Love Story: Suami Alkoholik, Hidup Serasa Jungkir Balik

0
640 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

SETIAP istri pasti bermimpi memiliki suami pengusaha, PNS, atau pegawai kantoran yang memiliki jabatan. Apalagi, ditambah dengan sifat suami yang setia, sayang, dan perhatian. Berbahagialah wanita yang memiliki kriteria suami demikian.

Namun, apa rasanya jika memiliki suami alkoholik, ditambah pengangguran? Nah, nasib kurang baik itu dialami wanita asal Pandeglang, Mumun (35), nama samaran. Mumun tak menyangka akan mendapatkan suami yang memiliki perilaku negatif aneh bin ajaib seperti Medi (36), juga nama samaran, warga Tangerang. Medi adalah seorang alkoholik sejati. Tiada hari tanpa minum minuman keras atau beralkohol. Baik sebelum dan sesudah makan, baru bangun tidur, sebelum tidur. Apalagi, ketika berkumpul dengan gerombolan temannya baik di hari biasa, apalagi malam mingguan, oh jangan ditanya. Berapa botol pun disediakan, pasti Medi gibas.

“Hidup saya serasa jungkir balik lihat kelakuan suami. Tiap hari kerjaannya cuma minum,” keluh Mumun. Bisa-bisa kembung tuh. Tapi, bagus dong doyan minum, sehat.

“Maksudnya, minuman keras,” sanggahnya. Oh kirain.

Sifat peminum yang disandang suaminya itu atau lebih tren disebut alkoholik, membuat Medi seperti orang linglung. Kalau ditanya juga, jawabnya asal nyambung. Lantaran itu, Mumun kerap ogah-ogahan ketika diajak Medi berhubungan suami istri. Soalnya, penyakit alkoholik Medi sudah akut. Medi sudah jarang sekali minum air putih. Paling minum kopi hitam. Sama minuman berwarna lain yang berasa.

Sudah kayak gula dan semut, di mana ada alkohol di situ pasti ada rokok yang menempel di mulut Medi. Karena selain pecandu alkohol, Medi juga pecandu rokok. Sehari, bisa menghabiskan tiga sampai empat bungkus rokok.

“Jadi, gimana suami enggak kayak orang PA (linglung). Kadang ngobrol biasa juga, suka senyam-senyum dan ketawa enggak keruan,” terangnya.

Pertemuan Mumun dengan Medi memang diawali dengan tidak baik, sekira 18 tahun lalu saat Mumun masih belia menginjak usia 17 tahun. Mumun mau menjadikan Medi sebagai suami karena hamil duluan. Padahal, keduanya belum lama berpacaran, baru sekira tiga bulan setelah dikenalkan reken-rekannya di SMA.

Medi, waktu itu hanya berstatus pengangguran sejak putus SMP. Pertemuan mereka semakin intens, seiring Medi yang sering menongkrong di sekolah Mumun. Penampilan Medi yang terbilang gaul, serta wajah yang lumayan ganteng, cukup untuk memukau Mumun dan menarik perhatiannya. Kondisi itu, membuat Mumun ingin mengenal lebih jauh soal Medi.

“Medi orangnya ganteng, baik, terus perhatian. Makanya, waktu itu saya langsung suka,” akunya.

Mumun tak sadar kalau waktu itu sudah dikadali buaya. Karena sejak mengenal Medi, Mumun mengakui, jika dirinya sempat terjerumus ke lembah hitam. Mumun masuk ke lingkungan pergaulan bebas, sampai mengenal apa yang namanya narkoba dan seks bebas. Bahkan, Mumun sempat tergoda untuk coba-coba sampai akhirnya ketagihan juga.

Situasi itu pun dimanfaatkan Medi untuk mendapatkan madunya Mumun yang sudah telanjur kasmaran. Suatu hari, saat Mumun dalam kondisi sedikit tidak sadarkan diri, Medi yang juga dalam keadaan teler usai menenggak sebotol minuman, menunjukkan keperkasaannya dan langsung menggagahi Mumun tanpa pengaman. Bla eum bla eum.

