Love Story: Status Santri Suami Harus Diklarifikasi

0
940 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

MUNGKIN suami Murni (33) macam Jupri (35), keduanya nama samaran, perlu mendapat klarifikasi dan evaluasi. Masalahnya, Jupri mengaku lulusan pesantren, tetapi perempuan berkerudung dan berkulit putih itu tak pernah sekali pun melihat suaminya menjalankan kewajiban sebagai umat Islam, yakni ibadah salat wajib lima waktu, apalagi mengaji dari sejak menikah hingga delapan tahun lamanya rumah tangga berjalan. Hmm, lulusan pesantren mana tuh?

“Jujur Kang, sebetulnya enggak mau cerita, malu. Tapi, unek-unek nih, sudah di ubun-ubun,” keluh Murni mengundang rasa penasaran.

“Saya cuma heran saja. Punya suami ngakunya lulusan santri, tapi enggak pernah keliatan lagi salat, mengaji. Kalau lagi di rumah pulang jualan, kerjaannya cuma duduk, terus nonton TV sambil ngerokok sama ngopi,” keluhnya.

“Tiap hari pulang jualan kan magrib. Masa, salat Magrib sama Isa dijamak siang-siang?” tukas Murni. Biar lebih efektif efisien mungkin Teh. “Yaelah, lebay deh,” sanggahnya. Demikian perbincangan Murni dengan wartawan.

Murni pun mulai bercerita kalau awal pertemuannya dengan Jupri terjadi di lingkungannya di Serang. Jupri merupakan saudara tetangga Murni dan mengaku berstatus lulusan pesantren di Serang, hanya lebih ke wilayah pegunungan.

Wajahnya lumayan ganteng, tetapi cupu. Bodinya juga tinggi kurus. Namun, secara fisik pesona Jupri cukup untuk mengundang perhatian Murni. Terlebih, cukup lama Murni menyandang status jomblo setelah dua kali dikhianati para lelaki buaya. Lantaran itu, Murni tidak bisa menolak ketika Jupri mengajaknya berkenalan.

“Awalnya dikenalin tetangga saya, saudaranya. Bilangnya sih, datang dari kampung ke kota mau usaha. Ya, jualan gitu di pasar,” terangnya. Jualan apa tuh. “Jangan disebutkanlah, nanti ketahuan,” pintanya. Ok deh. Terus terus?

Singkat cerita, setelah kenal sekian lama di antara mereka pun terjalin kedekatan hingga berlanjut ke debar-debar asmara. Murni mulai termakan rayuan maut sang kumbang. Itu karena Jupri yang royal terhadap Murni selama pacaran. Belum status jadian saja, Jupri sudah banyak memanjakan Murni. Mulai dari mengajak jalan-jalan ke tempat wisata, belanja ke mal, sampai kuliner di tempat makan yang sedikit kelihatan terhormat. Maksudnya, tidak di sembarangan tempat, seperti kafe dan restoran. Merasa diperhatikan betul oleh Jupri, Murni pun tak kuasa menolak ajakan Jupri berhubungan lebih dari sekadar teman.

“Bagaimana bisa menolak, Jupri tuh waktu pacaran baik banget. Apa saja yang saya mau diturutin. Kalau saya ada salah, enggak pernah marah. Pasti dimaafin. So sweet banget kan. Apalagi, dia lulusan santri, cocok kan jadi imam,” jelasnya. Widih, mulai masuk sarang macan nih.

Murni tidak sadar kalau semua yang dilakukan Jupri hanya strategi untuk mendapat empati dari Murni. Strategi Jupri memang hendak membuat Murni merasa nyaman dan enggan jauh-jauh darinya, apalagi sampai kehilangan. Terlebih, Jupri bak aktor peraih piala citra. Dia pandai berakting di hadapan Murni. Sok memperlihatkan lelaki yang taat agama. Setiap bepergian, tak pernah melupakan kewajibannya mengerjakan salat lima waktu. Seolah dia anak yang paling soleh, terlahir dari keturunan ulama. Maklum, dari semula kan mengakunya lulusan pesantren. Bahkan, Jupri tak pernah lupa membawa sejadah dan peci di tasnya. Setiap mendengar azan, Jupri pasti lekas mencari musala.

