Love Story: Poligami kok Nikahi Janda Tua?

0
1097
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

PERILAKU Ajo (36), bukan nama sebenarnya, tidak patut ditiru. Sang istri, sebut saja Cicih (34), menyebut suaminya itu benar-benar tidak tahu diuntung. Bagaimana tidak, sudah berstatus pengangguran, hidup menumpang di rumah mertua, makan pun gratis dari mertua, pria yang mengaku politikus tak jelas itu malah nekat poligami. Edan.

Beruntung, Ajo memiliki istri sesabar Cicih yang mau menerima suaminya untuk memiliki istri lagi. Yang membuat wanita berjilbab dan berkulit putih itu heran, Ajo tega mempoligami Cicih dengan janda tua, sebut saja Enok. “Kalau dapat gadis cantik muda sih enggak heran. Aku sempat heran, kok dia nikah lagi sama wanita yang sudah tua?” ungkap Cicih bertanya-tanya. Kenapa? Pasti ada alasannya dong. Kita simak ceritanya yuk?

Diceritakan Cicih, awal kehidupan rumah tangga mereka bahagia. Buah hasil pernikahan dengan Ajo, Cicih sudah dikaruniai dua anak perempuan. Sebetulnya bagi Cicih, tidak ada sedikit pun yang bisa dibanggakan dari Ajo. Selain pekerjaan tidak jelas, rupa pas-pasan, Ajo juga berasal dari kalangan keluarga biasa saja. Kelebihan Ajo hanya pintar bicara dan mengaji Alquran. Maklum, Ajo di kampungnya di Lebak merupakan lulusan pesantren.

Sebelum Ajo mengenal era modernisasi setelah hijrah ke Kota Serang menumpang tinggal bersama saudara, Ajo tidak banyak bertingkah dan terkesan baik, malah terbilang alim. “Setiap hari rutin datang ke masjid,” terangnya. Ke masjid, belum tentu mau salat Teh, siapa tahu mau mencuri kotak amal. Hehehe. “Iss jangan suuzon begitu Kang. Enggak lah, salatnya memang di masjid, benaran rajin,” sanggahnya. Iya percaya.

Sikap itu cukup menarik perhatian Cicih yang setiap hari melihat Ajo bolak-balik melewati rumahnya ketika ke masjid. Meski demikian, Cicih tidak merasa simpatik atau tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Hal itu dipicu lantaran Cicih sudah mempunyai pacar, sebut saja Jeki. Apalagi, sosok Jeki jauh lebih baik dibandingkan Ajo. Selain ganteng, Jeki juga tak kalah soleh ketimbang Ajo. Sudah itu, orangnya juga kaya, pekerjaannya mapan, pokoknya sempurna.

Namun, tampaknya siasat Ajo untuk mendapatkan hati Cicih lebih jitu. Ajo memanfaatkan kedekatannya dengan ayahnya Cicih yang juga rutin salat di masjid. Dari situlah, ayah Cicih termakan rayuan maut Ajo yang memang dari awal bertemu sudah mengincar Cicih yang memang memiliki wajah aduhai serta bodinya bohai, selain rajin ibadah tentunya.

Cicih tidak menyangka jika di balik kealiman Ajo itu, ternyata Ajo pandai bicara dan merangkai kata-kata untuk memengaruhi seseorang. Bakat itu didapat Ajo yang ternyata aktif berkecimpung di dunia politik. “Jadi, sikap alimnya itu cuma topeng belaka. Aslinya jago berpolitik, termasuk mempolitisi hati aku,” ucapnya. Eeaaa.

Setelah niatnya meminang Cicih mendapat respons baik dari orangtua, Ajo pun mulai memainkan aksinya. Sampai akhirnya, keduanya dijodohkan. Tentunya, desakan dari orangtua Cicih itu dipicu banyaknya janji-janji politik Ajo yang siap membahagiakan Cicih, sang anak sulung.

