Love Story: Sudah Poligami, Suami Tak Tahu Diri

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

SETIAP perempuan pasti mendambakan memiliki suami mapan, tampan, serta jantan. Demikian pula dengan Anih (30), bukan nama sebenarnya. Namun, tampaknya nasib berkata lain. Warga Pandeglang ini, hanya bersuamikan seorang sekuriti, sebut saja Akri (34). Mending kalau sekuriti perusahaan yang mendapat gaji UMK, suami Anih hanya sekuriti sekolah yang hanya mendapat honor seadanya.

Lantaran itu, tak jarang wanita berkulit sawo matang ini, sewot kepada suami setiap menerima uang gaji bulanan. Itu karena dirasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Untuk kepentingan rumah tangganya karena sudah dikaruniai dua anak, Akri bukannya berpikir bagaimana mencari pendapatan lebih, malah menikahi wanita lain. Alamak.

“Saya sewotin itu, maksudnya supaya mikir gimana caranya dapat duit tambahan, eh malah kawin lagi. Dasar edan,” kesalnya.

Tak ayal, akibat perilaku sang suaminya, membuat keduanya terlibat percekcokan. Bahkan, hubungan rumah tangga pun hampir retak. Namun, Anih yang berpikir takut anak yang menjadi korban, akhirnya mengurungkan niat untuk bercerai.

Lantaran itu, baik Anih maupun orangtuanya hanya sekadar mengecam sikap suami. Sejak itu, Anih mulai menunjukkan mimik ketidaksenangannya karena Akri memilih berpoligami. Suaminya itu nekat kawin lagi dengan perawan tingting yang belum lama dikenalnya, sebut saja Yayah (26), dengan alasan tak tahan dengan omelan Anih.

Apa yang terjadi kemudian? Anih makin jarang berkomunikasi dengan Akri yang lebih banyak tinggal dengan istri mudanya. Meskipun, pada akhirnya hubungan Akri dan istri mudanya tak berlangsung lama, hanya sekira satu bulan. Itu karena Yayah tiba-tiba menghilang tanpa jejak dan berita. Kabarnya, Yayah kepincut lelaki lain yang lebih mapan. Sampai akhirnya, Akri kembali ke pelukan Anih.

Anih sempat merasa heran dengan Akri, dengan gaji pas-pasan, tetapi masih bisa memfasilitasi istri mudanya. Baik itu untuk makan maupun tempat tinggal kontrakan. Bahkan, masih bisa memberikan gaji bulanan kepada Anih dengan utuh seperti biasa. “Akri memang sosok misterius,” ucapnya. Widih seram amat.

Ternyata usut punya usut, Akri di belakang Anih pandai berbisnis. Entah itu jual beli mobil, tanah, dan barang-barang lain seperti elektronik dan sebagainya yang bisa dijadikan uang. Selama sembilan tahun berumah tangga, Anih tak pernah tahu dan tak pernah menerima gaji tambahan dari Akri. Lantaran itu, Anih tidak memungkiri, jika setiap gajian pasti di antara mereka selalu terjadi percekcokan.

Dirunut ke belakang, Anih mengenal Akri sejak masih SMP. Masih cinta-cinta monyet gitu. Tentunya, usia Akri lebih tua dari Anih. Begitu lulus SMP, mereka memutuskan menikah, meski status Akri saat itu masih pengangguran. Soalnya, Anih berpikir kalau Akri pada waktu itu, tipikal orang menyenangkan dan sepertinya bertanggung jawab.

Rencana pernikahan mereka, sempat ditentang orangtua Anih. Karena rasa sayangnya yang terlalu dalam terhadap Akri, Anih nekat kabur dari rumah. Sampai akhirnya, kedua pihak orangtua yang khawatir ada apa-apa terhadap putra-putrinya, merestui pernikahan mereka.

