Love Story: Pilih-pilih Dapat yang Lebih

0
491

KALAU sudah ada calon istri atau suami yang baik di depan mata, sebaiknya jangan membuang kesempatan. Kehidupan pahit dan getir yang dialami Budi (37), nama samaran, saat ini, akibat dulunya menjadi sesosok pria pemilih. Maklum, dulunya Budi merasa gagah dan ganteng, status ekonominya juga termasuk kategori kalangan menengah ke atas. Kondisi itu, sempat membuatnya jemawa, merasa bisa mendapatkan semua yang dia mau.

Bak seorang raja, dulu Budi mau apa saja tinggal tunjuk sana tunjuk sini dengan sedikit kata. Namun, seiring waktu, nasib tampaknya berkata lain. Nasib baik tidak berpihak pada Budi dan keluarganya pasca ditinggalkan bapaknya yang meninggal karena sakit. Ekonomi pria bertubuh kekar berwajah hitam manis itu mulai terpuruk.

“Bapak saya tuh tadinya pengusaha sukses, meskipun hanya dagang di pasar. Tapi, dari nafkahnya itu, saya sama saudara termasuk ibu saya, bisa hidup bermewah-mewahan. Tiap hari kerjaannya foya-foya,” akunya. Dasar ya, anak manja.

Budi adalah anak kedua dari lima bersaudara. Dari nafkah bapaknya itu, mereka bisa tinggal di rumah mewah dan bertingkat. Semua saudara, termasuk Budi, masing-masing difasilitasi kendaraan roda dua dan empat. Uang jajan yang diberikan orangtua juga lebih dari cukup. Lantaran itu, dulu Budi menganggap enteng dengan status anak kuliahnya. Seolah hanya formalitas semata sehingga Budi tak pernah bersungguh-sungguh mengikuti proses pembelajaran.

Sampai akhirnya, di pertengahan semester dia terkena drop out (DO) dari kampus. Namun, situasi itu tidak membuat Budi panik yang memang hidupnya sudah ketergantungan kepada orangtua. Sejak kena DO, ulah Budi semakin menjadi-jadi. Budi jadi sering main ke klub malam, mabuk-mabukan, sampai doyan main perempuan dari uang hasil keringat bapaknya. Menyadari sikap dan perilaku Budi yang mulai tidak karuan, orangtuanya menjodohkannya dengan seorang gadis yang tak lain anak dari teman seprofesi orangtuanya. Bahkan, usaha yang dijalankan teman orangtuanya lebih baik dan lebih terhormat.

Anak yang mau dijodohkan dengan Budi, sebut saja Siska, selain anaknya cantik, orangnya juga ramah, berpenampilan menarik, berpendidikan, yang pasti anak orang berada. Tapi, tampilan Siska yang mendekati sempurna, tak sedikit pun mendapat lirikan dari Budi. Padahal, Siska terang-terangan mau dijodohkan dengan Budi yang dinilai memiliki wajah mirip artis. “Kesan pertama sih, dia (Siska-red) langsung suka. Katanya, saya mirip artis yang dia suka gitu,” akunya. Siapa memangnya Kang artisnya? “Itu loh, bintang Hollywood, Tom Cruise, cuma versi kulit coklatnya,” ungkapnya bangga. Tong kerupuk kali.

Secara fisik, Budi kelihatan lah kalau dulu orangnya ganteng, hidung mancung, bertubuh ideal, hitam manis, penampilannya juga cool, termasuk sosok idaman wanita lah. Tapi, sekarang agak sedikit lusuh. Bukan hanya menolak perjodohan, Budi bahkan tak memberikan kesempatan untuk mengenal dulu lebih jauh soal Siska. Saat itu, Siska tak langsung menyerah. Siska terus memaksa keluarganya agar tetap dijodohkan dengan Budi. Alasannya, sudah terlanjur kesengsem dengan Budi dan merasa Budi adalah sosok pria yang dia cari selama ini.

Pengakuan Siska, dia sudah mengenal Budi sejak masih di perkuliahan yang sama di Serang. Hanya, Budi tidak pernah meliriknya sedikit pun. Siska tak menyangka kalau perjodohannya adalah dengan Budi. Terbayang kan betapa senangnya Siska. Sayangnya, harapan Siska sepertinya bertepuk sebelah tangan karena Budi akhirnya menolak mentah-mentah perjodohan tersebut dengan alasan sudah memiliki calon yang jauh lebih cantik. Padahal, sama nakalnya dengan Budi. Perempuan yang dimaksud Budi adalah teman sepermainannya, sama-sama anak orang kaya yang suka main ke klub malam.

