Love Story: Suami Manja, Hidup Serasa di Penjara

0
1.104 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

MARKONAH (37), bukan nama sebenarnya, sebetulnya termasuk salah satu wanita paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak, wanita bertubuh jangkung dan berambut ikal asal Lebak tersebut dipinang laki-laki kaya, anak pengusaha pula asal Tangerang. Lelaki tajir itu, sebut saja Deden (36) yang setahun lebih muda dari Markonah.

Namun, kebahagiaan yang didambakan Markonah dari Deden selama tujuh tahun membangun mahligai rumah tangga tak kunjung didapatkan. Bukan karena Deden tak setia atau kurang perhatian, melainkan sifat manja Deden terhadap orangtua yang membuat Markonah tertekan.

“Deden itu hidupnya ketergantungan sama orangtua. Hidup serasa di penjara karena apa-apa harus ngikutin semua kemauan mertua,” keluh Markonah. Loh-loh, kok gitu?

Menurut Markonah, Deden orangnya tidak bisa bekerja mencari nafkah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka di rumah, hanya mengandalkan mertua. Itu karena sang mertua sepertinya tahu betul kondisi Deden yang dinilai agak terbelakang. Bukan berarti Deden idiot, melainkan cara berpikir suaminya itu sedikit agak lamban.

Fisiknya tinggi besar, tetapi tak sejantan lelaki kebanyakan. Meskipun secara wawasan atau pengetahuan Deden, diyakini Markonah sedikit bisa diandalkan dan dimanfaatkan teman-temannya.

“Mas Deden sekarang ikut kerja di perusahaan orangtuanya di Tangerang. Tapi, gajinya sama dengan karyawan lain. Rada heran juga, orangtuanya ini mendidik apa pelit benaran,” ujarnya penasaran. Eits, dosa loh menuduh begitu. Kalau pelit, Teteh enggak bakal dinafkahi mertua dong? “Iya ke situnya sih,” sanggahnya.

Beruntung, dari Deden ada yang masih bisa dibanggakan Markonah. Meskipun sering dikerjai teman-teman kerjanya, padahal karyawan lain juga tahu kalau Deden anak bos, tapi Deden hobinya baca koran dan selalu menelusuri berita-berita teraktual. Jadi, ketika ada yang bertanya, suaminya itu lebih banyak tahu.

“Ya, Kang Deden di situnya pintar. Tapi, kan tetap saja, banyak tahu kalau enggak bisa cari duit, terus ngandalin orangtua, percuma,” ketusnya.

Kondisi itu, membuat kehidupan Markonah dan Deden serasa kaya rasa sederhana. Artinya, secara fisik kaya, tapi tak bisa dinikmati oleh Markonah. Walaupun sudah dibangunkan rumah dan diberi kendaraan oleh mertua, tapi Markonah tetap merasa ada yang beda. Soalnya, hidup selalu harus mengikuti setiap petuah dan aturan mertua. Kemudian, gaji bulanan Deden tak jauh beda dengan karyawan biasa sehingga pendapatannya pas-pasan. Dapat biaya tambahan dari mertua, tetapi ditakar setiap bulan. “Masa, orang kaya makan seadanya? Sayur saja yang diminta Kang Deden. Katanya, sehat sesuai nasihat orangtua. Alah, alasan. Bilang saja hemat,” kesalnya.

Situasi itu membuat Markonah terbelenggu. Serasa tidak memiliki suami karena kehidupan rumah tangganya terus diatur-atur mertua. Apa yang diminta orangtuanya tak pernah dibantah Deden. Kadang perilaku Deden juga seperti anak kecil. Seperti minta jajan dan kalau dimarahi orangtuanya berakhir dengan tangisan.

“Kang Deden disuruh apa-apa sama orangtuanya, menurut saja. Cengeng juga. Sebal kan? Giliran istri minta ini itu, banyak alasan. Katanya, harus dikonsultasikan dulu ke orangtuanya. Kesal jadinya,” kesalnya. Konsultasikan bagaimana?

Markonah pun mencontohkan, dirinya pernah ingin membeli perhiasan dari gaji bulanan Deden yang pas-pasan pemberian orangtuanya seperti kalung, gelang, dan anting. Markonah tidak serta-merta langsung membelinya. Terlebih dahulu diberitahukan Deden kepada mertua. Jika sang mertua oke, baru perhiasan itu bisa dibeli. Kalau tidak dituruti, mertua bisa menghentikan uang tambahan buat Deden untuk biaya hidup rumah tangganya dengan Markonah. Atau bahkan memberhentikan Deden dari pekerjaannya. Situasi itu membuat Deden yang memang masih berperilaku manja, terpaksa menuruti apa mau orangtuanya.

“Kang Deden tuh enggak punya prinsip. Apa-apa bilang bapaknya. Kayak anak kecil. Jangan-jangan kita mau begituan juga, konsul dulu sama bapaknya,” tukasnya. Enggak segitunya kali Teh.

Tapi, kok Teteh mau nikah sama Kang Deden dulu? Diceritakan Markonah bahwa pernikahannya dengan Deden berlangsung akibat dijodohkan. Kebetulan, orangtua Markonah bekas karyawan orangtuanya Deden, sebut saja Suratman. Menyadari anaknya sedikit kekurangan, Suratman merencanakan perjodohan itu. Hasilnya, Markonah yang memang perawan tua terpilih dan dinilai cocok mendampingi Deden sebagai istri.

Markonah mengaku, awalnya tertarik begitu pertama melihat Deden. Selain kaya, secara fisik Deden lumayan ganteng, perawakannya juga memadai, sama-sama jangkung. Markonah tak sadar kalau cara berpikir Deden sedikit lamban.

“Saya langsung setuju begitu melihat Kang Deden. Sudah ganteng, kaya, apalagi coba?” ujarnya. Eeaaa, matrealistis juga. “Bukan begitu, enggak baik kan membantah orangtua. Lagian, saya ingin nyenengin orangtua, siapa tahu kalau nikah sama orang berada, bisa bantu-bantu nantinya,” kilah Markonah.

Ternyata, apa yang diharapkan Markonah dari Deden tak sesuai rencana. Bukan hanya membuat hidup Markonah serasa di penjara, Deden juga tak bisa menunjukkan kejantanannya. Terbukti, Markonah sampai saat ini belum juga memberikan keturunan. Kondisi itu pun sempat membuat kedua orangtua Deden berang. Bahkan, menyalahkan kalau Markonah memiliki kelainan. Gara-gara demikian, tak jarang Markonah mendapat sindiran-sindiran pedas dari pihak keluarga Deden. Rasa sakit hati itu pun terus dipendam Markonah sampai saat ini.

“Kadang ingin pergi jauh. Tapi, kasihan juga sama suami. Dia begitu, kan salah orangtua juga menurut saya,” ujarnya. Sabar ya Teh. Nanti juga ada waktunya Kang Deden sadar dan bisa berpikir dewasa. (Nizar S/Radar Banten)