Love Story: Terlalu Banyak Pilihan, Kandas di Tengah Jalan

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

BAGI lelaki, menikah di usia berapa pun seakan tidak menjadi soal. Punya gebetan berapa pun bukanlah aib. Dan punya mantan di mana-mana bukan suatu hal untuk digunjingkan yang membuat wajah merah padam.

Berbeda halnya dengan perempuan. Tak perlu membahas kesetaraan gender dan emansipasi, meskipun momennya tepat yakni April. Pada 21 April nanti diperingati sebagai Hari Kartini bukan? Untuk beberapa hal seperti ini, emansipasi sepertinya tidak bertaji. Buktinya, jika wanita di atas usia 30 tahun, atau punya gebetan banyak, atau mantan di mana-mana, tetap saja seperti membuat harga diri tercoreng.

Lain halnya dengan Lola, bukan nama sebenarnya. Meski usianya perlahan-lahan beranjak menuju 36, ia tampak biasa. Biasa saja menghadapi gunjingan. Namun, itu yang terlihat di luaran, entah jika di dalam.

“Abis mau gimana lagi? Jodoh kan datang dari Tuhan. Saya sudah berusaha, kalau belum ada jodoh mau apa coba? Mau beli di waralaba? Atau pesan di toko online?” tutur Lola agak sewot.

Hmmm, perkara jodoh memang hal yang sensitif bukan? Namun, anehnya, masyarakat seakan tak mau tahu. Meski tidak ada undang-undangnya, masyarakat seakan sepakat, usia menikah terbaik di usia 20-25 tahun, wanita yang memiliki pacar, gebetan, atau suami banyak dianggap buruk, dan banyak lagi.

“Biarin aja. Semua juga cuma bisa ngomongin kok. Kalau ditanya solusi, mereka gagu kayak batu. Gini ya, misal nih orang-orang nanya, kapan kawin? Saya jawab aja, kapan bisa diem ngurusin orang? Urus aja masalah sendiri? Emang situ oke?” Lola masih sewot.

Ya ampun, segitunya Teh? Emang ada apa sih sebenernya? Oke, mari kita simak.

Lola ini tipikal wanita pekerja keras. Bergabung di perusahaan swasta sebagai ujung tombak pengumpul dana, menjadikan Lola harus semangat. Setiap hari, tak kenal lelah Lola ke sana ke mari mencari alamat, ups, maksudnya mencari klien yang mau mengucurkan dana ke perusahaaanya. Sampai-sampai ia lupa memikirkan dirinya sendiri.

“Cowok sih banyak yang sok-sok pedekate, tapi saya nggak mau percaya gitu aja.” Lola mulai melunak. Emang kenapa Teh?

“Ya, di usia segini, harus hati-hati. Rata-rata yang deket itu ada maunya. Setelah deket, eh ternyata udah punya anak istri. Ngakunya duda, padahal nggak,” tukas Lola.

Emang mau cari yang masih pejaka Teh? “Ya nggak juga. Maksud saya, kalau mau menjalin hubungan ya harus dimulai dengan kejujuran. Saya kan bukan ABG lagi, yang dibohong-bohongin. Saya capek kalau dituduh menggoda suami orang mulu. Denger ya, buat Anda-Anda yang menganggap saya menggoda suami Anda, suami Anda tuh yang kegatelan. Ujung-ujungnya saya dijadikan tambang uang,” Lola sewot lagi.

Aduh aduh aduh, tambang uang gimana Teh? Mesin ATM maksudnya? “Ya semacam itulah. Masa kalau jalan, minta dijajanin. Minta jemput aja, kudu dibensinin. Belum lagi minjam duit, aduuuh capek deh,” kata Lola sibuk sendiri.

Oh Tuhan. Jadi itu alasan Teh Lola ini sering berganti lelaki? “Bukan cuma itu. Saya kan cari yang terbaik, wajar dong kalau saya punya banyak pilihan. Iya kan? Daripada udah berumah tangga, tapi deket sama banyak laki? Itu baru namanya perempuan nggak benar. Kalau sekarang kan saya masih bebas, deket sama siapa aja? Tapi anehnya kenapa semua orang nganggepnya negatif ya? Aneh deh,” Lola melunak lagi.

