Love Story: Perkasa Salah, Perasa Makin Parah

0
743 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

MIMI (34), nama samaran, harus menghadapi kenyataan pahit dalam hidup. Janda beranak satu ini, dua kali gagal berumah tangga. Mimi menggugat cerai suami pertama karena suka main kasar, meskipun di ranjang cukup perkasa.

Lain hal dengan suami kedua yang tak lain teman Mimi semasa SMA. Perangainya terlalu lebay dan tidak bisa memuaskan birahi Mimi. Yang ada Mimi sering sakit hati, karena jarang dibelai. Tersinggung sedikit, marah, membuat Mimi harus banyak mengalah. Lantaran itu, rumah tangga dengan suami kedua pun, terpaksa harus kandas. Untuk kali kedua, Mimi kini kembali menjadi janda.

“Punya suami serba salah. Dapat yang perkasa salah, yang perasa malah lebih parah. Jadi ‘Jahe’ lagi deh,” ucapnya. Apa tuh Jahe Mbak? “Jahe tuh janda herang?” jawabnya. Oh begitu.

Diceritakan Mimi, suami pertama adalah seorang anggota kepolisian, sebut saja Didi (35). Tipikal Didi sebetulnya romantis dan mau melakukan apa saja demi kepuasan istri. Sebaliknya, jika Didi tidak bisa dilayani istri dengan baik, terutama dalam urusan ranjang, Didi bisa mengeluarkan taringnya yang tajam.

Didi suka kasar memperlakukan Mimi ketika sedang marah. Bahkan tak sungkan melayangkan tamparan jika Mimi melawan. Namun demikian, di balik itu Mimi tidak memungkiri jika Didi termasuk sosok lelaki bertanggung jawab dan perhatian. Hanya saja, seringnya Mimi diperlakukan kasar ketika di atas ranjang membuat Mimi lama-lama tidak tahan.

“Mungkin saking perkasanya, makanya Mas Didi itu enggak ada menyerahnya. Di ranjang bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Sayanya yang capek. Kalau enggak diladeni, Mas Didi suka bicara kasar,” keluhnya.

Mimi tidak memungkiri jika dirinya mampu dipuaskan Didi soal hubungan suami istri. Hanya saja, lama-lama Mimi tak tahan juga sering diperlakukan kasar. Soalnya, terkadang Didi kalau sedang bercinta suka sambil menampar bagian tubuh Mimi dengan keras saking semangatnya. Sudah kayak pacuan kuda saja. Perilaku buruk Didi kerap membuat tubuh Mimi merah-merah hingga memar.

“Pas adegan sih enggak terasa, sudahnya itu, perih,” akunya.

Mimi bertahan mendapat perlakukan kasar Didi karena melihat anak. Apalagi, Mimi hanya berstatus ibu rumah tangga. Kariernya sebagai sales promotion girl (SPG) sebuah produk di Serang dulu, ditinggalkan seiring Didi yang memintanya berhenti dan fokus ke keluarga.

Lima tahun berlalu, Mimi akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Didi. Hal itu dipicu sikap Didi yang makin kasar beradegan kamar setelah sering tugas luar. Tak jarang juga, Didi suka mengeluarkan kata-kata kasar enggak karuan, memperlakukan Mimi layaknya wanita nakal yang sengaja melayani karena dibayar.

“Makanya, setelah dipikir panjang, lebih baik cerai. Saya enggak mau dianggap wanita nakal. Diminta gaya macam-macam. Pokoknya, sikap Mas Didi sudah bukan kayak ke istri deh,” ungkapnya.

Lima tahun membangun bahtera rumah tangga dengan Didi, akhirnya Mimi resmi bercerai dan berubah status menjadi janda anak satu. Terhimpit ekonomi karena sudah tidak ada suami, Mimi kembali terjun bekerja menjadi SPG. Setahun menjanda, tak sengaja Mimi bertemu dengan teman SMA, sebut saja Cucu (34), saat bekerja mempromosikan produknya di sebuah mall. Pertama bertemu, keduanya langsung akrab. Maklum, Mimi pernah kepincut dengan wajah Cucu yang lumayan ganteng. Meskipun, Mimi juga sudah tahu kalau perangai Cucu sedikit lebay. Dipikir Mimi, gaya flamboyan Cucu akan berubah seiring usianya yang menginjak dewasa.

