Love Story: Sepupu Datang, Rumah Tangga Berantakan

0
3.595 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

WANITA berparas cantik dan bertubuh ideal menjadi impian setiap lelaki untuk memilikinya. Siapa pun akan merasa beruntung ketika mendapatkan istri sesuai kriteria demikian. Serasa hidup semakin sempurna.

Namun, paras cantik yang dimiliki Sumi (33), nama samaran, dengan lekukan bodinya yang aduhai, tak menyurutkan niat suaminya, sebut saja Juhdi, untuk melakukan perselingkuhan. Parahnya, Juhdi berselingkuh dengan sepupu Sumi sendiri, sebut saja Noni (25). Noni sendiri tak tahu diri. Berstatus menumpang tinggal tapi Noni tega mengkhianati Sumi hingga rumah tangganya berantakan. Sampai akhirnya, Sumi, warga Serang ini, mengusir Noni dan Juhdi keluar dari rumah dan langsung pergi ke pengadilan agama untuk menyampaikan gugatan cerai. Akibat perpisahan Sumi dan suaminya, dua anak hasil pernikahan Sumi dan Juhdi harus merasakan akibatnya.

“Suami juga sama, enggak tahu diri. Dia bisa kerja menghidupi keluarga berkat paman saya yang membawanya merantau ke Papua. Pulang-pulang, eh malah tergoda sepupu saya,” keluhnya dengan mata berlinang saat menceritakan kisah pilunya itu.

Mengetahui ada udang di balik batu antara Juhdi dan Noni, Sumi bagai ditikam dari belakang. Beuh! Setelah itu, juga dikoyak-koyak sampai jantung berantakan. Sumi sempat menyadari kalau ada yang janggal di antara Juhdi dan Noni. Soalnya, semenjak pulang dari Papua, Juhdi mendadak betah di rumah. Meskipun, Sumi masih tinggal di rumah kontrakan.

Sebelumnya, Noni menumpang di rumah kontrakan karena dititipkan bibi Sumi untuk dibantu dicarikan kerja. Juhdi sering keluyuran. Kadang ke rumah teman, tetangga tapi seringnya ke rumah saudara. Sumi tak sadar, di belakang layar, ternyata Juhdi bermain api dengan Noni. Mereka memanfaatkan kelengahan Sumi yang memang dari pagi sampai sore berada di luar rumah karena harus bekerja mencari nafkah tambahan sebagai sales promotion girl (SPG) di salah satu pusat perbelanjaan di Serang.

“Suami saya enggak betah di rumah. Makanya, waktu itu saya merasa aneh, kok tiba-tiba betah. Ada apa? Apa pengaruh dari pergaulan di Papua,” ucapnya keheranan.

Awalnya, Sumi tak langsung curiga dan selalu berpikir positif. Ia pikir, setelah lama di Papua, suaminya itu mungkin ingin melepas kangen dengan kedua anaknya. Namun, prediksi anak kedua dari lima bersaudara itu salah. Setelah ditanyakan kepada kedua orangtua Sumi, menurut mereka, Juhdi acuh terhadap anak. Terbukti, kedua anak Sumi sering dititipkan Juhdi di rumah orangtuanya setiap pagi setelah perempuan berambut panjang itu berangkat kerja.

Pada saat sore, anaknya baru dijemput kembali sebelum Sumi pulang kerja. Juhdi tak pernah sekali pun ke rumah orangtua untuk sekadar menengok atau mengajak main anaknya. Cukup antar jemput saja.

“Pantas saja, kalau saya tanya anak pas pulang kerja sudah main kemana saja sama ayah? Pasti jawabnya dari rumah kakek-nenek. Heran kan?” terangnya.

Ternyata benar, kedua anaknya sehari-hari berada di rumah kakek neneknya. Yang mengasuh justru sang nenek. Dengan kondisi itu, tentu di rumah tinggal menyisakan Juhdi dan Noni yang bantu-bantu di rumah sambil menunggu lowongan kerja. Namun, Sumi tetap berpikir positif karena ia pikir Noni tidak akan tega mengkhianatinya. Terlebih, sehari-hari Noni diberikan makan dan dibiayai ongkos untuk mencari kerja.

“Saya orangnya selalu berpikir positif. Meskipun saya tahu kalau suami saya dari pacaran sejak SMA, termasuk lelaki hidung belang,” ujarnya. Harimau dong Mbak, belang? “Bukan, tapi ular berbisa,” katanya.

Sampai akhirnya, kecurigaan itu timbul juga dari diri Sumi seiring Juhdi selalu mengantongi ponselnya, baik pada saat di luar maupun di rumah. Tidak seperti sebelumnya, ponsel selalu digeletakkan begitu saja. Ketika Sumi meminjam ponsel Juhdi untuk sekadar melihat-lihat, Juhdi menolak. Dengan alasan, Sumi harus menghargai privasi Juhdi meskipun sudah menyandang status suami istri.

Sumi tidak kehilangan akal. Ketika Juhdi tidur, Sumi diam-diam mengambil ponsel Juhdi dan melihat isi pesan singkat mulai dari via SMS, BBM maupun WA. Akhirnya, kecurigaan Sumi terbukti. Banyak pesan singkat Juhdi yang mengarah pada hal negatif. Mulai dari bahasa mesra sampai ke arah pembicaraan 17 tahun ke atas.

“Saya tahu itu nomor si Noni walaupun namanya disamarkan, sudah saya bandingkan nomornya. Kurang ajar banget kan?” tegasnya kesal.

Tak ingin berlama-lama, Sumi yang merasa dikhianati, langsung melabrak adik sepupunya itu. Sumi merasa sudah tak tahan lagi dan langsung meluapkan emosinya kepada Noni sambil menanyakan kebenaran soal hubungannya dengan Juhdi. Noni yang merasa bersalah, akhirnya mengakui perbuatan tak lazimnya itu dengan Juhdi. Bahkan, perselingkuhannya dengan Juhdi sampai berani berhubungan intim hampir setiap hari. Yang menghalangi Noni melakukan perbuatan bejat itu hanyalah menstruasi. Parahnya lagi, perbuatan tidak senonoh itu juga, dilakukan di kamar Sumi. Astaga.

Lantaran itu, Sumi naik pitam dan tak berpikir panjang lagi untuk menceraikan sang suami serta mengusir keduanya keluar dari rumah kontrakan. “Ini sudah kelewatan. Saya enggak menyangka yang merusak rumah tanggaku sepupu sendiri yang selama ini saya percaya,” tukasnya.

Selepas diusir, Juhdi pun konon kabarnya kembali ke Papua dan mendapatkan kontrak baru dari perusahaannya. Sementara, Sumi yang merasa putus asa telah dikhianati, memutuskan mencari kerja sambilan karena pendapatannya dari bekerja sebagai SPG dirasa masih kurang. Apalagi, ia kini single parent yang mesti berjuang hidup untuk menafkahi kedua anaknya. Kini Sumi mulai menjalani profesi baru sebagai pemandu lagu di tempat hiburan. Sementara anaknya, selama Sumi kerja, ikut tinggal di rumah orangtuanya.

“Tapi, saya di tempat karaoke juga hanya menemani saja, enggak lebih, sumpah,” akunya, iya iya percaya kok Mbak. “Lumayanlah buat tambahan. Kalau ada pekerjaan yang lebih baik lagi, saya pasti keluar. Saya sibuk kerja buat cepat lupa sama mantan suami,” tambahnya. Sabar ya Mbak. (Nizar S/Radar Banten)