Cicih sendiri termasuk anak penurut sehingga tidak bisa menolak permintaan orangtuanya, meskipun tidak dilandasi rasa cinta. Karena, cintanya hanya untuk Jeki. Singkat cerita, mereka pun menikah.

Dari sejak pernikahan pun, Cicih sudah menaruh curiga kalau dalam diri Ajo ada yang tidak beres. Terbukti, dari mulai biaya pesta pernikahan, mas kawin, seserahan, sampai untuk membayar jasa petugas kantor urusan agama (KUA), Ajo tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Ia malah minta semua biaya ditalangi dulu oleh orangtuanya. Alasannya, menunggu pencairan dana proyeknya yang belum dibayar pihak perusahaan. Sementara, dia ingin pernikahannya tetap berlanjut dengan dalih akan mencalonkan diri sebagai anggota Dewan.

Pengakuan Ajo, dana proyek yang akan diterimanya mencapai ratusan juta. Tentunya, iming-iming Ajo itu mampu menghipnotis orangtua Cicih sampai menyanggupi semua permintaan Ajo. “Lagipula, melihat gelagat Ajo, cukup meyakinkan. Dia banyak kenal orang-orang politik, jadinya orangtua percaya. Capek deh,” keluhnya. Sabar ya mbak.

Namun, Cicih mencoba bersabar dan menjalani status istri yang baik bagi Ajo. Meskipun selama berumah tangga dengan Ajo, Cicih merasa teraniaya. Sikap Ajo berubah drastis sejak menikah. Selain perilakunya yang kerap berbuat kasar dan tak sungkan mengeluarkan kata-kata kasar, sifat alim Ajo juga tiba-tiba menghilang.

Ajo sudah tidak pernah lagi terlihat menunaikan salat lima waktu apalagi mengaji di rumah. Tingkah Ajo malah semakin garang dan liar. Janjinya dulu untuk mengganti biaya pernikahan juga sepertinya sengaja dilupakan. “Bagaimana mau ganti, setiap hari kerjaan Ajo cuma mondar-mandir saja, tapi enggak pernah bawa duit. Bilangnya saja mau nyalon jadi Dewan,” kesalnya. Dewan Keluarga Mesjid mungkin Teh alias DKM. Namun, Cicih mencoba bertahan karena melihat anak.

Sampai akhirnya, hidung belang Ajo ditunjukkan juga dengan menikahi Enok, si janda tua yang ekonominya berkecukupan sejak ditinggal mati suaminya. Ajo menikahi Enok tanpa sepengatahuan Cicih. Astaga. Tentu saja, kenyataan itu sempat membuat Cicih kaget bercampur sedih, bahkan sempat putus asa. Namun, nasihat dari orangtuanya untuk bersabar dan menerima cobaan itu membuat Cicih bertahan dan mengurungkan niatnya untuk bercerai.

Alasan Ajo menikah lagi dengan wanita yang kondisi ekonominya lebih mapan, untuk memuluskan karirnya menjadi anggota Dewan. Dengan menikahi Enok, menurut Ajo, bisa membantu pembiayaan karier politiknya. Namun, karier politik yang diagul-agulkan Ajo, sampai saat ini tak pernah dirasakan Cicih. Kini, Cicih hanya bisa meratapi di bawah bayang-bayang sang janda. Sejak poligami, Ajo sudah jarang di rumah. Sampai Cicih berpikir, kalau alasan Ajo itu hanya akal-akalan saja.

“Sebetulnya, aku lagi galau nih sama suami. Tapi, anak-anak bagaimana? Apalagi, usiaku sudah enggak muda lagi. Ya, sekarang paling hanya bisa sabar,” keluhnya. Sabar ya Teh, mungkin ini hanya ujian. Mudah-mudahan, ke depan Kang Ajo dapat hidayah. Amin. (Nizar S/Radar Banten)