Hmm, gimana ya Teh jawabnya. Mungkin seperti yang dijelasin di awal tulisan ini kali ya Teh? “Gini ya, saya ini bukan playgirl yang suka matahin hati cowok-cowok. Lagian mereka juga yang brengsek. Deket sehari-dua hari, sudah ketahuan belangnya. Ada tuh namanya Si Pendi, usianya di bawah saya, ngakunya bujang, padahal anak dua. Kerjaannya minta duit aja. Ada juga si Yono, tukang gado-gado dorong. Itu mah parah. Beuh. Orangtuanya baik sih, saya juga udah sreg. minjam duit, nggak dibayar-bayar. Tahu-tahunya menghindar. Dan ketahuan jalan sama cewek lain? Huhh,” Lola berkeluh kesah.

Oh, ini tah yang bikin si Teteh uring-uringan terus kalau ditanya tentang calon suami? Terus ada lagi nggak Teh?

“Yang lain itu cuma deket doang. Misal Si Dodo, dia itu kenal pas kursus nyetir aja. Karena dia baik, ya saya bales kebaikannya. Biasa aja sih, tapi dianya baper kayaknya. Awalnya mau jadi semacam sopir pribadi, antar jemput. Ujung-ujungnya minjam duit. Gede lagi. Ya nggak saya kasihlah. Eh dianya neleponin terus. Terus ngata-ngatain, katanya saya nggak balas budi. Giliran dia butuh, nggak mau nolong. Aduuh helooo, situ bukan minta tolong tapi nodong,” jelas Lola.

Belum cukup sampai di situ, Lola ternyata punya catatan buruk dalam menjalin hubungan dengan pria. Sebut saja Karso. Beuh dia sih lebih parah. “Sampai rokok pun minta ke saya. Nggak dikasih, marah-marah. Saya sih sebenernya nggak masalah ngasih duit kalau ada mah. Tapi caranya itu loh. Belum juga saya jadi istri dia, tapi udah kasar. Apalagi kalau saya jadi istri dia, mau jadi rempeyek kali saya ya,” tutur Lola.

Hmmm, terus Teh Lola maunya gimana? “Nggak tahu ya, bingung. Banyak cowok yang datang ke saya, ya tadi itu nggak ada yang benar. Ada juga yang maunya cuma buat tidur. Iya, masa malam-malam pengen ke rumah, mau jadiin saya guling hidup dia. Kan males ya. Emang saya cewek murahan. Kalau dipaksa menikah pun, saya takut hidup saya bakal susah. Bukannya nggak mau nikah, tapi kalau nikah cuma kejar status, supaya nggak di-bully masyarakat, ya buat apa? Nikah kan buat bahagia, bukan sebaliknya. Kalau sekarang saya ngerasa bahagia sendiri, terus kenapa saya harus memaksa diri menikah kalau ujung-ujungnya suaminya nggak benar, tukang selingkuh, nggak mau kerja maunya minta duit terus, dan main kasar. Iya kan?” Lola minta pembenaran.

Sampai sekarang, Lola mengaku, terus mencari pemilik tulang rusuknya. Meskipun ia tidak tahu harus mencari ke mana lagi. “Saya sih nggak menutup diri. Kalau ada cowok yang mau deket, entah dikenalin, atau lewat sosial media, saya jabanin. Mungkin karena itulah orang-orang nganggep saya tukang gonta-ganti cowok. Yaudah lah sekarang mah biarin ajah,” jelasnya.

Oke deh, didoakan saja, semoga dapat pasangan yang mendamaikan dan membahagiakan. By the way, Teh, galaknya dikurangi kali. Biar pepatah lelaki baik untuk perempuan baik itu terwujud gitu. Eh itu kan firman atau hadis ya kalau nggak salah. Wah, bakal jadi pegangan dong. Semangat Teh Lola. (Dila-Zetizen/Radar Banten)