bergairah dan bersemangat untuk hidup dan ingin lebih mengenal sosok Caca sehingga lebih mencintainya.

“Aku layani Caca dengan baik, layaknya istri sempurna di mata suami. Meskipun, waktu itu masih ada perasaan ragu,” ucapnya.

Namun, apa balasan Caca? Sebulan kemudian Caca malah mulai bersikap acuh terhadap Cici. Gaji pertama Caca sejak menikah, tak diberikan kepada Cici. Padahal, Cici menuruti permintaan Caca untuk keluar kerja dari perusahaan jasa laundry agar bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Caca mulai menelantarkan Cici dan bayi yang dikandungnya. Janji yang disampaikan tak lama setelah menikah, seolah hanya ingin mendapat servis gratis dari Cici. Astaga.

Caca memberikan nafkah semaunya dan jarang sekali pulang ke rumah. Alasannya, Caca banyak diberikan jadwal kerja lembur oleh perusahaan. Tentu saja, melihat perilaku dan mimik wajah suaminya yang meragukan, Cici tidak percaya begitu saja.

“Aku tanya soal gaji, katanya banyak potongan utangnya di kantor. Tahu aku hamil juga, bukannya senang, malah cuek, biasa saja,” keluhnya.

Namun, Cici masih sabar dan memaafkan sikap suaminya. Dua bulan berselang, sikap Caca tak kunjung berubah, Cici pun mulai geram. Puncaknya, Cici naik darah ketika Caca memperlihatkan gelagat menyembunyikan sesuatu di belakang Cici. Sering main ponsel sambil mesem-mesem di depan Cici. Kemudian, sering beli pakaian baru, sementara Cici tak pernah dibelikan. Alasannya, kalau Caca pakai baju baru, dapat dikasih dari kantor. Tentu saja, Cici semakin curiga. Apalagi, tak biasanya Caca pakai minyak wangi kalau main keluar rumah selain bekerja. “Pokoknya, sikap Caca berubah 180 derajat. Acuh dan sudah jarang melayani aku,” ungkapnya.

Setelah meminta penjelasan langsung dari Caca, Caca masih berkilah kalau dia sudah mempunyai gebetan baru. Ia juga mengelak kalau menikahi Cici hanya karena terbuai nafsu sesaat. Padahal kenyataannya, Caca memang sudah mulai jenuh dan bosan menjalani rumah tangganya dengan Cici. Terbukti, Caca tidak pernah menafkahi Cici sampai tiga bulan lamanya. Oh kejamnya.

Lantaran itu, Cici memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Caca. Meskipun, Cici harus memikul beban mengandung darah daging Caca. “Daripada aku menderita enggak pernah dikasih biaya, buat apa diteruskan?” ujarnya.

Cici pun mengajukan cerai ke pengadilan dengan alasan tidak pernah diberi nafkah oleh suami. Permintaan Cici itu, langsung dikabulkan pihak pengadilan. Cici kini tinggal di rumah pamannya di Pandeglang. Soalnya, ia tak kuat menanggung rasa malu ketika pulang ke orangtuanya di Lebak. Hal itu dipicu banyak tetangganya yang kerap mencibir melihat Cici yang pulang dengan perut buncit tanpa suami.

“Aku benar-benar enggak menyangka. Ternyata, aku cuma jadi bahan icip-icip doang. Habis manis sepah dibuang, sudah bosan Aku ditinggalkan,” tukasnya. Mana ada yang mau habis manis sepahnya ditelan. Ya sudah, sabar ya Mbak! Siapa tahu jodoh selanjutnya lebih baik dan lebih menyayangi Mbak! Amin. (Nizar S/Radar Banten)