Love Story: Tega, Kakak Merebut Cintaku

0
621 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

ABANG pilih yang mana, perawan atau janda. Perawan memang menawan, janda lebih menggoda. Petikan lirik dari lagu yang dinyanyikan artis dangdut Cita Citata ini sesuai dengan kisah asmara Ninik (27), nama samaran.

Ninik yang memang masih berstatus gadis, harus merasakan pahitnya dikhianati cinta oleh sang pacar, sebut saja Dodo (28). Dodo tergoda janda dan memilih menikahinya ketimbang Ninik yang masih ting ting. Parahnya lagi, janda yang menjadi selingkuhan Dodo, tak lain adalah kakak kandung Ninik, yaitu Neneng (30), bukan nama sebenarnya. Ow ow ow.

Tentu saja, perbuatan Neneng tidak bisa dimaafkan dan membuat Ninik naik pitam bukan kepalang. Terang saja, Ninik marah besar karena Neneng tega merebut calon suami Ninik yang sudah lama dipacari. Lantaran itu, Ninik mulai menjauh dari Neneng dan sudah tidak lagi menganggapnya saudara.

“Perih hati ini Kang, bagai diiris-iris. Wanita mana yang tahan, melihat calon suami nikah sama kakak sendiri. Kakak saya juga enggak tahu diri,” tukasnya.

Ninik tidak menyangka, jika antara Neneng dan Dodo bisa terjalin cinta terlarang. soalnya, Neneng lebih tua dan tidak lebih cantik dari Ninik. Begitu pengakuan Ninik dengan penuh percaya diri. Bagus deh, lebih baik pede daripada minder.

Terlebih Neneng sudah mempunyai anak setelah tiba-tiba menceraikan suaminya dengan alasan klasik, yakni tidak ada kecocokan. Kondisi itu, membuat Ninik tidak merasakan curiga sama sekali kalau ada apa-apa antara Dodo dan Neneng. Meskipun terkadang, Ninik kerap melihat Dodo begitu akrab dengan Neneng setiap berkunjung.

“Waktu itu, saya merasa enggak ada yang aneh. Pikir saya, baguslah Dodo bisa dekat sama teteh (menyebut Neneng-red). Jadi, kalau kita nikah bisa langsung disetujui,” terangnya. Ngarep.

Dodo memang rutin apel malam Minggu ke rumah Ninik. Dalam pengawasan Ninik, rutinitas Dodo saat apel di rumah, Neneng hanya menemani berbincang di teras. Sesekali, Neneng berbaur di tengah-tengah pasangan yang lagi kasmaran itu. Situasi itu, membuat Ninik nyaman dan tidak bisa berbuat lebih selain mengobrol. Di mana ada Ninik, di situ pasti ada Neneng. Apalagi, Neneng yang baru mengubah statusnya menjadi janda, tentu merasa kesepian.

Sejak menceraikan suaminya, Neneng tidak hanya mengurus anak semata wayangnya, tetapi juga diamanatkan orangtua untuk merawat dan membiayai Ninik selama di kontrakan. Ninik menumpang di kontrakan Neneng karena orangtua mereka sudah tak lagi mampu membiayai. Maklum, ibunya hanya buruh tani, sementara bapaknya kuli panggul di pasar.

“Iya, saya numpang di rumah Teteh. Apa-apa pasti minta ke Teteh, termasuk biaya sekolah. Jadi, Teteh gitu-gitu juga, banyak jasanyalah,” ujarnya.

Untuk membiayai hidup sehari-hari, Neneng bekerja sebagai karyawan pabrik. Penghasilannya juga lumayan. Sementara Ninik hanya bantu-bantu Neneng di rumah beres-beres karena belum dapat kerjaan alias pengangguran. Sedangkan Dodo sendiri seorang seniman. Bukan seneng nipu teman ya, tapi seniman komersil.

Profesi Dodo mengiringi para biduan berjoged dan berdendang alias pengiring musik di sebuah orkes. Ketika tidak ada job memanggung, Dodo berbisnis jual beli tanah, rumah, dan kendaraan bekas. Diakui Ninik yang mempunyai wajah hitam manis, bisa tertarik kepada Dodo karena orangnya asyik.

