Love Story: Ternyata Sama Saja!

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Dalam hidup memang harus memilih. Memilih kehidupan yang akan dijalani di masa depan. Pilihan sulit dalam hidup ini dialami Tina (25), bukan nama sebenarnya. Ia harus rela kehilangan Surya (26), bukan nama sebenarnya, lelaki yang empat tahun dicintainya.

Awal cerita bermula dari Surya yang mendekati Tina lima tahun lalu. Surya dan Tina sudah bertetangga sejak kecil, bahkan kedua orangtuanya pun sudah dianggap seperti saudara. “Bahkan kecil dulu, kita sering main bareng,” curhat wanita bertubuh sintal ini.

Tahun berlalu, Tina dan Surya pun tumbuh menjadi ABG (anak baru gede) yang mulai menginjak masa pubertas. Tina yang saat itu duduk di bangku SMA pun kaget, karena tiba-tiba Surya datang dan mengajak untuk berpacaran. “Awalnya saya sempet kaget dan nggak percaya. Karena kita kan sudah tetangga dan malu sampai ketahuan tetangga lainnya. Tapi karena saya juga punya rasa yang sama, ya sudah akhirnya kita pacaran,” tutur Tina sambil nostalgia.

Setelah resmi, Tina dan Surya pun menjalani masa pacaran dengan sembunyi-sembunyi. Ibarat pepatah, serapi-rapinya menyimpan bangkai pasti akan ketahuan juga. Begitupula dengan hubungan Tina dan Surya yang mulai ketahuan oleh masing-masing orangtua. “Ya saya langsung diomeli dan nggak boleh lagi berhubungan dengan Surya,” tambahnya.

Setelah ketahuan, hubungan keduanya pun  mulai dibatasi orangtuanya. Jangankan untuk mengobrol, untuk melihat wajahnya saja tidak boleh. Namun, karena perasaan yang terlanjur sayang, Tina dan Surya pun sedikit-sedikit mulai nakal dan bertemu di luar rumah. “Setelah ketahuan kalau ingin ketemu ya saya manfaatkan waktu pulang sekolah untuk ketemuan,” akunya.

Ia bilang, orangtuanya yang melarang untuk berhubungan dengan Surya. Itu karena didasari keluarga Surya yang terbilang dari ekonomi menengah ke bawah. “Memang kondisi keluarga Surya saat ini masih terbilang rendah dan sederhana. Ditambah dengan karakter ibunya yang bawel dan asal ceplos. Orangtua saya pun takut kalau terus berhubungan dengan Surya akan jadi masalah di kemudian hari,” tutur wanita yang saat ini tinggal di salah satu desa di Kabupaten Serang ini.

Namun karena terlanjur, bukannya tambah jauh justru semakin dilarang, hubungan Surya dan Tina semakin lekat. Perlahan Surya pun mulai berani main ke rumah Tina yang hanya seratus meter dari rumah. Karena tidak bisa dilarang lagi, hubungan keduanya terus berlanjut hingga Tina lulus di bangku sekolah menengah atas.

Dengan bermodalkan ijazah, Tina pun mengadu nasib ke ibukota. Namun lain dengan Surya. Jangankan lulus SMA, SMP saja tidak tuntas dan hanya menganggur di desa. Sebulan berlalu, hubungan keduanya masih berjalan seperti biasa. Namun dua bulan berikutnya, Tina mulai merasakan hidup  sesungguhnya. “Ya saya mulai berpikir, ternyata hidup yang sebenarnya itu baru dimulai dan sangat susah. Perlahan saya coba menghindar dari Surya. Karena saat itu saya sudah mulai berpikir materi buat hidup ke depannya,” ungkap Tina.

Ya namanya pengangguran, jangankan memberi makan untuk anak istri nanti. Untuk bekal hidupnya saja masih ngemis sama orangtua. Malu lah udah tua.

Namun Surya pun merasa ada yang aneh dengan perilaku Tina yang perlahan menghindar dan susah dihubungi. Karena penasaran, dengan modal nekat Surya mendatangi Tina di ibukota dengan bekal kenalan temannya yang juga ada di Jakarta. “Saya nggak nyangka kalau dia benar-benar mendatangi saya dan tidak mengabari saya dulu,” terang Tina heran.

