Love Story: Semoga Tak Terulang Kembali

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Dikasih hati minta jantung, kata ini sangat cocok dilontarkan kepada Ari (30). Ari menikahi Salma (27), keduanya nama samaran. Mereka menikah pada 2009, dan dikaruniai seorang anak yang cantik dan pintar. Anak ini tumbuh dengan baik, meskipun hubungan kedua orangtuanya mengalami pasang surut. Ari yang memiliki ketampanan dan banyak uang membuat banyak wanita memperebutkanya.

Beberapa minggu setelah pernikahan, Ari kepergok touring dengan kawan motornya. Padahal alasan yang Ari berikan kepada Salma, yaitu ada tugas di luar kota. Salma mengetahui ini dari sahabat dekatnya, yang melihat Ari membonceng wanita dan pergi bersama komunitas motornya. “Saya marah dan kesal dibohongi seperti itu. Untuk masalah touring dengan kawan motornya sih bisa dimaafkan, tapi kalau masalah dia membonceng wanita saya kecewa dan sulit dimaafkan,” curhat Salma.

Orangtua Salma marah dan saat itu terjadi pertengkaran hebat. Ayah Salma mengusir Ari dengan kasar, karena saat itu posisi Salma dan Ari masih menumpang di rumah orangtua Salma. Di dalam kondisi buruk seperti ini, Salma tetap melindungi Ari walaupun hatinya sakit. Pasangan yang baru menikah ini memutuskan mengontrak tidak jauh dari kediaman Salma, tujuannya agar orangtua  Salma tetap bisa memantau aktivitas mereka.

Awal-awal perpindahan mereka ke kontrakan, Salma dan Ari selalu ribut setiap waktu. Sebenarnya masalah yang mereka alami adalah hal sepele, tapi selalu menjadi besar ketika keduanya tidak mau mengalah. “Saya pernah beberapa kali dikasarin sama Ari. Dipukul atau didorong, saya takut kalau Ari sudah seperti itu, makanya saya selalu ngalah setiap ada masalah. Walaupun kesalahaan Ari yang buat,” katanya.

Waktu terus berjalan, pasangan ini mulai bangkit lagi menjalani hidup akur layaknya pasangan suami istri lain. Ari menuntut minta anak dari Salma, tapi saat ini dia belum mengikuti kemauan Ari. “Di posisi itu saya masih ingin kerja, kalau hamil pasti nanti susah untuk beraktivitas. Saya harus mencari uang karena pekerjaan Ari masih kesana dan kesini. Belum ada kerjaan yang menetap untuk dia,” tambahnya.

Ari terus-terusan menuntut minta anak, sampai mengancam akan pergi kerja di Batam kalau Salma tidak memberikan ia anak. “Segituya Ari minta anak, harusnya dia mengerti posisi keluarga kita. Saya cuma mau bantu perekonomian keluarga agar tetap tercukupi. Ari itu nggak pernah bisa mengerti, bisanya cuma menuntut. Tapi mau gimana lagi, saya harus ikuti perintah suami,” tutur Salma.

Akhirnya Salma mengalah dan mengikuti kemauan suaminya. Salma mengandung dan melahirkan seorang anak perempuan. Malaikat kecil ini menjadi penerang bagi hubungan mereka yang cukup kelam. Sikap Ari yang kasar mulai berubah sejak kehadiran anak pertamanya. Salma berharap kebahagiaan ini tidak pernah luntur sampai kapanpun.

Kebahagiaan tak henti-hentinya datang dalam hubungan mereka, Ari diterima bekerja di perusahaan di Bojonegara. Hal ini sontak membuat Salma bangga menjadi istri seorang pekerja tetap. Tapi sayangnya pekerjaan ini yang membuat Ari dan Salma berpisah karena Ari selalu ditugaskan pergi keluar kota dalam waktu lama. Padahal janji Ari sebelumnya tidak akan pergi jauh meninggalkan anak dan istrinya. Meski pahit, Salma tetap tersenyum karena suami yang dicintainya mendapat pekerjaan yang layak.

