Love Story: Suami Keenakan, Mertua Kebangetan

Love Story
Love Story

SATU tahun pasca bercerai dengan sang mantan suami, Denok (27), nama samaran, terlihat lebih bebas dan lepas. Ia mengaku, kini begitu menikmati profesinya sebagai kapster salon. Walau gaji tak seberapa, paling tidak sedikit meredam masa lalunya yang kelam selama menjalani rumah tangga dengan seorang pengangguran, sebut saja Dodi (30). Bukan hanya sikap suami yang dinilai tidak bertanggung jawab, janda anak dua itu juga dibuat tak karuan dengan tingkah serta campur tangan sang mertua, sebut saja Minah.

“Suami keenakan, eh mertua malah ikut-ikutan, kebangetan kan. Ya sudah, enggak ada pilihan selain cerai,” keluhnya. Maksudnya bagaimana sih Mbak?

Dijelaskan wanita bertubuh montok dan berkulit putih tersebut, maksud dari suami keenakan itu bahwa selama empat tahun Denok berumah tangga dengan Dodi, tak kunjung diberikan nafkah oleh suami. Sejak dipecat dari pekerjaanya satu tahun pasca pernikahan, status Dodi selama tiga tahun tak lebih dari seorang penganggguran. Yang memicu perselisihan, selama tiga tahun menganggur tidak ada upaya dari Dodi untuk mencari pekerjaan lain. Selama tiga tahun pasca jadi pengangguran itu pula, Dodi hanya memanfaatkan tenaga Denok yang giliran mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Ow ow ow.

Kondisi itu membuat Dodi terbuai. Apalagi, penghasilan Denok di salon ternyata mampu menutupi biaya rumah tangganya. Bahkan, dari gaji Denok pula, sampai bisa memberikan uang belanja tambahan untuk orangtuanya. Maksud Denok memberikan uang belanja itu karena didorong rasa pengertian. Maklum, selama berumah tangga, Denok dan Dodi tinggalnya masih menumpang di rumah orangtua Denok di Serang.

Yang membuat Denok semakin geram, semenjak menyandang status pengangguran, perilaku suami kerap malas-malasan di rumah. Belum lagi, sang mertua yang selalu menganggap underestimate (memandang rendah) pekerjaan yang dijalani Denok saat ini. “Jadi, saya pikir lebih baik sendiri daripada punya suami tapi jadi beban,” ujarnya.

Namun, bukan hanya itu yang membuat Denok berpikir bahwa perceraian merupakan keputusan terbaik. Melainkan karena sikap Dodi yang membuatnya kesal. Suaminya itu tak pernah menghargai istri yang siang malam bekerja demi sesuap nasi. Dodi kerap mengatur-ngatur keuangan istri. Belum lagi, tak pernah mau mengasuh kedua anaknya selama Denok bekerja. Anak-anaknya hanya dititipkan di mertua, sementara Dodi kerjaannya sehari-hari hanya makan, tidur, dan menonton TV selain antar jemput Denok kerja. Selebihnya, minta dilayani di ranjang. Cuci baju, piring, mengepel, dan masak di rumah, Dodi tetap mengandalkan Denok.

“Setiap pulang kerja, pasti rumah berantakan. Yang menegur kan orangtua saya. Tahu sendiri kita masih numpang. Eh, si Dodi ini malah enak-enakan di rumah, bukannya bantu beres-beres kek, mengasuh anak juga enggak. Capek deh,” kesalnya. Sabar ya Mbak.

Meski sifat Dodi demikian, Denok masih bisa sabar karena teringat anak hasil dari buah pernikahan mereka. Terlebih, Denok sadar kalau suaminya tipikal setia, tak pernah main perempuan dan tak pernah marah. Betapa mulianya hati Denok, di saat kehidupan rumah tangganya berkekurangan, masih melihat sisi positif suami yang menjadi pertimbangannya urung bercerai hingga rumah tangganya bertahan sampai empat tahun.