“Cantiknya sih sama. Cuma, saya enggak suka dijodoh-jodohkan. Pikiran saya dulu kerdil, merasa masih banyak cewek yang antre dapetkan cinta saya,” ujarnya. Widih sombongnya. Karma loh!

Beberapa perempuan pilihan orangtua terus ditawarkan kepada Budi, mulai dari anak kerabat, anak tetangga, sampai anak pelanggan yang sederajat, tapi selalu berakhir dengan penolakan dari Budi. Pokoknya, Budi menjadi orang yang sangat pemilih. Seiring waktu, penyakit yang sudah lama diderita bapaknya Budi, yakni asam urat dan reumatik kambuh. Hanya berselang sebulan setelah penyakit kambuh, nyawa bapaknya tidak tertolong setelah sempat dirawat di rumah sakit.

Pasca meninggal bapaknya itu lah nasib baik tidak berpihak kepada Budi. Situasi itu memaksa Budi dan keempat saudaranya harus jatuh bangun menggantikan posisi bapaknya meneruskan usaha berjualan di pasar.

Karena terbiasa dengan hidup bak orang gedongan, apa-apa selalu dikerjakan pembantu, membuat Budi dan keluarganya tak bisa meneruskan usaha bapaknya. Sampai akhirnya, usaha warisan keluarga itu gulung tikar. Satu per satu barang yang ada di rumah dijual untuk menopang kehidupan mewah yang belum bisa Budi dan keluarganya tinggalkan. Ujung-ujungnya, semua perabotan berharga, kendaraan, sampai rumah tempat tinggal mereka pun dijual.

“Benar-benar hancur kehidupan keluarga saya saat itu. Untung, tiga saudara saya sudah menikah dan memilih tinggal di rumah mertua. Ibu saya tinggal bersama mertua di rumah berdinding bilik bambu dan beralaskan tanah,” sesalnya.

Tinggal Budi sendiri luntang-lantung tanpa arah tujuan dengan status pengangguran. Hidup Budi mulai berantakan. Mencoba meminta bantuan teman juga sudah tidak ada yang menganggapnya. Termasuk, pacarnya juga meninggalkan Budi setelah tahu kalau keluarga Budi dalam kondisi terpuruk. Situasi itu, bukan hanya tidak bisa memilih mana yang akan menjadi pendamping hidup, masih ada yang mau saja Budi sepertinya akan merasa bersyukur.

Singkat cerita, di tengah keterpurukan Budi yang kini rela menjalankan profesinya sebagai tukang ojek setoran milik teman, bertemulah Budi dengan perempuan malam bernama Uci. Budi menjadi ojek langganannya Uci yang sehari-harinya bekerja melayani pria hidung belang di tempat karaoke. Merasa ada kenyamanan satu sama lain karena hampir setiap malam intens bertemu, mereka pun meresmikan hubungannya. Budi menikahi Uci secara agama. Keinginannya menikah itu dipicu kekhawatiran hubungannya bakal dipermasalahkan warga karena dianggap kumpul kebo.

Budi yang tadinya menumpang tinggal di rumah teman, akhirnya ikut tinggal bersama Uci di kontrakan. Namun, sudah dua tahun berlalu, rumah tangga Budi dan Uci tak kunjung dikaruniai anak. Kehidupannya pun pas-pasan, hanya cukup untuk makan sehari-hari dari hasil pekerjaan istri yang dinilainya tidak halal. Bahkan, bisa dibilang kondisi ekonomi Budi kian terpuruk, diperparah dengan perselisihan yang kerap terjadi antara Budi dengan istrinya.

Budi semakin merasakan penyesalan tatkala tak sengaja sempat bertemu dengan Siska yang dulu sempat mau dijodohkan dengannya. “Dia sekarang jadi istri pengusaha, Siska kabarnya sudah jadi dokter. Asli Kang, saya benar-benar menyesal, kenapa dulu enggak menerima Siska,” akunya meratapi penyesalan. Nah, itulah akibat pilih-pilih. “Iya Kang, benar tuh. Ya, sekarang terima nasib saja,” tukasnya. (Nizar S/Radar Banten)