Sepulangnya bekerja, Tina pun disambut dengan Surya yang kesal dengan perilakunya yang menghindar tidak jelas. Kesal dengan perilaku Tina, Surya pun marah dan minta penjelasan Tina. Dengan kondisi keduanya yang lelah, suasana pun memanas dan hubungan keduanya pun harus berujung kata putus.

Surya yang tidak terima dengan keputusan Tina meminta penjelasan dan berjanji membuktikan kalau dirinya mau berubah dan mulai mencari pekerjaan. “Karena kasihan ya saya coba kasih dia kesempatan untuk menepati janjinya,” katanya.

Karena Surya mampu menepati janjinya dan mulai bekerja sebagai kuli, akhirnya Tina dan Surya pun kembali berhubungan. Namun sayang, satu minggu bekerja, Surya ternyata sudah kembali lagi menganggur karena tidak siap dengan beban pekerjaanya. Tina pun kecewa dengan sikap Surya yang lembek dan tidak mau bekerja keras. Kemudian Tina dan Surya pun putus untuk yang kedua kalinya. Merasa tidak terima, Surya pun mencoba nekat dan terus mengganggu Tina. “Ya lama-kelamaan saya juga nggak nyaman dan benci. Saya sempat diteror, untungnya saya tinggal dengan kakak saya di Jakarta jadinya masih ada tempat buat berlindung,” akunya.

Seminggu berlalu dari teror Surya, Tina pun kemudian bertemu dengan Yana (26), bukan nama sebenarnya. Pertemuan yang tidak sengaja, kemudian berlanjut dengan seringnya berkomunikasi. “Ya maklum lah. Saat itu kan saya lagi butuh temen buat berbagi keluh kesah saya,” akunya.

Lama-kelamaan, hubungannya dengan Yana yang bekerja sebagai karyawan hotel membuat Tina nyaman dan seolah memberikan semangat setelah jenuh berhubungan dengan Surya yang pengangguran. Namun Surya pun tidak menghilang begitu saja, karena sesekali Surya mendatangi Tina berharap mau kembali padanya. Namun harapan Surya seolah pupus. Pasalnya, Tina yang terlanjur nyaman dengan Yana mulai berlanjut kehubungan serius berpacaran. Tiga bulan kemudian, Yana pun melamar Tina.

Orangtua Tina pun menerima permintaan Yana yang ingin menikahi putrinya. Dibandingkan Surya yang pengangguran, setidaknya Yana membuat perasaan orangtua Tina tenang karena telah memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup setelah menikah nanti. “Untuk sampai menikah ternyata tidak mulus. Karena Surya masih mengganggu dan pernah mengancam Yana kalau terus bersama Tina,” katanya.

Karena keduanya yang sudah serius menjalin hubungan, ancaman Surya pun tidak dihiraukan. Kemudian Tina dan Yana pun menikah. “Dua bulan pertama kita masih sama-sama bahagia tuh. Tapi dua bulan berikutnya ternyata kehidupan menikah tidak semanis apa yang saya bayangkan,” keluhnya.

Kesusahan rumah tangga mulai dirasakan Tina setelah empat bulan menikah karena ternyata Yana berhenti bekerja. Meski menyesal dengan keputusannya cepat menikah tanpa ada pertimbangan matang ke depan, namun Tina bersyukur. “Setidaknya suami saya yang sekarang mau bekerja keras cari uang sana-sini buat makan sehari-hari,” pasrahnya.

Yap. Bagaimanapun, kehidupan rumah tangga tidak semudah apa yang dibayangkan. Perlu ada pertimbangan matang dan modal hidup yang sesuai dengan kehidupan ke depan. Meski sedikit pelik, kehidupan rumah tangga yang dijalani Tina, ia yang memiliki anak laki-laki Ojan yang berusia sepuluh bulan. Anaknya inilah yang menjadi alasan Tina untuk tidak mengeluh dengan kehidupan yang serba pas-pasan. (Wivy-Zetizen/Radar Banten)