Love Story: Pahitnya Nikah Muda

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Terkadang niat baik itu belum tentu akan berujung baik pula. Seperti yang dialami Yayan (26), bukan nama sebenarnya. Niat baiknya membangun sebuah keluarga dengan ikatan tali pernikahan yang sakral bersama Titin (23), bukan nama sebenarnya, harus berakhir dengan kepahitan.

“Bahkan lebih pahit dari empedu,” rintih Yayan.

Begini ceritanya. Kepahitan Yayan dalam berumah tangga bersumber pada ibu mertua yang tidak menyetujui hubungan yang ia jalin dengan putrinya, Titin. Sikap tidak setuju Tina, bukan nama sebenarnya, dengan hubungan asmara putrinya ini terlihat sejak Yayan dan Titin masih menjalin kasih dengan status hubungan berpacaran. Alhasil, masa pacaran pun harus dilalui dengan putus nyambung.

“Memang sejak masa pacaran ibunya sangat tidak setuju anaknya berhubungan dengan saya. Alasannya sih karena Titin sudah dijodohkan dengan anak temannya,” katanya.

Awal kepahitan Yayan dimulai sejak lima tahun lalu saat berpacaran dengan Titin yang masih duduk di bangku SMA. Hubungannya dengan Titin hanya berjalan sekira tiga bulan karena harus diputus paksa oleh Tina. Dengan alasan tidak jelas, terpaksa Yayan harus menelan pil pahit dalam kisah percintaannya di usia remaja.

Seminggu berlalu, ternyata Titin dijodohkan oleh ibunya dengan lelaki yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Dengan statusnya sebagai mahasiswa tingkat pertama, Yayan hanya pasrah menerima kenyataan perjodohan wanita yang dicintainya dan harus mengakhiri komunikasinya dengan Titin. Namun tiga bulan berlalu, Titin kembali menghubungi Yayan.

“Soalnya Titin udah diputusin sama cowok pilihan ibunya itu, akhirnya kita balikan lagi,” akunya.

Namun lagi-lagi hubungannya harus diputus paksa untuk kedua kalinya oleh Tina, yang masih tidak merestui hubungan keduanya. Sakit hati Yayan tak kunjung berlalu karena rumah keduanya hanya berjarak dua ratus meter, sehingga masih sering berpapasan.

Untuk menutup luka hati, Yayan memutuskan komunikasinya dengan Titin. Kondisi ini berjalan hingga tiga tahun berturut-turut. Setelah Yayan nyaman dengan kondisinya, Titin pun kembali menghubungi Yayan dan meminta balikan.

“Awalnya sih nggak mau karena takut sakit hati lagi. Tapi semakin hari luluh dengan sikap Titin yang sangat perhatian,” ucap Yayan.

Beruntungnya, keputusan kembali dengan Titin bertahan hingga berlanjut ke jenjang pernikahan. Tina yang sangat tidak setuju harus terpaksa menerima karena usaha menjodohkan putrinya dengan orang lain tidak pernah berhasil. Meski masih berstatus sebagai mahasiswa, Yayan akhirnya mengambil risiko menikahi Titin dan menjadi pasangan muda.

Namun sayang, usia pernikahannya yang baru berusia tiga bulan harus dilalui dengan hubungan tidak harmonis. “Gimana nggak sakit hati, seenaknya istri jalan dengan temannya. Meski hanya mengantar temannya kencan, tapi tetep sakit hati. Karena ia nggak izin sama saya,” tuturnya.

Perilaku Titin yang tidak mengenakkan ini berjalan hingga lima bulan. Parahnya lagi, Titin ternyata masih sering curhat dengan teman lelakinya lewat telepon. Keadaan rumah tangganya diperburuk dengan perilaku Titin yang tidak mau jujur dan masih seperti anak kecil. Keadaan ini terus memburuk hingga akhirnya berakhir dengan jalan perceraian.

Usut punya usut, semua masalah yang ada dalam rumah tangganya ini terjadi bukan tanpa sebab. Karena dari banyaknya orang pintar (dukun) yang ditemui Yayan semua hampir sama, jawabannya karena ulah dari Tina, ibu Titin yang tidak merestui pernikahannya. “Percaya nggak percaya, tapi emang kenyataannya seperti itu. Ternyata ibunya dalang dari semua masalah ini,” jelas Yayan.

Semenjak masa pacaran hingga masa perceraian ini, Tina sebagai mertua Yayan belum pernah satu kalipun berkunjung dan menyambangi besan, orangtua Yayan. Padahal jarak rumah masih terhitung ratusan meter. Dengan ini, Yayan pun harus menerima kenyataan bahwa tidak ada kesempatan lagi untuk bersatu dengan Titin. “Karena nggak ada itikad dan obrolan sedikitpun dari orangtua Titin untuk kembali berbesanan. Ya udah semuanya selesai,” tukasnya.

Kini Yayan fokus dengan penyembuhan diri dan batinnya, karena selain sakit hati, guna-guna dari sang mertua harus diobati dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Di usia mudanya, Yayan harus menelan dalam-dalam pahitnya rumah tangga singkat yang banyak dicampuri mertua. Tidak hanya batin dan fisik, perjalanan kuliahpun menjadi berantakan. “Ini menjadi pengalaman berharga dalam hidup saya,” tutupnya. (Wivy-Zetizen/Radar Banten)