Love Story: Tak Lagi Aduhai, Lebih Baik Cerai

0
383 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

HABIS manis sepah dibuang. Mungkin peribahasa itu, cukup menggambarkan kisah cinta mantan pasangan suami istri asal Pandeglang, yakni Fredi dan Nori. Keduanya nama samaran. Nori menceraikan Fredi karena sudah mulai tidak cinta lagi. Nori melihat sosok Fredi kini, sudah tidak menarik lagi dan tak layak dipertahankan statusnya sebagai suami. Loh kenapa tuh?

“Mas Fredi sudah enggak sekece dulu. Udah enggak kece, kere lagi. Makanya, saya milih cerai,” ungkap Nori.

Eits, jangan berpikir negatif dulu. Nori punya alasan kuat kenapa tega meninggalkan Fredi. Ada hal lain yang dinilai krusial. Yakni, ketidakempatian Nori terhadap Fredi, bukan karena perubahan fisik Fredi semata, melainkan juga akibat rumah tangganya yang mulai dilanda kesulitan ekonomi. Bukan juga, Nori tidak menerima hidup miskin dengan Fredi. Namun, perilaku negatif Fredi yang sudah tak bisa diterima lagi oleh Nori. Perempuan berusia 40 tahun itu, khawatir sikap Fredi yang kini doyan mabuk-mabukan dan gemar bermain judi, bakal memengaruhi kedua anaknya.

“Jadi bukan karena saya matre Mas atau lihat Mas Fredi sekarang sudah enggak keren lagi. Tapi, Mas Fredi yang bikin susah sendiri,” terangnya. Susah bagaimana Mbak?

“Uang hasil kerja yang harusnya buat belanja buat makan keluarga, malah dipakai mabok judi,” ungkapnya. Astaga. Pantesan.

Begitu pula dengan fisik Fredi yang sudah mulai menunjukkan kemiskinan. Padahal, dulu Fredi dikenal sebagai pemuda paling gagah di kampungnya. Fredi merupakan atlet olahraga voli paling beken dan jago di kampung. Maka tak heran, Fredi menjadi idola dan rebutan semua gadis desa. Wajahnya ganteng, tinggi, putih, dan bertubuh atletis, membuat Nori langsung kepincut sejak pandangan pertama sepuluh tahun silam, ketika Nori dan Fredi masih berstatus gadis dan bujang.

“Kalau dulu iya, Mas Fredi jadi rebutan. Kalau ada kegiatan Agustusan (peringatan HUT RI-red), ada turnamen voli, pasti yang ditunggu-tunggu pemainnya, ya Mas Fredi itu,” ujarnya. Termasuk Mbak Nori ya?

“Betul sekali. Siapa sih yang enggak suka cowok ganteng! Mas Fredi kan masuk kategori itu,” terangnya. Ehemm.

Belum lagi, Fredi juga dulu dikenal warga berasal dari kalangan berada. Orangtuanya dulu termasuk juragan tanah di desa, punya sawah dan kebun yang luas. Makanya, Nori yang berpikir masa depan semakin tak ingin melepaskan Fredi. Sebaliknya, ketertarikan Fredi terhadap Nori juga, karena dulu sewaktu masih gadis, Nori cukup memesona. Penampilan yang anggun, mata sayu, serta postur tubuh ideal layaknya model membuat Fredi terpana sehingga tak kuat lagi untuk segera menyatakan cinta. Bahkan, warga sekampung juga berpikiran, kalau mereka berjodoh, terbilang pasangan paling cocok.

Lantaran itu, Nori maupun Fredi tak ingin berlama-lama, melanjutkan hubungannya ke arah lebih serius. Tak lebih dari sebulan, keduanya langsung melangsungkan pernikahan. Lagi pula, usia mereka juga waktu itu, terbilang sama-sama mapan. Fredi 31 tahun, Nori satu tahun lebih muda dari Fredi. “Setelah menikah, pertama berumah tangga, kami baik-baik saja. Waktu itu, kami enggak merasa kurang. Di saat Mas Fredi enggak kerja, masih bisa dibantu orangtua,” katanya.

Seiring waktu, kedua orangtua Fredi meninggal. Sejak itu, baik Fredi maupun saudara-saudaranya yang tadinya parasit, mengandalkan pemberian orangtua, mulai berangsur-angsur mencari kerja. Beruntung bagi Fredi, lamarannya langsung diterima di perusahaan properti. Sementara tiga saudara Fredi, masih berstatus pengangguran.