“Enggak cuma itu sih, Dodo juga lumayan banyak duit. Kalau sekali apel, pasti ada saja yang dibawa. Kadang makanan, kadang baju, aksesori, apalah. Kadang suka ngasih duitnya langsung buat jajan. Orangnya pokoknya lumayan royal,” akunya. Jiaah, materialistis juga.

Dipicu hal itu, Neneng pun menikam Ninik dari belakang. Ternyata, di balik hubungan Ninik dan Dodo, Neneng sudah lama menjadi bayang-bayang asmara mereka. Parahnya lagi, Dodo juga tergoda sehingga di depan Ninik, seolah-olah di antara mereka tidak terjadi apa-apa. Padahal, hubungan keduanya sudah terjalin sejak lama, selang setahun setelah Dodo berstatus pacar Ninik. Bahkan, hubungannya sudah berlangsung sebelum Neneng bercerai dengan suaminya yang hanya berprofesi sebagai kuli bangunan. Artinya, Neneng juga menceraikan suaminya, karena ada udang di balik batu atau berselingkuh dengan Dodo. Astaga.

“Pantesan, Si Dodo biasa datang malam Minggu, jadi sering datang hampir tiap hari. Kadang, Teteh suka pura-pura nyuruh saya beli makanan, beli martabaklah, roti bakarlah. Eh tahunya, ada main,” ujarnya kesal. Main apa tuh? Yang sabar ya Mbak Ninik.

Ternyata, seringnya Neneng menyuruh Ninik belanja atau membeli makanan setiap kedatangan Dodo, sekadar alasan mereka ingin berduaan. Soalnya, Dodo kerap menolak ketika diminta mengantar Ninik. Penolakan Dodo pun didukung Neneng yang memintanya pergi sendiri dan tidak manja. Sementara Dodo tetap di rumah menemani Neneng berbincang selama Ninik keluar.

“Kalau nyuruh pergi, Teteh pasti bilang, sudah sendiri saja. Ternyata, ada udang di balik batu. Dasar,” tukasnya.

Sampai akhirnya, Ninik tak sengaja memergoki mereka berdua siang-siang sedang bermesraan berdua di kamar Neneng. Sementara anaknya diacuhkan main sendiri di luar. Melihat itu, Ninik langsung naik pitam, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Ninik hanya menangis dan meminta Dodo dan Neneng mengakui hubungannya selama ini.

Terus didesak Ninik, akhirnya keduanya mengaku kalau mereka sudah menjalin asmara sejak lama. Bahkan, Neneng terang-terangan mengaku sangat mencintai Dodo dan sudah sering kali mereka melakukan hubungan suami istri. Alamak.

“Teteh juga mengaku kalau cerai dengan suaminya, karena malu punya suami kuli. Makanya, berpaling ke si Dodo,” ungkapnya.

Dodo yang hidung belang sudah pasti tergoda dengan belaian janda. Apalagi, melihat tampilan Neneng yang senang berpenampilan seronok, hasrat Dodo sudah tentu tak tertahan lagi. Belum lagi, Neneng mengaku sudah dihamili Dodo. Sampai akhirnya, mereka memutuskan untuk menikah. Ninik tak bisa berbuat apa-apa, kecuali meratapi kesedihan sudah dikhianati kakak kandung sendiri.

“Perih rasanya Kang. Makanya, pas nikahan mereka juga saya enggak datang. Saya sudah enggak menganggap Teteh sebagai kakak saya lagi,” akunya.

Namun, pengalaman Ninik itu ternyata membawa hikmah. Tak lama setelah Ninik memutuskan keluar dari kontrakan dan kembali ke gubuk orangtua, sekira enam bulan kemudian ada yang menaksir Ninik dan langsung melamarnya. Pria yang kesemsem sama Ninik itu, terbilang lebih mapan ketimbang Dodo yang hanya pemain organ tunggal.

Alhamdulillah, saya sekarang sudah nikah sama PNS di kecamatan. Kehidupan rumah tangga saya bahagia. Sudah enggak mikiran masa lalu,” katanya. Syukur deh. Selamat ya. (Nizar S/Radar Banten)