Love Story: Punya Istri Biduan, Mana Tahan

0
7.482 views
Love Story
Love Story

‘SELAMAT siang semuanya… digoyang Mang!’ Demikian sedikit pekikan Noni (34), nama samaran, sang biduan dangdut ketika menyapa para penontonnya. Penonton mulai berhamburan merengsek ke depan. Maklum, cara berpakaian Noni sering kali tampil seronok ketika beraksi di panggung menghibur para tamu yang datang, baik di acara hiburan biasa maupun di hajatan. Maksudnya, Noni ingin menghipnotis penonton agar tertarik ketika tubuhnya yang seksi dipamerkan yang diharapkan bisa dapat saweran lebih tinggi. Selain itu, Noni memanfaatkan suara merdunya ketika manggung dari kampung ke kampung mengisi acara hajatan.

“Begitulah cara istri saya cari duit. Istri saya profesinya biduan. Kalau orang lain, mana bisa tahan,” ujar Boni (35), juga nama samaran, yang menceritakan profesi istrinya, Noni. Keduanya warga Pandeglang.

Boni sering kali menemani setiap Noni beraksi. Di mana ada Noni, di situ ada Boni. Terang saja, profesi Boni sebagai pemain gendang orkes dangdut yang sering menyewa Noni mengisi acara. Ketika pentas, Noni pasti ditanya MC dengan nada menggoda. Belum lagi raja sawer mengerumuni mendampingi Noni bernyanyi. Tentu kondisi itu membuat Boni dibakar api cemburu. Apalagi, Noni setiap menjalankan aksinya sering merayu penonton agar mau mengeluarkan pundi-pundi. Semisal “Mau lagu apa sayang, jangan lupa nyawer, ya!’ sahut Noni di atas panggung dengan desahan suaranya yang menggoda sambil mencolek dagu sang MC yang langsung disambut sorakan penonton.

Suasana semakin panas, ketika Noni membawakan lagu hot seperti yang dibawakan artis Juwita Bahar berjudul ‘Buka Dikit Joss’, ayey. Penonton pun semakin bersemangat. Seiring dengan teriakan, musik mulai didentumkan. Noni pun mulai bergoyang bak ular mengikuti alunan musik.

“Saya bisa ngebayangin apa yang ada di pikiran lelaki pas lihat istri goyang, pasti ngeres. Tapi, ya itulah risiko punya istri biduan,” ketusnya.

Setiap melihat pemandangan seperti itu, Boni hanya bisa tersenyum dan menikmati alunan musik yang didendangkan dengan hentakan-hentakan gendang dari kulit lembu yang ditabuhnya. Apalagi, ketika para pria di depannya merogoh kocek, mengeluarkan uang Rp2 ribuan sampai Rp50 ribuan untuk menyawer Noni sambil pegang-pegang. Boni mengendalikan emosinya dengan pura-pura tutup mata.

Belum lagi, ketika melihat Noni harus rela membungkuk demi mengambil uang saweran yang disodorkan penonton di bawah panggung karena posisi panggung cukup tinggi. Tentu saja, aurat Noni menjadi tontonan di balik gaun merah yang dihiasi renda pada bagian dadanya. Bahkan, tak jarang Boni melihat raja sawer nakal yang mencoba meraba-raba tubuh Noni.

“Ya, mau bagaimana lagi, tuntutan ekonomi. Kalau enggak begitu, kita mana bisa makan sama kasih anak jajan?” ucapnya.

Urusan ranjang bagaimana Kang? “Oh, kalau itu, istri bukan cuma jago goyang di panggung saja loh, di kasur juga. Puas deh pokoknya. Makanya, kalau sudah pentas, bawaannya suka pengin cepet pulang,” ujarnya.

Tuntutan profesi itu, sudah menjadi bagian dari komitmen keduanya sebelum memutuskan berumah tangga. Jadi, Boni cukup dengan mengelus dada dan istigfar setiap melihat Noni beraksi.

Akan tetapi, Boni mengaku beruntung bisa mendapatkan hati Noni yang memang memiliki paras cantik, menarik, dan seksi. Apalagi, Noni diketahui menjadi rebutan kaum lelaki sejak masih sekolah. Situasi itu membuat Boni kepincut hingga menerima segala kekurangan Noni, terutama profesi biduan yang mengikuti jejak ibunya. Hingga dikaruniai dua anak, Boni pun kini menjadi terbiasa melihat pemandangan tak lazim yang diperlihatkan Noni.

Perjuangan Boni mendapatkan hati Noni terbilang pelik. Boni tak kuasa manahan karisma Noni yang begitu dahsyat. Penampilan Noni selalu membuat lelaki terpikat. Seringnya komunikasi karena sering tampil satu panggung, membuat Boni nyaman dan tak henti memikirkan Noni. Bahkan, sampai kebawa mimpi hingga akhirnya Boni merasakan jatuh cinta.

“Saya langsung jatuh cinta sejak pertama ketemu. Dapat Noni tuh anugerah. Saya kan biasa saja,” ujarnya.

Karakter Noni yang humoris, mempunyai daya tarik tersendiri. Suaranya yang merdu membuat siapa pun bisa terpesona. Pertemuan pertama mereka terjadi pada 2002 lalu. Ketika itu, Boni pertama kali gabung menjadi penabuh gendang di orkes dangdut. Tadinya, Boni hanya pekerja serabutan. Kadang jadi kenek bangunan di proyek, kadang juga jual jasa angkut-angkut barang dagangan di pasar. Kehidupan Boni tak jauh dengan orangtuanya yang tergolong ekonomi sulit, profesi orangtua Boni hanya petani di kebun.

Oleh karenanya, Boni memutuskan untuk belajar gendang lewat temannya yang terus mendorongnya terlibat menjadi pengiring orkes hingga dijadikannya profesi sampai sekarang. “Ya, lumayanlah kalau ada job. Kadang, kalau ada job, sekali manggung dapatlah Rp150 ribu mah. Itu belum bagi-bagi jatah saweran,” terangnya.

Sementara itu, Noni berasal dari keluarga lumayan berada, tidak terlalu kesulitan amat dalam hal ekonomi. Pucuk dicinta ulam tiba, pandangan pertama begitu menggoda ketika melihat Noni yang tak membatasi pergaulan dengan pemain orkesnya. Noni orangnya low profile sehingga semakin memotivasi Boni untuk mendapatkan Noni. “Pas kebetulan dia baru diputuskan pacarnya, saya masuk. Tadinya, saya cuma dijadikan tempat curhat doang. Eh, lama-lama nyambung, jadian deh,” jelasnya.

Namun, berpacaran dengan Noni, Boni harus lebih paham dengan profesinya. Tanpa mengulur waktu, setelah dua tahun berpacaran, tepatnya 2004 Boni melamar Noni dan kini menjadi istrinya hingga dikaruniai dua anak. Walaupun hidup pas-pasan dan tinggal di sebuah kontrakan, Boni dan Noni serta kedua anaknya merasakan kebahagiaan.

“Kalau saya boleh memilih, lebih baik istri di rumah mengasuh anak sama melayani suami saja, saya yang cari duit. Istri juga penginnya begitu. Siapa sih yang mau istri dipegang-pegang orang? Karena kekurangan, ya sekarang jalani saja dulu,” tandasnya. Yang sabar ya, Mas. Kalau ada niat baik, pasti ada jalan. Amin. (Nizar S/Radar Banten)