Merasa Fredi sudah tidak membutuhkan harta orangtua, karena satu-satunya pewaris keluarga yang sudah bekerja, Fredi pun disingkirkan sebagai ahli waris. Fredi yang percaya diri bisa menghidupi diri sendiri, tak berpikir panjang untuk menerima keputusan saudara-saudaranya tersebut. Fredi pun mengajak Nori keluar dari rumah peninggalan orangtuanya dan pindah di sebuah kontrakan.

“Mas Fredi waktu itu terlalu percaya diri. Dipikirnya, dia mampu hidup mandiri tanpa harta orangtua,” katanya.

Tak sadar, kalau yang namanya menjalani hidup di dunia itu, tak akan selalu berlangsung mulus, termasuk karier Fredi. Di saat nasib baik berada di genggaman Fredi. Yakni, Fredi beberapa kali mendapat promosi jabatan di perusahaan berkat kerja kerasnya, tiba-tiba terjungkal hanya dengan satu kesalahan. Fredi terlibat cinta terlarang dengan teman sekantor yang sudah berstatus istri orang.

Tidak mau merusak citra kantor, bos perusahaan pun langsung memecat pasangan selingkuh tersebut. Perselingkuhan itu pun sampai ke telinga Nori. Tentu saja, perilaku Fredi membuat Nori naik pitam dan tak bisa dimaafkan. Bahkan, Nori sempat mengucapkan talak setelah terjadi percekcokan.

“Dari itu juga saya sudah kesal banget. Tapi, saya sudah terlalu cinta sama Mas Fredi. Apalagi, waktu itu saya sedang hamil anak pertama,” tuturnya. Widih, istri lagi hamil, Mas Fredi malah bermain api.

Nori akhirnya memaafkan Fredi yang berjanji tak akan mengulanginya lagi. Fredi juga mengaku sudah meninggalkan selingkuhannya itu sejak dipecat dari kantor. Sejak itu, Fredi lama menganggur dan merasa kesulitan ekonomi. Mau minta jatah warisan, ternyata sudah tidak bersisa. Baik rumah maupun tanah milik almarhum orangtuanya, sudah ludes dijual saudara-saudaranya yang mulai berpencar tinggal di luar kota.

Fredi tinggal sendiri tanpa sanak saudara, kecuali istri dan anaknya. Tak tahan lama-lama jadi pengangguran, Fredi putus asa dan menerima kerja apa saja. Mendapat pekerjaan atas ajakan tetangga, Nori malah menaruh curiga. Soalnya, kelakuan Fredi berubah drastis seiring muncul anak kedua. “Setiap pulang ke kontrakan, mata merah, bawaannya uring-uringan. Mending bawa uang, ini malah mulut bau minuman,” ucapnya.

Lain dulu lain Fredi sekarang. Muka Fredi sekarang selalu terlihat kusut. Tubuhnya juga kurus, tapi perut buncit persis celengan semar. Penampilan Fredi juga selalu tampak kumal setiap harinya. “Sekarang mah, jangankan gadis, nenek-nenek juga mikir dulu kali mau sama Mas Fredi. Kelihatan kumuh, karena banyak gaulnya di jalan malam-malam,” terangnya. Memang Fredi kerja apa malam-malam?

“Bahasa kerennya sih, ‘ngalong’, ternyata tukang ojek yang narik (menarik penumpang-red) malam-malam. Saya juga tahu dari teman-temannya,” ungkapnya. Oh mengojek. Enggak apa-apa dong Mbak, yang penting kan halal.

Namun, apa yang dilakukan Fredi memperlakukan Nori dan kedua anaknya dengan status pengojek tidak biasa. Hasil Fredi mengojek semalaman, sudah jarang sampai ke tangan Nori. Lantaran itu, Nori kerap berutang di warung-warung demi bertahan hidup di rumah kontrakan. Sudah sepuluh tahun kondisi rumah tangga Nori demikian. Merasa tidak ada perubahan, Nori akhirnya menyerah dan melayangkan gugatan cerai.

“Saya sudah enggak tahan. Bukan karena Mas Fredi tidak kece lagi ya. Alasan saya kuat, demi masa depan anak saya. Namanya keluarga kan harus ditopang ekonomi,” tegasnya. Iya-iya percaya. Semoga itu jalan yang terbaik. Amin. (Nizar S/Radar Banten)