Bulan demi bulan berganti, hingga tahunpun berlalu. Salma mengikuti alur kehidupan tanpa Ari di sisinya hingga enam tahun lamanya. Meski Ari pulang tiga bulan sekali, Salam merasa sedih tanpa Ari. “Memang pengasilan Ari besar di luar kota, dia pun sering bawa oleh-oleh dari sana, tapi saya selalu kesepian kalau nggak ada Ari. Sempat berpikir mau melarang Ari bekerja, tapi takut dia marah dan kapok bekerja lagi, sedangkan anak dan saya butuh biaya apalagi si kecil yang mau masuk ke sekolah,” cerita Salma.

Kepulangan Ari yang kesekian kalinya meminta Salma untuk diberikan lagi keturunan berjenis kelamin laki-laki. Tentu saja Salma sebagai perempuan berpikir berulang kali. Mana bisa ia hamil tanpa ada suami di sisinya? Bagaimana nanti ia mengurus kandungannya sekaligus mengurus anak pertamanya? Hal ini membuat Salma mengeluh dan menolak permintaan suaminya. Lagi-lagi bentakan Ari membuat Salma berkecil hati, Ari menuntut minta anak lagi karena menurutnya satu anak tidak bisa membahagiakannya di masa tua. “Saya diam-diam suntik KB di bidan, supaya tidak hamil lagi. Saya capek mengurus anak sendirian, apalagi kalau harus hamil lagi,” katanya.

Hati Salma menjadi aman ketika Ari harus balik ke tugasnya di luar kota, itu artinya tidak ada rengekan minta anak lagi. Beberapa bulan setelah kejadian itu, Ari pulang dan menuntut hal sama. Mau tidak mau, Salma nurut dan mengikuti kemauan suaminya.

Sambil menyelam minum air, itu yang dilakukan Salma ketika mengandung anak keduanya. Tidak hanya mengurus keperluan anaknya, Salma juga harus menjaga kesehatan janinnya sendirian. Ari berharap anak yang dikandung istrinya adalah laki-laki. Hampir sebulan sekali Salma disuruh untuk cek USG, untuk memastikan jenis kelamin anaknya. Hasil USG beberapa kali menunjukan janin yang dikandung Salma adalah perempuan, tentu ini menjadi kekhawatiran bagi Salma.

“Kalau yang lahir perempuan, pasti Ari marah. Saya kenal bagaimana sikap Ari, salah sedikit bisa di perbesar masalahnya. Menurut saya sih, apa saja jenis kelaminnya yang penting anak ibu bisa sehat,” ujarnya.

Benar saja prediksi Salma, ketika anak keduanya lahir, Ari diam seribu bahasa. Salma mengerti di balik diamnya Ari ada marah yang tersimpan. Ari melampiaskan kemarahannya dengan cara mengundurkan diri dari kantornya, dan menghabiskan uangnya membeli burung hias. Harga burung hias yang ia beli mulai dari ratusan hingga jutaan rupiah. Hal ini membuat Salma kecewa dan marah, tak habis pikir dengan keluaan Ari yang tidak pantas dengan umurnya.

“Istri mana yang tidak marah, kalau suaminya berkelakuan seperti itu. Malu dong sama umur, apalagi anaknya sudah dua. Sabar yang seperti apalagi yang harus saya lakukan?” katanya.

Di saat Salma marah, Ari terbawa emosi dan memukul Salma di depan tetangganya. Tentu kejadian ini di laporkan kepada orangtua Salma yang rumahnya tidak jauh dari kontrakan Salma. “Kejadian ini membuat saya membeberkan semua masalah yang ada sejak awal pernikahan. Saya buka di hadapan keluarga saya, dan keluarga saya menuntut saya untuk meminta cerai. Tapi saat itu Ari menangis dan memohon ampun untuk semua perbuatannya yang di lakukan. Ari berjanji akan berubah menjadi suami sekaligus ayah yang bijak. Saya cuma bisa berharap dan terus menjadi istri yang sabar buat Ari. Semoga segala janjinya yang dilontarkan waku itu benar terjadi,” tutupnya. (Bita-Zetizen/Radar Banten)