“Dulu kondisinya begitu. Jadi, mana bisa saya bisa menolak Jupri? Dia menunjukkan sosok sempurna untuk dijadiin suami,” terangnya. Kena deh.

Pemandangan itu pun cukup untuk menarik simpatik Murni. Sejak itu, kedekatan di antara mereka semakin erat. Sampai akhirnya Jupri melamar Murni yang diamini pihak keluarga Murni. Sementara keluarga Jupri, Murni tak pernah tahu asal-usulnya.

Pengakuan Jupri, ia ditinggalkan begitu saja oleh orangtuanya di pesantren dan tidak diurus sama sekali. Sampai hari ini, Murni tak pernah tahu atau menyinggung soal keberadaaan orangtuanya. Dengan alasan tersebut, cukup untuk meyakinkan orangtua Murni bisa melanjutkan pernikahan mereka. Singkatnya, mereka pun menikah dengan prosesi pernikahan sederhana.

“Alasan Jupri, alangkah lebih baiknya kalau uang hasil jualannya ditabung buat masa depan. Nikah yang penting sakral katanya,” terang Murni. Eit dah, percaya saja. Kalau memang serius enggak perhitungan kali!

Akhirnya, mereka pun resmi berumah tangga. Mula-mula Jupri tidak memperlihatkan kedok aslinya saat masih pengantin baru. Mungkin masih mau merasakan kebahagiaan dan kehangatan sebagai pasangan pengantin baru.

Belang Jupri baru diketahui Murni setelah tiga bulan pasca pernikahan. Sikap Jupri tak lagi seperti dulu yang suka memanjakan atau sekadar mengikuti permintaan Murni. Ada saja bantahannya. Jupri mulai bertingkah dan kadang berbicara semaunya. Padahal, Murni tak pernah meminta yang berat-berat. Hal paling membuat Murni heran, setelah tiga bulan itu tidak pernah lagi melihat suaminya beribadah, apalagi mengaji atau bersedekah.

“Tiga bulan pertama sih masih salat. Meskipun rada belang-belang, enggak seantusias pas pacaran,” keluhnya. Nah, tuh sadar juga.

Sikap suaminya yang mulai memperlihatkan perilaku kurang baik sebagai suami itu kerap memicu kekesalan Murni. Setiap diingatkan untuk ibadah, malah berbalik marah. Jawabnya, nanti saja dan bilang paling tidak suka kalau disuruh-suruh.

Situasi itu pun kerap memancing emosi Murni sehingga tak jarang di antara mereka terjadi perselisihan. Namun, diakui Murni, tak berapa lama setiap terjadi percekcokan di antara keduanya damai lagi.

“Damai juga kalau dia ada maunya. Kalau lagi pengin begituan malamnya, baru sorenya mengajak damai,” terangnya. Edaasss, ngakal juga nih Kang Jupri.

Sebetulnya, kekesalan Murni sudah berada di ubun-ubun karena kondisi itu berlangsung hingga saat ini. Tak hanya itu, dari pra dan pasca kelahiran kedua anaknya, Jupri tak menunjukkan sikap kebapakan, malah masih serasa bujangan saja.

Lantaran itu, Murni yang merasa dongkol karena merasa tertipu selama ini dengan ulah Jupri, sampai sempat berpikir untuk bercerai. Namun, lamanya berumah tangga dan sudah dikarunia dua anak, membuat Murni berat hati untuk memperbesar masalahnya dengan Jupri. Kondisi itu membuat Murni yang dirundung kebohongan Jupri sampai hari ini masih bertahan menjalani kehidupan dengan Jupri.

“Kesal saja. Anak kan harus punya panutan. Lihat bapaknya enggak salat, kan jadinya ikut-ikutan. Status santri suami nih kayaknya perlu diklarifikasi dan dievaluasi,” tandasnya. Eit dah sebegitunya. Sabar ya Teh, nanti juga ada waktunya kok berubah. (Nizar S/Radar Banten)