“Pas pertama kali ketemu, saya berdebar-debar. Soalnya pernah suka dan Cucu juga merespons. Lama kita mengobrol saat itu, kayaknya ada kecocokan. Apalagi Cucu sudah kepala tiga juga dan statusnya masih bujangan. Kebetulan,” ujarnya. Kebetulan apanya Mbak? “Ya, saya kan single, dia juga single, cocok dong,” ucapnya.

Sejak itu, mereka jadi sering berkomunikasi. Bahkan, keduanya sempat berinisiatif mengadakan acara reuni dengan teman SMA mereka. Pas acara reuni, keduanya menjadi bahan perbincangan hangat para alumni yang mendorong mereka untuk melanjutkan hubungan lebih dalam. Tentu saja, dorongan rekan-rekan seperjuangannya semasa SMA diamini keduanya. Mimi dan Cucu pun akhirnya jadian.

Merasa tak tahan karena lama tidak dibelai sang jantan, Mimi pun memulai perbincangan dengan Cucu untuk mengarah ke hubungan yang lebih serius. Tujuan Mimi pun diamini Cucu yang tak lama kemudian langsung melamar Mimi ke rumahnya. Cucu pun menerima apa adanya Mimi dan siap menjadi pendamping janda.

“Senanglah, pria impian bisa jadi suami. Tapi, itu awalnya,” katanya.

Selanjutnya, diungkapkan Mimi, malah rumah tangga mereka terasa kurang menggembirakan. Malam pertama sih oke saja. Cucu masih mau meladeni Mimi sampai puas. Namun, lama-lama sikap Cucu terkesan jenuh melayani birahi sang istri. Cucu jadi sering ogah-ogahan, ke anak tiri juga mulai kurang memerhatikan. Mimi awalnya berpikir kalau Cucu punya perempuan lain. Namun, semakin ke sini Mimi semakin paham dengan sifat Cucu yang feminin. Teman Cucu juga lebih banyak perempuan.

“Saya dengan Mas Cucu enggak akan punya anak, berhubungan intim saja jarang,” ujarnya. “Iya kita jarang berhubungan. Soalnya, Mas Cucu sering ogah-ogahan. Pernah sebulan kita enggak berhubungan suami istri. Diajak malah sensi, ngambek begitu, orangnya perasa, risi kan jadinya,” katanya.

Mimi tidak pernah menaruh curiga. Hanya saja, Mimi serasa tidak memiliki suami yang bisa memberikannya nafkah lahir dan batin. Karena sejak menikah, nafkah Cucu juga tidak pernah diberikan kepada Mimi dengan alasan usahanya masih buntung, alias belum punya untung. Terpaksa, untuk pengeluaran sehari-hari menggunakan uang dari hasil Mimi bekerja sebagai SPG.

Selang tiga bulan, Mimi akhirnya gerah dan memutuskan cerai dengan Cucu dengan alasan suaminya itu tidak normal, karena tidak memberikan nafkah lahir dan batin. Gugatan cerai Mimi pun dikabulkan di pengadilan agama.

“Lagian, di ranjang juga Mas Cucu enggak banyak gerak. Banyak diamnya, kayak enggak nafsu. Saya jadi curiga dia sukanya bukan sama perempuan. Soalnya, sering membicarakan laki-laki dan memuji-muji begitu,” jelasnya.

Maksud Mbak LGBT? “Mungkin. Lihat saja gayanya, rada feminin. Senangnya juga menonton sinetron, bukannya menonton bola kayak laki-laki lain. Ya, mendingan menjanda lagi saja,” pungkasnya. Saya doain Mbak, jodoh ketiganya dapat yang lebih baik. Amin. (Nizar S/Radar Banten)