Love Story: Tanpa Suami Tetap Bahagia

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Tidak semua orang, sanggup menafkahi anak saat perceraian terjadi. Bagi para single parent, pilihan untuk bekerja atau mengurus anak bukanlah perkara mudah. Terlebih lagi bagi para wanita.

Meski hidup dan kehidupan tak selamanya memberikan rasa manis, namun Marnisa (nama samaran), tetap semangat menjalaninya. Wanita 26 tahun ini harus menghidupi sang buah hati laki-laki berusia 3 tahun, sebut saja Anto. Sedangkan sang suami, entah kemana. Seakan raib ditelan bumi. Jangankan memberi uang jajan untuk kebutuhan Anto, bertanya kabar pun tidak.

Sekira satu tahun lalu, Marnisa harus rela membuat keputusan paling menyakitkan. Wanita bertubuh kecil ini harus bercerai dengan suaminya, sebut saja Karjo, meskipun ia sangat  mencintai lelaki itu. Apa sebab? Begini ceritanya.

Marnisa menikah dengan Karjo pada usia 22 tahun. Ikatan suci di depan penghulu itu berlangsung empat tahun lalu. Keduanya mengaku, saling mencintai satu sama lain.

Setelah berpacaran beberapa bulan, Marnisa dan Karjo pun sepakat melanjutkan hubungan ke level lebih serius, pelaminan. Gayung pun bersambut. Setelah mengadakan pertemuan keluarga antara kedua belah pihak, pernikahan sekaligus resepsi pun ditentukan.

Layaknya pengantin baru kebanyakan, hari-hari yang mereka lewati penuh warna dan suka cita. Karjo yang bekerja sebagai satpam di sebuah pabrik di kawasan industri di Kota Cilegon dengan gaji Rp2 juta-Rp3 juta per bulan dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Bulan demi bulan berlalu. Tak nampak tanda-tanda hubungan kedua insan yang tengah ditundung bahagia ini akan retak. Bahkan setelah satu tahun pernikahan, Marnisa melahirkan Anto.

Kehadiran Anto harusnya semakin membuat rumah tangga harmonis. “Awalnya saya sangat senang, karena Anto lahir. Tapi ternyata, kebahagiaan itu hanya sementara. Harus dibayar mahal,” tutur Marnisa sambil menunduk. Entahlah, mungkin wanita ini mencoba menyembunyikan kepedihan yang tak ia bagi dengan orang lain.

Marnisa bilang, Karjo mulai berulah. Karjo dengan wajah ala kadarnya itu memiliki wanita lain. “Yang bikin saya shock, wanita itu telah dihamili Kang Karjo. Gimana saya nggak sedih?” kata Marnisa denga suara bergetar.

Bukan hanya Marnisa yang  kaget. Keluarga besar wanita ini jauh lebih kaget. Keputusan pun harus diambil.

“Di situlah saya dihadapkan pada dilema. Apakah harus menerima wanita lain menjadi madu saya, atau melepaskan Kang Karjo untuk wanita lain,” lanjut Marnisa.

Akhirnya Karjo memilih. Dan keputusan Karjo membuat Marsinah perih. Karjo lebih memilih Minahdan menikahinya.

Mengetahui hal ini, orangtua Marnisa marah besar. Ia tidak terima anaknya diperlakukan demikian. Tanpa pikir panjang, sang ayah meminta Marnisa bercerai langsung, tanpa basa-basi.

“Wis Marnisa, pegatan beh karo Karjo. Lanang ore bener kuan mah aje harapaken maning,” begitu Marnisa menirukan kalimat sang ayah.

Marnisa mengaku, sebenarnya berat untuk bercerai dengan Karjo karena sangat cinta. Namun apa mau dikata?

“Peripen gah Abah, wong kitane masih demen je,” jawab Marnisa kala itu.

“Wis ore demen-demen, lanang ale mengkonon mah aje maning-maning didemeni. Isin abah ari seri masih jadi rabine,” itu kalimat sang ayah yang dituturkan lagi oleh Marnisa.

Dengan berat hati, Marnisa pun akhirnya memutuskan bercerai dengan Karjo di Pengadilan Agama. Untungnya hak asuh Anto berhasil dimenangkan Marnisa.

Keluarga dan saudara-saudara Marnisa turut berempati dengan kasus perceraian ini. Mereka tidak menjauhi wanita ini, melainkan mendukungnya dan membantu Marnisa melupakan sang suami yang berulah itu. Perlahan, Marnisa pun move on dari kejadian pahit yang terus menyisakan sakit setiap kali mengingatnya. Marnisa memutuskan memulai hidup baru, mengasuh Anto hingga dewasa.

“Mau gimana lagi ya Mas, show must go on kan?” Marnisa bersemangat.

Kini tiga tahun telah berlalu. Marnisa masih bersemangat dan bertahan hidup bersama anaknya, Anto, yang berusia tiga tahun lebih. Marnisa tidak malu dan sungkan untuk berkunjung ke rumah saudara-saudaranya, terlebih ke rumah neneknya untuk bersilaturahmi dengan membawa Anto. Di rumah uyutnya, Anto kecil tetap terlihat ceria meski tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan orang tuanya.

Saat ini, Marnisa sehari-hari membantu ibunya berjualan sembako dan jajanan warung di rumah ibunya. Ini ia lakukan demi menafkahi dirinya dan sang buah hati. Di bulan Ramadan kali ini, Marnisa hampir setiap subuh pergi ke pasar untuk membeli sayuran, ikan, dan sembako lainnya untuk dijual kembali di warung ibunya.

Kadang dua minggu sekali, Marnisa menjenguk nenek dari ibunya yang berjarak kurang lebih 6 km dari rumahnya. Neneknya yang hampir memasuki usia 90 tahun, tengah sakit-sakitan dan mulai pikun sejak beberapa bulan lalu.

Terkadang Marnisa terpaksa harus menginap di rumah nenek untuk menjaga dan merawatnya hingga esok hari, tentu si Anto tidak ketinggalan dibawanya. Hal ini rutin dilakukan minimal sebulan sekali, bergantian dengan adiknya dan saudara-saudara sepupunya.

Tiga tahun berlalu tanpa suami, Marnisa tetap berharap suatu saat ada seorang laki-laki yang mau menjadikannya istri, menafkahinya beserta anaknya, dan dapat hidup bahagia. Tidak lupa Marnisa mendekatkan diri kepada Sang Kuasa, tidak meninggalkan salat, dan terus berdoa. Marnisa mengaku, Ramadan semakin membuat dirinya kuat untuk menjalani hidupnya yang masih panjang. (Haris-Zetizen/Radar Banten)