Diceritakan Denok, pertama kali ia bertemu Dodi saat ia kerja di sebuah diler motor enam tahun silam. Saat itu, Denok bekerja sebagai kasir di leasing.

Sementara Dodi, salah satu customer-nya (pelanggan) yang akan melakukan pembayaran kredit motor. Awalnya, Dodi mencoba menggoda Denok saat mau membayar angsuran motor. Ternyata pas jam makan siang, Dodi sudah menunggu di kantin langganan para kasir tersebut. “Dodi enggak genit sih, menurut saya sih dia berani langsung mengajak kenalan itu termasuk lelaki gentle. Ya, salut saja, jarang-jarang,” terangnya. Sekarang baru sadar ya Mbak, ternyata masuk sarang buaya. Hehehe.

Akhirnya, Dodi mengajak berkenalan di kantin itu. Denok juga langsung tertarik dengan keseriusan Dodi sehingga mau saling bertukar nomor ponsel. Setelah itu, komunikasi di antara mereka semakin intens dan berlanjut mengarah ke hubungan yang lebih intim. Merasa ada kecocokan, keduanya sepakat berpacaran. Hanya berselang kurang dari setahun, Dodi yang saat itu tampil percaya diri karena sudah mempunyai pekerjaan, akhirnya memberanikan diri melamar Denok ke orangtuanya. Dodi sebelumnya seorang pekerja lapangan, di bagian pemasangan listrik.

Singkat cerita, keduanya menjalani pernikahan yang sakral dan berlanjut membangun mahligai rumah tangga. Betapa bahagianya mereka saat itu. Seiring waktu, Denok yang menjalani kehamilan pertama, mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tentunya, keputusan itu atas permintaan sang suami yang merasa pendapatannya cukup dan menyadari kalau kandungan Denok mulai membesar.

Prahara datang setelah Denok melahirkan. Denok dan Dodi yang tengah menikmati kebahagiaannya baru diberikan momongan harus menghadapi kenyataan pahit, Dodi dipecat dari pekerjaannya karena dianggap tidak disiplin oleh kantor. “Dodi dipecat pas saya baru melahirkan. Awalnya sih biasa saja, kita kan masih punya tabungan. Tapi, lama-lama uang kita semakin berkurang. Mulai deh ribut sana-sini. Soalnya, Dodi pasca dipecat enggak ada usaha cari kerja lagi, diam saja di rumah,” keluhnya.

Sejak itu, kehidupan rumah tangga mereka berubah. Menyadari hidup mulai kekurangan dan Dodi tak kunjung mendapat kerjaan yang baru, Denok akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja dan terpaksa menitipkan anak ke orangtuanya. Mendapat tawaran dari temannya bekerja di salon, dalam keadaan terdesak, Denok pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Kinerja Denok pun dinilai lumayan baik sehingga diikuti penghasilannya yang ikut membaik. Namun, upaya keras Denok tak diikuti Dodi. Bukannya membantu meringankan beban kerja Denok dengan mengasuh anak atau beres-beres di rumah, Dodi malah keenakan di rumah menikmati uang hasil keringat Denok. Lantaran itu, Denok mulai geram dengan perilaku suaminya itu.

Kondisi diperparah dengan adanya campur tangan mertua. Minah, sang mertua, selalu menganggap rendah pekerjaan Denok. “Katanya, gaji di salon cukup buat apa. Dia enggak sadar kalau saya kerja di salon gara-gara anaknya menganggur. Kesal, akhirnya saya minta Dodi memilih, pilih saya atau orangtuanya. Dia enggak kasih jawaban, ya sudah akhirnya saya minta cerai,” jelasnya.

Oh begitu ceritanya. “Lagian, buat apa diteruskan juga, suami sudah enggak punya pendirian, pemalas, ke anak juga enggak ada perhatian-perhatiannya. Mending jadi janda,” tegasnya. Ya, mudah-mudahan semua ada hikmahnya. Amin. (Nizar S/Radar Banten)