Love Story: Saling Mengerti Kekurangan Pasangan

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Pasangan suami istri idealnya saling menghormati kekurangan pasangan. Bila ada yang dinilai telah mengganggu keharmonisan rumah tangga, maka langsung dikomunikasikan dengan baik.

Contoh kasus pentingnya menghormati kekurangan lawan pasangan terjadi di Kabupaten Serang, pertengahan 2013 lalu. Ada kasus gagal cerai yang cukup unik, ini dialami Hendrik (68), nama samaran. “Wah, kalau saya cerita, pasti kamu akan tertawa,” kata Hendrik.

Kakek dengan karakter ceria ini mengaku, mendapatkan hidayah dari kasus gagal cerainya pada tiga tahun lalu. Di sisa usianya yang sudah senja, ia kembali menemukan arti pentingnya menghargai dan menghormati istri. “Namanya orang sudah tua, lupa ini dan itu. Termasuk lupa untuk menghormati istri itu penting. Juga mengerti akan kekurangan-kekurangannya,” tutur Hendrik.

Lalu apa yang terjadi sebenarnya? Begini ceritanya. Ini dimulai ketika juragan sawah dan kebun melinjo ini tergoda untuk nongkrong dengan tetangga. Bukan hanya mengobrol, namun kadang kala mereka pun sering bermain judi kartu. “Saya sempat bosan, tidak punya kegiatan apa-apa. Makanya, saya mulai sering nongkrong dengan tetangga sebelah,” jelasnya.

Sering nongkrong membuat Hendrik mulai kebablasan. Ia pun ikut-ikutan main judi hingga larut malam. Kadang kala dia juga ikut minum-minuman keras. Ini membuat istrinya, sebut saja Inu (65), sering marah besar. “Kalau saya pulang bau alkohol pasti Inu marah-marah. Sudah tua kok bukannya tobat malah sering judi dan mabuk-mabukan. Dia pasti bilang begitu,” katanya.

Inu, menurut Hendrik, adalah sosok nenek yang menggebu-gebu. Selama 30 tahun pernikahan mereka, Inu selalu membanjiri telinga Hendrik dengan kalimat-kalimat kasar jika sedang marah. “Kalau sudah marah, apa yang dia pikirkan langsung keluar dari mulutnya. Enggak disaring lagi, langsung keluar begitu saja,” ujarnya.

Hendrik tidak pernah mengeluh, lantaran hal-hal yang diucapkan Inu kerap benar adanya. Karena itu Hendrik bisa bertahan dengan kecerewetan Inu selama puluhan tahun berumah tangga.

Hanya intensitas kecerewetan Inu semakin bertambah ketika Hendrik sering nongkrong dan main judi kartu dengan para tetangga. Tanpa disadari Hendrik, kebiasaannya itu membuat Inu sering ditinggal sendirian di rumah. “Karena saya sering berada di luar, akhirnya istri selalu ditinggal sendiri. Sebelum saya sering nongkrong, setidaknya kalau tidur pasti ditemani saya,” ujarnya.

Karena itulah Inu sering kesal dengan suaminya. Sudah jarang menemani di malam hari, Hendrik juga kerap bau alkohol. “Jadinya kalau saya pulang, Inu sering marah-marah,” terangnya.

Pada 2013 lalu, puncak kekesalan Inu terjadi. Dia berang bukan kepalang, sehingga tamparan pun meluncur ke pipi Hendrik. “Saya tidak terima ditampar oleh Inu. Makanya saya jadi balik marah,” jelasnya.

Karena itulah Hendrik mendatangi Pengadilan Agama untuk melayangkan permohonan cerai talak. Di sana dia langsung mendaftar, dalam formulir pendaftaran dia menuliskan nama Inu sebagai pihak termohon. “Alasan saya, karena istri terlalu cerewet,” katanya.

Proses perceraian pun dimulai. Pengadilan Agama mengundang Inu untuk melakukan mediasi pertama. Namun betapa kaget hakim, ternyata nama istri Hendrik tidak sesuai yang dituliskan dalam formulir pendaftaran cerai. “Itu dia yang paling menggelikan. Ternyata nama istri saya bukan Inu, tapi Margaret (juga nama samaran),” terangnya.

Sang istri kemudian memperlihatkan KTP-nya. Ternyata betul nama dia adalah Margaret. Selama ini Margaret diam saja jika dipanggil Inu lantaran mengetahui jika sang suami sudah mengalami lupa ingatan alias pikun.

Hakim pun dalam mediasi itu mengatakan, seharusnya Margaret lah yang melayangkan gugatan cerai kepada Hendrik. Ini karena Hendrik terbukti lupa dengan identitas istrinya sendiri. “Pak Hendrik ini ingin cerai karena istri cerewet kan? Lah bapak sendiri lebih parah kesalahannya, sampai lupa nama istri segala,” tuturnya.

Mendengar hal tersebut, Hendrik akhirnya berlutut dan meminta maaf. Dia malu mengetahui sang istri selama ini bersabar menyikapi kepikunan dirinya. “Saya jadi merasa tidak pantas untuk menceraikannya. Makanya saya batal menceraikan Inu, eh, Margaret,” aku Hendrik.

Hikmah dari kejadian itu, lanjut Hendrik, ia akan lebih menerima kecerewetan sang istri. Terkait penyakit lupanya, ia telah mengambil antisipasi. “Sejak saat itu, saya simpan fotokopi KTP istri di depan kaca. Jadi setiap pagi kalau sudah mandi, saya lihat KTP istri biar tidak lupa lagi namanya,” jelasnya. Yasalaaam. (Sigit/Radar Banten)