“Waktu itu memang di kamar Medi, kita begitu atas dasar suka sama suka. Enggak tahu akibatnya seperti apa,” ujarnya. Apa tuh akibatnya? “Perut buncit Mas,” ungkapnya. Nah Lo, makanya jangan coba-coba. Buncit kan, kaya celengan semar.

Empat bulan berlalu setelah peristiwa yang diinginkan itu, perut Mumun semakin buncit sehingga memaksanya meminta tanggung jawab kepada Medi. Dengan status Medi yang pengangguran pun, tak dihiraukan Mumun dengan kedua orangtuanya. Yang penting, sang jabang bayi yang dikandung Mumun bisa diselamatkan, meskipun kelakuan Mumun sudah menampar keluarga mereka, baik di hadapan tetangga maupun keluarga besar. Terlebih di sekolah, Mumun yang masih berstatus pelajar merasa malu karena sudah berbadan dua. “Saya mengundurkan diri dari sekolah. Takut ketahuan, kan malu,” ungkapnya.

Tak berapa lama, keduanya pun melangsungkan pernikahan dengan prosesi sederhana tanpa perayaan. Pernikahan hanya disaksikan kedua pihak keluarga saja di KUA. Awalnya, Mumun tidak menyesal sudah dinikahi Medi karena keduanya sama-sama mencintai. Namun, lama-lama seiring banyaknya kebutuhan saat berumah tangga, Mumun mulai kewalahan. Menyadari status Medi yang pengangguran, Mumun pun untuk membiayai hidup harus mengandalkan pemberian orangtua. Bahkan, tinggal pun di rumah orangtua, karena ternyata Medi bukan berasal dari kalangan mampu.

“Sudah saya orang biasa, Mas Medi juga enggak bisa diharapkan. Tahunya, cuma minum. Punya duit sedikit dikasih orangtua, dipakai minum. Lengkap sudah penderitaan,” tukasnya. Sabar ya Mbak. Begitulah kalau rumah tangga diawali dengan tidak baik. Makanya, jangan coba-coba.

Selama 18 tahun sudah mereka menjalani pernikahan. Namun, tak sedikit pun perangai Medi menunjukkan perubahan. Kehidupan Mumun malah makin parah. Hutang di mana-mana, karena Medi sering meminjam uang untuk beli minuman. Terpaksa, usai melahirkan, demi bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan anak, Mumun mulai terjun bekerja membantu orangtuanya berjualan di pasar.

Bukannya prihatin melihat istri mengasuh anak sambil bekerja, justru kelakuan Medi malah makin parah. Kecanduannya pada alkohol tidak bisa dicegah. Penyakit doyan minum alkohol Medi sudah akut. Katanya, kalau tidak minum sehari saja pahang alias suka pusing. Matanya juga sudah mulai rabun gara-gara doyan minum.

“Gimana enggak rabun, minuman apa saja ditenggak. Yang penting ada kadar alkoholnya. Alkohol buat luka saja diembat saking enggak tahan, gila kan?” keluhnya dengan nada kesal.

Gara-gara penyakit rabun Medi yang semakin parah. Mungkin efek dari minuman obat luka yang ditenggaknya. Sedikit demi sedikit, Medi mulai menunjukkan perubahan. Medi tidak berkutik, karena sudah tidak bisa melihat dengan sempurna dan berjalan tegak. Medi pun kini kerjaannya hanya bisa menemani Mumun yang mulai menjalankan wirausahanya dari modal yang dikumpulkan hasil membantu orangtua berjualan.

“Mas Medi mulai sadar, hanya belum bisa total berhenti minum. Tapi, sekarang sudah agak berkurang kok. Ya, doain saja,” pintanya. Pasti saya doakan. Mudah-mudahan, kehidupannya lebih baik dan Mas Medi bisa total berhenti minum. Amin. (Nizar S/Radar Banten)