“Itu alasan kenapa saya mau dipoligami Mas Akri. Ingat perjuangannya pas kita mau nikah, selain ingat anak,” akunya. Luar biasa, historis banget.

Awal rumah tangga, Akri dan Anih adem ayem saja. Sampai memiliki anak kedua, keretakan rumah tangga mulai terasa. Tentu saja, hal itu dipicu faktor ekonomi. Kehidupan rumah tangga Anih dan Akri serba berkekurangan. Lantaran itu, Anih mencoba peruntungan membantu suami dengan mencari kerja. Berkat perjuangan Akri yang memiliki banyak relasi di perusahaan, Anih akhirnya diterima bekerja di pabrik. Meski penghasilannya lebih tinggi dari suami dari bekerja di industri, tak membuat Anih mengecilkan suami.

Hanya Anih kesal dengan perubahan sikap suaminya itu. Menyadari dapat tambahan gaji dari istri, Akri tak punya niat untuk mencari uang tambahan. Akri malah semakin manja dan jemawa di rumah, karena merasa pekerjaan Anih berkat suaminya.

“Saya bukan nyari ribut. Cuma sebal aja lihat suami, kerjanya makin leha-leha. Makanya, wajar dapat honornya seadanya juga. Pulang kerja kan dia banyak waktu. Atuh, ada upaya nyari tambahan kek. Ini tahu saya kerja, malah makin malas,” keluhnya.

Lantaran itu, Anih kerap murka setiap menerima gaji bulanan suami yang tak cukup ke sana kemari. Akhirnya, di rumah gaji Anihlah yang diandalkan untuk menopang kehidupan rumah tangga mereka. Singkat cerita, Anih memaafkan kekhilafan suami yang sempat menduakan cintanya. Namun, belum lama mereka baikan, Akri kembali berulah.

Akri yang dikenalnya dulu sebagai lelaki pendiam, mulai berubah menjadi sosok hidung belang. Akri mendadak liar dan mulai menutup diri. Di rumah kerjaannya setiap pulang kerja, hanya cengengesan sambil pandangannya selalu tertuju ke ponsel. Tentu saja sikap itu membuat Anih curiga. Dari situ, Anih mulai mencari tahu. Anih tak langsung marah, berusaha untuk tenang dan menanyakan baik-baik kepada Akri secara perlahan.

“Awalnya enggak ngaku. Tapi, saya tetap enggak percaya,” katanya.

Padahal Anih sudah dapat bocoran dari teman suaminya, kalau Akri main-main dengan janda berbodi montok tak jauh dari tempatnya bekerja.  “Akhirnya, saya sumpahin. Kalau dia main-main sama perempuan, saya doakan celaka. Eh dia malah nantang, ya sudah,” terangnya.

Apa yang terucap oleh Anih, terkabul. Tak lama berselang setelah Anih menyumpah Akri celaka, ternyata kejadian. Anih menerima kabar dari temannya kalau suaminya itu jatuh dari motor, kakinya patah sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit. Mendengar kabar itu, Anih merasa bersalah dan menyesal telah mengucapkan sumpah yang dinilainya merugikan sendiri. Karena semenjak itu banyak yang ditelantarkan Anih lantaran harus menemani suaminya di ruang perawatan. Mulai dari cuti kerja dan terpaksa harus menelantarkan anak-anaknya di rumah. Situasi itu pun membuat pendapatan mereka berkurang karena harus menutupi biaya perawatan di rumah sakit.

“Awalnya nyesal, tapi ujung-ujungnya kesal,” kesalnya. Loh kenapa tuh?

“Iya, dasar suami enggak tahu diri. Saya udah capek-capek nunggu di rumah sakit, kurang tidur, banyak pengeluaran, eh suami malah enak-enakan sms-an sama cewek, itu tuh sama si janda denok, bukannya tobat, ampun deh,” tukasnya. Terus-terus? “Bodo amatlah,” tandasnya. Sabar ya Teh. (Nizar S/Radar Banten)